Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Namanya Gembul Dipanggil Mbul


__ADS_3

Candra tersenyum bahagia melihat kucing digendongannya ini. Seekor kucing dengan bulu berwarna putih ini sebentar lagi akan dia bawa pulang. Kucing itu baru saja di vaksin oleh Galang. Candra sudah memikirkan nama yang cocok untuk kucing kalem ini.


“Makasih, ya, Kak,” ucap Candra pada Galang. Wanita itu memasukkan kucingnya ke dalam box untuk kucing. “Gue pulang dulu.”


“Iya, nanti kalo gue ada waktu mampir ke studio lo.”


Candra mengacungkan jempolnya dan dia pun segera pamit. Wanita itu kembali ke studionya dengan membawa kucing barunya. Sesampainya di studio, Candra langsung memamerkan kucing barunya itu pada Ifi dan Nisa.


“Liat nih gue baru beli,” ucap Candra memperlihatkan kucing itu.


“B aja,” jawab Nisa.


Candra mendengus mendengar jawaban Nisa itu. Nisa benar- benar tidak bisa diharapkan. Kini Candra beralih pada Ifi, berharap semoga reaksinya sesuai harapan.


“Lo kasih nama siapa?” tanya Ifi.


“Gembul,” jawab Candra tersenyum lebar.


Candra membawa Mbul ke ruangannya untuk mengenalkannya. Sejak sampai tadi Candra mengajak Mbul untuk room tour di studionya. Wanita itu menurunkan Mbul dari gendongannya.


“Nih, Mbul. Ini ruang kerja Kakak,” ucap Candra. “Hmm, berarti gue butuh tempat buat Mbul di sini. Kalau di rumah Mbul bisa pakai barang warisan dari Ndut.”


“Nanti Kakak beliin kasur buat Mbul, ya,” ujar Candra pada Mbul yang sedang asyik menjilat kakinya.


Sepertinya Mbul cepat beradaptasi di tempat baru ini. Kucing gembrot berbulu putih itu aktif menjelajahi setiap sudut ruangan. Sementara Candra kembali pada pekerjaannya, tapi matanya sesekali melihat pada Mbul untuk mengecek keadaan kucing itu.


“Semoga Mbul memiliki akhlak yang luhur,” gumam Candra.


“Can, turun! Coba cek dulu gaun punya Nayla,” panggil Ifi dai lantai bawah.


“Iya, otewe gue,” jawab Candra. “Mbul tunggu di sini dulu, ya?”


Candra pun turun menemui Ifi. Wanita itu melihat gaun yang terpasang pada manekin, dia mengangguk- anggukkan kepala melihat hasil karya Ifi. Mata Candra awas memperhatikan tiap detailnya.


“Besok kabarin si Nayla biar dia bisa coba gaunnya,” ucap Candra, tapi seketika dia terdiam. “Gue tadi nggak sengaja liat Nayla di jalan.”


“Terus?” tanya Ifi menaikkan kedua alisnya.


“Dia jalan sama cowok.”


Mendengar ucapan Candra, kedua telinga Nisa langsung melebar. Matanya pun beralih pada Candra dan Ifi.


“Temennya kali. Lo lihat dimana?”


“Di depan warung deket pet shop. Tapi dia nggak lihat gue kayaknya.”


“Pet shop deket kampus itu?”

__ADS_1


“Iya. Eh? Itu kampus si Nayla. Iya kali itu temennya.”


Candra pun sudah masa bodoh tentang Nayla dan cowok yang bersama dengan gadis itu. Candra kembali fokus pada pekerjaannya lagi. Wanita itu berharap setelah dia mengerjakan gaun milik crazy rich Cirebon itu, pekerjaannya di Indonesia selesai, dengan begitu Candra akan langsung kembali ke Paris.


Hari sudah sore dan Candra memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Ifi dan Nisa juga sudah pulang tadi. Candra menghentikan laju motornya ketika merasakan ponselnya bergetar. Dia pun memutuskan untuk menepi, melihat siapa yang menelponnya.


“Halo, Vin?”


“Asyem, lo bisa pesen lewat B-food. Atau kalau nggak lo bisa nyuruh si Faris,” ucap Candra malas.


“Ckck, iya- iya. Ntuh warungnya dimana?”


Candra mendengus mendengar permintaan Vina. Wanita itu meminta Candra membelikannya nasi Padang dan boba. Sepertinya memang sahabatnya itu ingin mengerjainya. Namun Candra menurut dan segera mencari warung nasi Padang sesuai arahan dari Vina tadi.


...👠👠👠...


Akhirnya Candra sampai di rumah Vina setelah mendapatkan semua pesanan sahabatnya itu. Candra masuk ke rumah Vina dengan membawa serta Mbul, di dalam dia bertemu dengan Bunda dan disambut oleh Vina.


“Candra, apa kabar? Kenapa baru main ke rumah?” tanya Bunda memeluk Candra dengan tangan kanan aktif menepuk punggungnya.


“Baik, Bund. Ehehehe, maaf, Bund.”


“Mana pesenan gue?” Palak Vina.


“Kamu pesen apa, Vin?” tanya Bunda mengernyitkan dahinya.


Firasat Candra benar, Vina ternyata memang sedang mengerjainya. Wajahnya sudah dongkol menatap sahabatnya itu. Sementara Bunda hanya menggelengkan kepalanya dan pamit ke dapur.


“Lho? Lo beli kucing, Can?” tanya Vina melihat box kucing di tangan Candra.


“Iya, kenalin nih namanya Gembul panggil Mbul aja.”


“Lepas aja, biar main sama Mercy. Tapi akhir- akhir ini Mercy mageran.”


Candra pun mengeluarkan Mbul dan membiarkannya berkeliaran sesukanya. Sementara Candra dan Vina duduk lesehan di ruang keluarga.


“Si Oren masih idup?” tanya Candra.


“Udah mati, lo mau lihat kuburannya?”


“Nggak perlu.”


Rumah Vina terasa lebih sepi karena Eky dan Faris tidak berada di rumah. Eky bekerja di luar kota, sementara Faris kuliah di luar kota dan hanya beberapa kali saja pulang ke rumah. Suasana rumah ini benar- benar sangat berbeda, dulu tiap detik pasti telinga Candra akan mendengar suara ribut dari mulut Eky dan Faris jika dia sedang berkunjung ke rumah ini.


“Oh ya, si Juno tunangan kapan?”


“Entah, minggu depan kali.”

__ADS_1


“Lo nggak apa- apa?” tanya Vina.


“Gue kenapa? Gue malah bersyukur bisa bener- bener lepas dari tuh buaya.”


Vina menatap wajah Candra lama untuk benar- benar memastikan sahabatnya itu baik- baik saja. Sebenarnya Vina tahu jika Candra masih terbayang- bayang oleh sosok Juno. Hanya saja sahabatnya itu terlalu pandai menyembunyikannya. Vina menghembuskan napasnya.


“Terus Tayo gimana?”


“Masih belum nyerah dia,” jawab Candra seadanya.


“Dia beneran naksir lo? Gue kira dia suka sama Nina.”


“Gue juga kiranya begitu, ternyata yang naksir si Nina itu Bara.”


“Hah?” Kaget Vina dengan mulut menganga.


Cukup lama Candra berada di rumah Vina. Candra pun berniat pamit untuk pulang. Kini dia sedang mencari- cari keberadaan Mbul. Vina juga ikut membantu mencarinya. Candra refleks berteriak melihat Mbul dan Mercy berada di pojokkan.


“Vina! Kelakuan kucing lo!” Pekik Candra. “Untung Mbul udah di steril. Mercy bener- bener nggak ada akhlak. Udah tua juga, masih cari- cari yang muda.”


PLAK!


Vina menggeplak punggung Candra. “Kenapa nyalahin Mercy? Si Mbul aja yang kegatelan.”


“Gue nggak mau si Mbul kawin sama Mercy. Kasihan nanti Mbul jadi janda muda.”


“Sarap lo, udah sana bawa pulang si Mbul.”


Candra pun memasukkan Mbul ke dalam box dan berpamitan pulang. Hari sudah malam dan jalanan sudah sangat sepi. Di dalam box, Mbul terus mengeong.


“Sabar, Mbul. Nanti sampai rumah Kakak bagi makan,” ucap Candra.


Namun tiba- tiba ada sebuah motor menghadang jalan Candra, membuatnya spontan mengerem mendadak. Candra mengernyitkan dahinya ketika melihat orang yang mencegatnya berjalan menghampirinya.


“Turun, Mbak!” Perintah orang itu.


“Nggak mau!” jawab Candra.


BRAKK!


...🥊🥊🥊...


Tertanda: Otor Cangtip 😗😗😗


Penampakan Mbul


__ADS_1


__ADS_2