
Tangan Candra masih asyik mencoret- coret di atas kertas. Sementara Ifi dan Nisa sibuk dengan pekerjaan masing- masing di bawah sana. Candra masih kusyu’ dengan pekerjaannya, hingga suara cempreng Nisa memanggilnya. Wanita itu mendengus sebal.
Candra melongokkan kepalanya ke bawah untuk melihat mengapa Nisa sangat heboh di bawah sana. Mata Candra membulat melihat siapa yang datang berkunjung. Dia segera turun ke bawah dan hampir saja bertabrakan dengan Nisa yang sepertinya juga ingin memanggilnya.
“Aish, hampir aja gue gelinding ke bawah,” ucap Nisa dan segera berbalik turun.
“Tuh orang ngapain ke sini,” gumam Candra.
“Dia siapa, Can? Ganteng, mantan lo juga?” tanya Nisa penasaran.
“Ckck, bukan.”
Terlihat Ifi yang cuek, dia tetap mengerjakan pekerjaannya. Kini Nisa juga melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda, tapi dengan curi- curi pandang pada seorang pria yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya.
“Tayo? Lo mau ke sini nggak kabarin gue dulu,” ucap Candra.
Teo, pria itu yang sedang memperhatikan studio milik Candra pun menoleh. Pria itu tersenyum pada Candra, sementara tanpa disadari baik Nisa maupun Ifi menahan napas mereka. Pertahanan Ifi bahkan runtuh setelah melihat senyum mempesona Teo.
“Mau ke ruang gue?” tawar Candra.
“Nggak, lain kali aja. Gue cuma mau berkunjung, kebetulan klinik gue beberapa blok dari sini. Lo bisa mampir kalo senggang,” jawab Teo masih menebar senyum.
“Oke, kapan- kapan gue mampir.”
"Oh ya, nanti mau makan siang bareng?” tanya Teo.
“Hmmm, gue liat jadwal dulu, ya? Nanti gue kabarin kalo gue free.”
Teo hanya mengangguk dan dia pun segera pamit pada Candra juga pada dua wanita yang diam- diam memasang telinga mereka di belakang sana.
“Lo punya banyak temen ganteng nggak bagi- bagi,” celetuk Nisa pada Candra.
“Ckck, kalo lo liat penampilan Tayo zaman SMA kaget lo berdua. Beruntung dia bisa glow up.”
“Kenalin dong, Can. Gue bosen jomblo nih,” pinta Ifi.
__ADS_1
“Cari di Paris sana. Oh ya, Fi. Kemarin si Nayla ada titip pesen nggak? Chat gue semalem nggak di bales sama dia.”
“Hmm, nggak ada. Dia kemarin langsung pulang setelah Nisa berhasil ngibul.”
“Gitu? Ya udah nanti gue telpon aja deh.”
Candra kembali ke atas untuk melanjutkan aktivitasnya tadi. Namun sebelumnya, wanita itu mencoba untuk menghubungi Nayla. Candra merasa tidak enak pada gadis itu, entah mengapa Candra merasa jika Nayla adalah gadis yang baik. Punggung Candra menegak bgitu panggilan teleponnya dijawab oleh Nayla.
“Halo? Nayla?”
“Mbak Candra? Maaf, Mbak, semalem chatnya nggak aku baca. Bener- bener sibuk soalnya. Ah ya, sekarang Mbak Candra ada waktu? Ada yang mau Nayla bicarakan.”
Candra melirik jam di dinding sebelum menjawab. “Kalo cuma sebentar bisa, kita ketemu dimana?”
Candra diam mendengarkan Nayla menyebutkan sebuah tempat. Percakapan mereka diakhiri. Candra menghembuskan napasnya dan bersiap hendak bertemu dengan Nayla. Sebenarnya jadwalnya tidak terlalu padat hari ini. Ajakan Teo tadi pun sebenarnya langsung bisa Candra iya- kan, tapi entah mengapa Candra masih merasa canggung setelah sekian lama tidak bertemu dengan Teo. Apalagi hanya ada mereka berdua nantinya.
“Gue mau ketemu Nayla dulu,” pamit Candra pada dua temannya itu.
“Hati- hati di jalan, Can,” jawab Ifi.
Wanita itu memacu motornya menuju ke sebuah resto. Nayla meminta dirinya untuk bertemu di sebuah resto dekat dengan kampus gadis itu. Beberapa menit kemudian Candra sampai, dia segera masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh resto. Candra menemukan Nayla yang duduk seorang diri di pojok, gadis itu belum menyadari kedatangan Candra.
“Maaf, lama nunggu ya?” tanya Candra.
“Nggak, kok. Aku juga baru sampai, Mbak Candra mau pesan apa?”
“Kopi aja.”
Nayla memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi untuk Candra. Setelah pelayan itu pergi, Candra kembali fokus pada Nayla.
“Ah ya, kemarin lo ke studio, ya? Ada apa?” tanya Candra.
“Kemarin cuma mau mampir, kebetulan aku lewat sana. Ternyata Mbak Candra nggak ada di tempat. Mbak Candra sakit perut, ya? Jadi pulang awal.”
Mendengar pertanyaan Nayla, membuat tangan Candra mengepal dibalik meja. Ternyata Nisa membuat alasan seperti itu. Candra tersenyum kaku, lebih baik berbohong seperti itu daripada dia ketahuan sedang bersama calon tunangan seseorang.
__ADS_1
“Tapi bukannya kemarin Mbak Candra keluar sama Kak Juno?” tanya Nayla.
“Silahkan pesanannya,” interupsi pelayan meletakkan secangkir kopi di meja yang langsung di minum Candra untuk membasahi tenggorokkanya.
Nayla masih menuntut jawaban dari Candra. Entah darimana Nayla mengetahui keberadaannya kemarin. Apakah Juno yang bercerita pada gadis itu? Benar- benar cari mati pria itu. Candra menatap Nayla takut- takut. Bagaimana pun Candra tidak mau di cap sebagai pelakor.
“Uhm, iya. Kita memang keluar sebentar, sekedar say hi karena udah lama nggak ketemu. Hmm, lo udah tau kalo gue kenal Juno?” tanya Candra hati- hati dalam hatinya berharap jika Juno tidak membeberkan bagaimana hubungan mereka dulu.
“Kak Juno sudah cerita, Mbak. Kak Juno mantan Mbak Candra, kan?”
‘Astaga,’ batin Candra menangis.
“Ah, hahaha iya. Tapi lo nggak perlu khawatir, gue sama dia udah bener- bener selesai. Gue nggak ada perasaan sama dia.”
“Tapi sepertinya Kak Juno nggak begitu, dia masih menunggu Mbak Candra,” ucap Nayla, ekspresinya tidak menunjukkan raut sedih malah terkesan santai.
Tentu hal itu membuat Candra mengernyitkan dahi. Mengapa raut wajah yang ditunjukkan Nayla sangat tenang? Tidak sedih maupun merasa marah karena mengetahui calon tunangannya bersama wanita lain.
“Kak Juno meminta pertunangan kita batal,” ucap Nayla meminum minumannya.
Candra menelan ludahnya susah payah, kenapa Nayla terlihat menakutkan di matanya? Seperti bukan Nayla yang polos dan lugu ketika pertama kali mereka bertemu. Lidah Candra mendadak kelu, tidak tahu harus menjawab apa.
“Memang awalnya kita hanya dijodohkan,” ucap Nayla mengungkapkan sebuah rahasia. “Nggak ada perasaan di antara kita.”
“Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai menerima. Susah payah mencoba meluluhkan Kak Juno yang sedingin es.”
Candra masih setia mendengarkan semua ungkapan Nayla. Dibalik meja, tangan Candra sudah mengepal kuat. Posisinya saat ini benar- benar bagaikan seorang pelakor. Umpatan juga Candra tujukan pada Juno yang benar- benar tidak tahu diri.
“Bantu Nayla meluluhkan Kak Juno,” pinta Nayla menatap mata Candra.
Candra menelan ludahnya susah payah. Bagaimana ini? Bahkan dia sudah tidak mau berurusan dengan Juno. Setelah gaun milik Nayla selesai, Candra sudah berencana langsung kembali ke Paris. Mengerjakan gaun milik Vina di sana, semua itu Candra lakukan agar pikirannya tenang. Bertemu dengan Juno atau Teo beberapa saat yang lalu saja sudah mampu membuat pikirannya kacau.
“Gimana cara bantunya?” tanya Candra meringis.
...🥊🥊🥊...
__ADS_1
Tertanda: Otornya kesiangan 😗😗😗