Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Tuhan Kalian Beda


__ADS_3

Juno keluar dari ruangannya dengan ponsel berada di telinga kirinya. Sementara di meja sekretaris ada Sari dan Bella yang sedang sibuk dengan aktivitas masing- masing. Juno berhenti di depan meja sekretarisnya.


“Baik, Pak. Saya segera ke sana,” ucap Juno mengakhiri percakapan di telepon. “Sari, ikut gue temuin Pak Firman sekarang!” perintah Juno.


“Eh? Tapi siapa yang nanti jaga di sini? Si Bella masih baru, Pak. Masih training,” jawab Sari.


Juno menggaruk pelipisnya, membenarkan perkataan Sari. Dia tidak ingin Bella kembali mengacau seperti beberapa hari yang lalu.


“Ya udah, lo ikut gue!” Tunjuk Juno pada Bella, lalu pria itu langsung pergi dari sana.


Sementara Bella masih diam di tempat, hingga Sari menyenggol lengan perempuan itu. Sari menunjuk Juno yang sudah berdiri di depan pintu lift dengan dagunya.


“Hah?” tanya Bella masih belum paham, ternyata dari tadi perempuan itu tidak mendengarkan obrolan Juno dan Sari.


“Cepet Bella! Jangan lelet!” teriak Juno dari depan sana.


Bella pun meraih tasnya dan segera berlari menghampiri Juno yang wajahnya sudah tidak enak dipandang. Sepertinya hubungan atasannya dengan sang istri belum juga membaik. Sari hanya bisa geleng- geleng kepala.


Juno dan Bella pun menuju ke sebuah resto tempat pertemuannya bersama dengan klien. Selama perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Hal itu membuat Bella salah tingkah, dia tidak suka keheningan seperti ini.


“Lo kalo besok masih pakai baju kurang bahan, gue pindahin lo ke divisi Pak Jamal,” ucap Juno, matanya masih fokus pada jalanan di depannya.


Mendengar hal itu, cepat- cepat Bella menutupi pahanya yang terekspos dengan tas jinjingnya. Wajah Bella memerah menahan malu.


“Maaf, Pak,” gumam Bella lirih. Namun sama sekali tidak ditanggapi oleh pria itu.


Beberapa menit kemudian keduanya sampai di sebuah resto mewah. Bella memperhatikan resto mewah ini, lalu dia berjalan mengekori Juno dari belakang yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.


“Reservasi atas nama Pak Firman,” ucap Juno pada seorang pelayan di sana.


“Baik, mari ikuti saya,” jawab pelayan itu.


Ternyata seorang bernama Pak Firman itu belum datang. Akhirnya Juno dan Bella pun menunggu kedatangan beliau. Juno meminta Bella untuk memesan makan terlebih dulu, karena memang ini sudah waktunya makan siang.


“Mbak, saya pesan juga yang ini. Dibungkus dan nanti akan ada B-food yang ambil,” ucap Juno pada seorang pelayan.


“Buat siapa, Pak? Sari?” tanya Bella.


“Buat istri gue,” jawab Juno mengembalikan buku menu pada pelayan itu.

__ADS_1


Kemudian Juno meraih ponselnya, dia berniat mengabari Candra jika ia mengirim makan siang untuknya. Tanpa sepengetahuan Juno, diam- diam Bella mengambil gambar pria itu. Bella tersenyum melihat hasil jepretannya tadi. Wajah tampan Juno yang candid terlihat sangat pas dari angle yang Bella tangkap.


“Silahkan pesanannya. Selamat menikmati,” ucap pelayan itu.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Bella tersenyum manis pada pelayan itu. “Kliennya kapan datang, Pak?”


“Nggak tau, dia ngomong tadi masih di jalan,” jawab Juno mulai menikmati makanannya.


‘Gue berasa lagi kencan sama Pak Juno,’ batin Bella tersenyum samar.


Juno mengangkat tangannya melihat kedatangan Pak Firman. Pria itu berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Bella. Juno tersenyum dan segera menyalami kliennya itu. Makan siang mereka sudah selesai dan meja sudah dibersihkan, hanya menyisakan dua cangkir berisi teh.


“Silahkan duduk, Pak.”


“Maaf, Pak Juno. Jalanan macet tadi. Ternyata Pak Juno masih sangat muda, ya?”


Juno hanya tersenyum dan mempersilakan Pak Firman untuk duduk. Agar pertemuan ini segera dimulai. Pak Firman mengangguk dan duduk, lalu pandangannya beralih pada Bella.


“Bella?” tanya Pak Firman, matanya membulat melihat perempuan itu duduk di sebelah Juno.


“Anda mengenal sekretaris saya, Pak?” tanya Juno. Tatapannya menatap bergantian antara Bella dan Pak Firman.


Sementara Juno hanya mengangguk sebagai jawaban, ekspresinya masih bingung dengan situasi saat ini.


“Papi, bahas nanti aja,” ucap Bella meringis, merasa tidak enak.


“Nggak bisa, kamu kabur dari rumah dan bilang mau hidup mandiri…”


“Papi,” potong Bella.


Pak Firman menghembuskan napasnya dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Beliau masih menatap tajam pada Bella yang bergerak gelisah, sedangkan Juno bingung dengan situasi tak terduga ini. Juno baru mengenal Pak Firman, beliau adalah pengusaha gym ternama di Jakarta dan telah memiliki banyak cabang. Bahkan hampir di seluruh Indonesia. Pak Firman ingin bermitra dengan perusahaan Juno untuk pembelian peralatan olahraga guna tempat gym- nya.


“Terima kasih, Pak Firman. Semoga kedepannya kita dapat kembali bekerjasama,” ucap Juno setelah pertemuan mereka menemui titik terang. Pak Firman menyetujui kerjasama mereka dan akan segera membeli peralatan olahraga dari perusahaan milik Juno.


“Sama- sama. Ah ya, saya juga titip putri saya. Jangan sungkan marahi jika dia berbuat salah,” ucap Pak Firman.


“Papi,” kata Bella merasa tidak nyaman.


“Papi akan izinkan kamu bekerja jika di perusahaan milik Pak Juno. Oh ya, kamu sesekali pulang. Kasihan Mami kamu di rumah.”

__ADS_1


Bella hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Pak Firman berdiri dan berpamitan pada mereka untuk pergi lebih dulu.


“Saya permisi dulu, Pak. Tolong jaga putri saya,” pamit Pak Firman.


“Papi,” kata Bella memperingatkan.


Pak Firman hanya mengedipkan matanya untuk menggoda putrinya itu. Sedangkan Juno menatap bingung pada dua orang itu.


Setelah pertemuan tadi, Juno dan Bella pun segera kembali ke kantor. Tanpa sepatah katapun, Juno masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Bella kembali ke balik meja kerjanya. Wajah perempuan itu terlihat sangat cerah, membuat Sari menatap bingung padanya.


“Gimana tadi? Lancar?” tanya Sari.


“Lancar, kok,” jawab Bella masih mesem- mesem.


“Lo kenapa sih? Sakit, ya?”


“Ri, gue boleh jatuh cinta nggak sih?” tanya Bella menatap Sari dengan wajah serius.


“Yaa, bolehlah. Emang siapa yang mau larang?”


“Kalo jatuh cinta sama pria yang udah punya istri gimana?”


“Cari perkara namanya,” jawab Sari dengan ekspresi datar. “Jangan bilang…”


“Iya, Ri. Pak Juno,” potong Bella menangkup wajahnya yang bersemu merah.


Sari ternganga mendengar penuturan Bella barusan. Dia tidak salah dengar, kan? Sari mengorek telinganya, berharap jika dia salah dengar.


“Lagian Pak Juno nggak bakal mau sama lo,” ucap Sari geleng- geleng kepala.


“Hah? Kenapa?”


“Selain Pak Juno cinta mati sama Bu Candra. Kalian juga beda. Pak Juno ke gereja dan lo ke masjid. Intinya, Tuhan kalian beda,” jelas Sari menohok.


Bella manyun mendengar ucapan Sari. “Tapi nggak ada salahnya gue usaha dulu.”


“Lo mau kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi? Jangan taruhin nyawa lo untuk sesuatu yang sia- sia,” kata sari menasehati.


...👠👠👠...

__ADS_1


Tertanda: Otornya Njelungup 💃💃💃


__ADS_2