
Hari Minggu ini Candra di rumah seorang diri. Sedangkan Juno tadi pergi ke tempat latihan untuk mengecek anak- anak komunitasnya yang sebentar lagi akan ada pertandingan tinju. Sebenarnya tadi Juno sudah mengajak Candra untuk ikut, tapi dia sedang sangat malas. Namun kini wanita itu malah menyesal tidak ikut Juno. Candra hanya berguling- guling di tempat tidurnya sejak pagi tadi, terkadang juga tangannya men- scroll story WA.
“Kenapa story si trio macan kompak banget sih?” gumam Candra yang baru saja melihat story WA milik Ifi, Novi, dan Nisa. Ketiga orang itu kompak membuat story dengan memamerkan wajah pacar masing- masing.
“Jadi kangen mulut bawelnya Nisa.”
Candra tebangun dari tidurnya, mendadak dia ingin makan rujak. Dia terdiam memikirkan sesuatu. Namun tidak lama sebuah ide terlintas dibenaknya, Candra tahu harus kemana ketika ingin makan salad buah khas Indonesia itu. Wanita itu pun segera menyambar kunci motornya dan menggas motornya menuju rumah seseorang.
Tidak butuh waktu lama Candra sampai di sebuah rumah. Dia sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya. Candra tersenyum sumringah ketika tahu rumah itu berpenghuni. Dengan mengetuk pintu sebanyak tiga kali, sang pemilik rumah membukakan pintu.
“Kebiasaan lo, Can. Udah disediain bel juga masih ketuk pintu,” ucap Lia, di belakang tubuh wanita itu ada Gara yang mengintip dengan takut- takut.
“Hai Gara,” sapa Candra langsung membawa bocah berusia kurang lebih dua tahun itu ke dalam gendongannya. “Weekend nggak liburan kalian?” tanya Candra pada Lia.
“Nggak, Bapaknya ada acara kantor. Tumben lo hari Minggu main ke sini? Biasanya juga mojok.”
“Gue mau ajak lo buat rujak.”
Lia menggelengkan kepalanya. “Feeling lo kuat banget, ya? Tau aja gue baru dapet kiriman buah dari orang tuanya Anton.”
“Nah, pas banget. Sini gue buatin sambelnya, lo potong- potong buahnya,” ucap Candra semangat, dia pun menurunkan Gara.
Bocah itu langsung berlari menuju mainannya yang berserakan di depan televisi. Sementara Candra sudah berjalan menuju dapur.
“Gara main dulu di sini, ya? Mami mau ke dapur dulu,” pamit Lia sebelum meninggalkan Gara. Walau begitu Lia masih bisa mengawasi putranya dari dapur.
“Heh! Nggak kepedesan itu?” tanya Lia membulatkan matanya melihat beberapa cabai yang di letakkan di cobek.
“Masa segini pedes?” tanya Candra polos.
“Itu cabe setan yang lo masukin.”
Beberapa menit kemudian rujak yang mereka buat pun jadi. Keduanya memakan bersama di ruang keluarga rumah Lia. Candra dan Lia memang sering sekali membuat rujak, apalagi saat Lia hamil dulu. Wanita itu memang sangat suka makanan itu.
“Eh iya, beneran tuh si Vina isi lagi?” tanya Lia.
“Iya, udah masuk bulan ke empat. Huh gue kapan, ya?”
“Sabar, Can. Pasti nanti di kasih kok,” hibur Lia.
“By the way si Gara nggak mau adek?” tanya Candra memperhatikan bocah itu yang sedang asyik bermain dengan mobil- mobilannya.
__ADS_1
“Mau dong, lagi proses ini.”
“Tapi Gara masih dua tahun umurnya. Nggak apa- apa emang?”
“Sebenernya nggak masalah sih, bahkan kita udah program sejak umur Gara masih setahun. Entah sampai sekarang belum tembus.”
“Lucu kali ya kalo kita bertiga isi barengan,” kata Candra terkekeh dan memasukkan mangga muda ke dalam mulutnya. “Mertua lo nanem mangga sendiri, ya?”
“Iya, setelah pensiun mereka jadi hobi tanaman.”
“Enak, ya? Kalo pengen buah bisa langsung petik sendiri.”
Setelah puas makan rujak, Candra pun pulang. Dia takut jika Juno sudah pulang terlebih dulu, karena kunci Candra yang membawa. Candra tersenyum senang melihat barang bawaannya. Tadi Lia memberinya mangga muda dan sisa sambal rujak untuk di bawa pulang Candra.
“Bisa buat rujak lagi nanti,” gumam Candra tersenyum.
Candra melihat jam di dinding, hari sudah siang dan dia belum memasak untuk makan siang nanti. Candra pun mengambil ponselnya dan berniat menelpon Juno.
“Halo?” sapa suara diseberang sana.
“Kamu pulang kapan?” tanya Candra.
“Sore kayaknya, Yang. Kamu makan di rumah sendiri nggak apa- apa, kan?”
“Iya, aku pulang nanti sore.”
“Oke.”
...👠👠👠...
Candra terbangun dari tidur siangnya. Perutnya terasa tidak enak. Dia pun menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian Candra keluar dari kamar mandi, matanya melirik pada jam di dinding. Jarum jam itu menunjukkan angka lima. Juno belum pulang.
“Apa gue kebanyakan makan rujak, ya?” gumam Candra.
Wanita itu berjalan menuju walk in closet, hendak mengambil baju. Candra berniat hendak mandi sore. Dia mencari- cari pakaian yang hendak dipakainya hari ini.
“Lho? Kok ternyata masih banyak?” tanya Candra terkejut melihat stok pembalutnya yang masih banyak di simpan di salah satu rak.
“Sayang? Kamu dimana?” tanya Juno memanggil, pria itu berjalan masuk ke dalam kamar.
“Di sini. Kamu mau mandi duluan?” tanya Candra yang masih belum beranjak.
__ADS_1
“Kamu udah mandi?” tanya Juno balik, pria itu kini sudah menemukan sang istri.
“Belum. Kamu dulu nggak apa- apa,” jawab Candra.
“Bar…”
“Jun,” panggil Candra menghentikan ucapan Juno. Wanita itu menoleh pada Juno yang mengernyitkan dahinya. “Aku terakhir datang bulan kapan, ya?” tanya Candra dengan wajah serius.
“Memangnya kenapa?”
“Ini stok pembalut kok masih banyak. Kemarin kamu beli lagi?” tanya Candra. Namun Juno menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Akhirnya Juno yang mandi terlebih dulu, sementara Candra lagi- lagi ngemil mangga muda yang tadi diberi Lia. Sepertinya Candra lupa dengan kondisi perutnya tadi yang terasa mules. Namun baru saja lupa, rasa mules itu kembali muncul. Candra pun meletakkan mangganya dan segera berlari ke kamar mandi di bawah yang dekat dengan posisinya.
“Astaga, masa gue diare? Tapi ampasnya nggak keluar,” gumam Candra frsutasi.
Candra keluar dari kamar mandi, tapi baru beberapa langkah perutnya terasa eneg. Bukan lagi mules seperti tadi. Wanita itu pun kembali masuk ke dalam kamar mandi dan berusaha memuntahkan isi perutnya.
“Kamu kenapa, Yang?” tanya Juno yang tiba- tiba datang, tadi pria itu mendengar suara Candra dari lantai atas. Juno pun mengurut tengkuk Candra.
“Nggak tau, tadi perutku mules banget. Sekarang malah mual,” jawab Candra, dia segera mencuci mulutnya.
“Mau beli obat? Atau periksa?”
Candra yang sedang mengelap mulutnya mendadak terdiam. Dia menoleh pada Juno dengan mata yang membulat.
“Kenapa? Sakit perutnya?” tanya Juno mengusap perut Candra. “Kamu kebanyakan makan mangga muda mungkin. Dapet darimana mangganya?”
“Jun, kayaknya besok kita harus periksa ke dokter kandungan,” ucap Candra tidak mempedulikan pertanyaan Juno.
“Hah?”
“Aku udah inget sekarang,” kata Candra.
...🥊🥊🥊...
Untuk Readers dan Otor lain yang mungkin kebetulan mampir di lapak remahan Otor Cangtip ini. Otor Cangtip mau minta doa kalian untuk sahabat, teman, sekaligus adik Otor yang saat ini sedang sakit dan berjuang melawan sakitnya.
Namanya Nisa, mungkin beberapa dari kalian taunya Cebol. Nama akun dia di NT dan MT Cebol.
Juga untuk kalian yang sedang berjuang melawan sakit, tetap semangat dan jangan menyerah.
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya untuk Readers dan Otor yang telah mendoakan Nisa dan juga orang-orang yang saat ini sedang berjuang 🙏🙏🙏
Salam hangat Otor Cangtip.