
Juno berkacak pinggang dengan tatapan tajam menatap pada Candra. Sementara Candra memasang wajah polos tanpa dosa. Juno hampir saja luluh dengan tatapan istrinya itu, tapi dia terus bertekad untuk memasang wajah galaknya.
“Kenapa kamu pulang sama Teo?” tanya Juno ketus.
“Tadi kebetulan Tayo di sana, terus tawarin mau antar pulang.”
“Kan, aku minta kamu pesen B-car.”
“Lebih aman pulang bareng Tayo,” gumam Candra.
“Lain kali jangan pulang bareng dia lagi,” ucap Juno masih dengan tatapan tajamnya.
Candra mendengus pelan, harusnya dia yang marah. Juno tidak menceritakan perihal Nayla padanya.
“Kamu denger aku nggak?”
“Iya, Mas,” jawab Candra mengangguk- anggukkan kepalanya.
“Hah?”
“Aku boleh panggil kamu ‘Mas’?” tanya Candra polos.
‘Astaga! Tahan, Jun,’ batin Juno hampir saja emosinya luruh melihat wajah istrinya yang menggemaskan itu.
“Terserah mau panggil apa aja. Tapi tetep aku nggak izinin kamu sama cowok lain, ngerti?”
“Aku laper, Mas,” kata Candra tidak mempedulikan ucapan Juno tadi.
“Aku belum selesai ngomong…”
CUP!
Candra memberikan kecupan singkat di bibir Juno, membuat pria itu menghentikan ucapannya dan menatap Candra terkejut.
“Ayo makan.” Candra mengedip- ngedipkan matanya.
Pertahanan Juno luntur seketika. Semua amarah yang tadi menguasainya hilang entah kemana. Pria itu merosot jatuh terduduk, sedangkan Candra menatap datar pada suaminya yang teramat lebay itu.
“Ayo makan!” ajak Candra lagi menarik tangan Juno agar berdiri.
“Ayo. Kamu mau makan apa?” tanya Juno bersemangat.
“Aku pengen makan nasi goreng pete,” jawab Candra yang tidak kalah semangatnya.
“Sejak kapan kamu suka pete?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.
“Nggak tau. Cepet masakin aku nasi goreng pete.”
__ADS_1
Juno membulatkan matanya. Dia harus memasak sendiri nasi gorengnya? Hah? Bercanda, ya? Juno menatap wajah Candra yang terlihat sedang menunggunya.
“Di rumah mana ada pete,” kata Juno mencari alasan.
“Ada. Kemarin aku beli di Mang Eko,” ujar Candra.
“Kamu yakin aku yang masak? Kalo nanti wajannya bolong gimana?”
Candra mengubah ekspresinya seketika, lalu dia menatap pada Juno yang wajahnya terlihat cemas.
“Iya ya. Ya udah beli aja. Kamu beli nasi goreng pete, aku tunggu di rumah.”
Candra pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Juno mendengus melihat tingkah istrinya itu.
“Ternyata lebih sayang wajannya,” gumam Juno, tangannya menyambar kunci motor milik Candra dan dia keluar dari kamar.
Kurang lebih satu jam lamanya Candra menunggu kedatangan Juno membawa nasi goreng pete. Candra sudah sangat lapar di rumah, dia mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.
“Sabar, ya? Sebentar lagi nasi gorengnya datang,” gumam Candra.
Tidak lama kemudian Candra mendengar suara deru mesin motor memasuki halaman depan. Dengan semangat Candra berlari kecil menuju depan. Wajahnya sumringah melihat kedatangan Juno membawa bungkusan plastik putih.
“Sayang, maa…”
Ucapan Juno terhenti ketika dengan cepat Candra merebut plastik itu dari genggaman Juno. Lalu tanpa mempedulikan pria itu, Candra langsung masuk ke dalam rumah. Melihat hal itu, Juno hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pria itu segera menghampiri Candra yang tadi sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
“Pelan- pelan makannya, Yang,” peringat Juno duduk di sebelah Candra.
“Kamu mau, Mas?” tanya Candra menyodorkan sesendok nasi goreng dengan topping pete.
“Nggak. Udah kamu makan aja. Makan yang banyak, biar dedeknya sehat,” jawab Juno, tangannya mengelus perut Candra.
Candra tersenyum dan melanjutkan aktivitas makannya. Sedangkan Juno dengan sabar duduk di sebelah istrinya, menopang dagu menonton Candra yang sedang makan.
Candra menepuk- nepuk perutnya, dia merasa sangat kenyang. Setelah mencuci peralatan makannya, dia pun masuk ke kamar dimana Juno berada. Pria itu sudah berbaring di tempat tidur. Namun matanya terbuka saat merasakan goncangan, lalu di sebelahnya sudah ada sang istri yang sedang menatapnya lekat.
‘Jangan sampai dia cium gue,’ batin Juno menelan ludahnya.
“Udah malam. Tidur, Yang,” pinta Juno.
‘Walaupun udah gosok gigi, tapi tetep bau. Gue harus cepet- cepet nidurin dia,’ batin Juno.
“Nyanyiin lagu, Mas,” pinta Candra.
“Hah? Lagu apa?” tanya Juno.
“Dalan Liyane,” jawab Candra menyebutkan sebuah judul lagu.
__ADS_1
“Puter lewat HP aja, ya?”
“Nggak mau, aku maunya kamu nyanyiin langsung,” jawab Candra, kepalanya mendusel ke dada bidang Juno.
“Suara aku jelek. Kalo nanti anak kita pendengarannya terganggu gimana?”
“Anak kamu yang minta Bapaknya nyanyi,” kata Candra menunjukkan ekspresi paling melasnya.
Akhirnya Juno menyerah, dia pun menyanyikan lagu Dalan Liyane seperti permintaan sang istri. Walau dengan suara pas- pasan dan logat bahasa Jawa yang amburadul, Juno tetap menyanyikannya dengan sepenuh hati.
...👠👠👠...
Kurang lebih pukul dua dini hari, tidur Juno terganggu oleh ulah Candra. Istrinya itu tiba- tiba saja membangunkannya. Juno yang baru terlelap selama beberapa jam itu mau tidak mau terbangun dan menanyakan apa mau Candra saat ini.
“Aku pengen mangganya Bu Ijah,” jawab Candra.
“Hah? Jam segini?” tanya Juno kaget juga sedih.
“Iya. Mau, ya? Kasihan nanti anak kita ngiler.”
“Hubungannya apa?” tanya Juno mengernyitkan dahi, dia tidak paham.
“Kan, yang pengen itu sebenernya anak kita. Bukan aku, nanti kalo nggak diturutin pas lahir ileran gimana?”
“Terus harus sekarang aku petiknya? Bu Ijah juga masih tidur jam segini.”
“Emang kenapa kalo Bu Ijah masih tidur?”
“Kamu nyuruh aku nyolong mangga?” tanya Juno melotot.
“Nggak nyolong kok. Besok aku bakal ngomong sama Bu Ijah kalo semalem kamu minta mangganya.”
Lagi- lagi Juno menuruti kemauan absurd istrinya itu. Dengan berbekal senter, Juno berjalan menyusuri jalanan perumahan yang sudah sangat sepi. Sebenarnya takut juga jika tiba- tiba di tengah jalan bertemu dengan sosok tak kasat mata.
“Nggak apa- apa, demi anak,” ucap Juno menyemangati dirinya sendiri.
Juno sampai di depan rumah Bu Ijah dan pohon mangga berada di depan matanya. Pria itu pun memanjat pagar rumah dan mencoba memanjat pohon mangga. Pohon mangga milik Bu Ijah memang sedang berbuah lebat.
“Jadi ini yang namanya ngidam,” gumam Juno berusaha meraih buah mangga.
Juno tersenyum puas setelah mendapatkan satu buah mangga yang berhasil dipetiknya. Lalu matanya beralih pada satu buah lagi yang tidak jauh dari jangkauannya.
“Maling!” teriak seseorang mengagetkan Juno. Juno yang kaget itu spontan terjatuh dari pohon, sorot senter pun menyilaukannya.
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otor Kyut
__ADS_1