Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Kejutan


__ADS_3

“Kamu ngapain sih ikutin aku terus?” tanya Candra yang sudah sangat dongkol pada Juno yang daritadi mengekor.


“Belum selesai datang bulannya?” tanya Juno yang ekspresinya terlihat seperti anak kucing kecemplung got.


“Astaga baru juga tiga hari,” jawab Candra gemas, ingin rasanya menimpuk sang suami dengan ulekan.


Sementara Bu Felin yang berada tidak jauh darisana menggelengkan kepala mendengar percakapan pengantin baru itu. Candra benar- benar malu dengan tingkah Juno yang blak- blakkan itu, mulutnya pun tidak ada filter.


“Kalian mau honeymoon?” tanya Bu Felin dengan tangan sibuk memotong sayuran.


“Iya dong.” Bukan Candra yang menjawab, melainkan Juno dengan semangat empat lima.


“Dimana? Berapa hari?”


“Belum tau. Nanti Juno bahas lagi sama Candra, lagian Candra belum selesai,” jelas Juno dengan wajah lesu.


“Ckck, sabar kenapa sih? Lagipula kenapa kamu buru- buru?” tanya Bu Felin.


“Ya, biar Mama cepet gendong cucu.”


Candra hanya mendengarkan obrolan anak dan ibunya itu. Dia sedang fokus dengan penggorengan di depannya.


Setelah sarapan, Juno mengajak Candra ke suatu tempat. Berkali- kali wanita itu menanyakan akan pergi kemana mereka, tapi Juno tidak mau menjawab. Bukan apa- apa, hanya saja Candra takut jika diajak ke tempat yang aneh- aneh. Dia memperhatikan jalanan yang terasa tidak asing baginya.


“Lho? Ini perumahan Lia sama Anton?” tanya Candra dan spontan menoleh pada Juno. “Kita mau ke rumah mereka?”


Juno tersenyum. “Nggak. Nanti aku tunjukin sesuatu.”


Tebakan Candra memang benar, mereka melewati blok rumah Lia dan Anton. Mobil yang dikendarai Juno masih melaju beberapa blok dan kemudian berbelok, lalu berhenti di sebuah rumah.


“Ayo turun,” ajak Juno.


“Ini rumah siapa?” tanya Candra masih memperhatikan rumah di depan mereka.


“Turun dulu, bukain gerbangnya. Nanti aku jelasin.”


‘Kurang ajar,’ umpat Candra dalam hati. Namun dia juga menuruti perintah suaminya.


“Kok bagus banget rumahnya?” gumam Candra setelah melihat rupa rumah itu di balik gerbang.


Setelah gerbang terbuka, Juno segera memasukkan mobilnya. Lalu turun dan mengajak Candra untuk masuk ke dalam.


Candra ternganga melihat interior di dalam rumah. Lalu Juno menjelaskan jika rumah ini adalah rumah milik mereka. Beberapa bulan yang lalu sebelum mereka menikah, Juno sudah menyiapkan rumah ini. Candra makin ternganga setelah mendengar penuturan sang suami.


“Kalo kamu nggak jadi nikah sama aku gimana?” tanya Candra, matanya masih menatap keseluruhan ruang tamu ini.


“Nggak mungkinlah. Pasti aku nikahnya sama kamu,” jawab Juno dengan tampang percaya diri. Sementara Candra mencibir.

__ADS_1


“Ini perabotannya udah lengkap semua? Siapa yang dekor?”


“Semuanya udah siap, tinggal huni. Baju- baju kamu juga udah rapi di lemari.”


"Hah?”


“Kemarin aku nyuruh pacarnya Damian buat kemas baju- baju kamu,” jelas Juno tersenyum manis. “Ayo ke atas.”


Juno merangkul pinggang Candra dan menuntun wanita itu menuju lantai dua, dimana ada beberapa kamar di sana.


“Banyak amat kamarnya?” tanya Candra membuka setiap ruangan berpintu itu.


“Buat anak kita nanti. Pasti butuh banyak kamar nantinya,” jawab Juno.


Mendadak perasaan Candra tidak enak. “Berapa anaknya?”


“Lima,” ucap Juno tersenyum lebar.


Room tour mereka masih berlanjut. Keduanya masuk ke dalam kamar utama, kamar itu tertata rapi. Candra berkeliling kamar itu dan memasuki sebuah ruang kecil yang ternyata walk in closet. Lagi- lagi Candra dibuat ternganga oleh ruangan ini. Baju, sepatu, dan aksesoris lainnya sudah tertata rapi di tempat ini.


“Perasaan baju gue nggak segini banyaknya,” gumam Candra.


“Aku yang beli,” jawab suara di belakang Candra, membuat wanita itu terkejut.


“Kenapa beli sih? Sayang duitnya.”


“Biar kelihatan penuh. Kalo penuh, kan, enak dipandang,” jawab Juno memeluk Candra dari belakang.


“Laper,” jawab Juno.


“Ya udah, ayo makan.”


Candra berusaha melepaskan pelukan Juno. Namun pria itu tidak melepaskannya, tentu hal itu membuat Candra bingung.


“Jadi makan nggak?” tanya Candra mendengus.


“Bukan laper itu, tapi…”


Juno tidak melanjutkan ucapannya, pria itu langsung mencium bibir Candra. Membuat Candra yang belum siap membulatkan matanya dan hampir saja terjungkal ke belakang. Namun setelahnya, Candra memejamkan matanya. Menikmati ciuman Juno yang makin lama semakin dalam.


...👠👠👠...


Setelah dari rumah baru, Candra memutuskan untuk mampir ke rumah Lia dan Anton. Tadi Candra sudah mengirim chat, menanyakan apakah keduanya berada di rumah dan kebetulan dua orang itu berada di rumah. Candra dan Juno pun segera ke sana.


“Lo darimana emang? Kenapa tiba- tiba bisa di daerah sini?” tanya Lia.


“Gue tetangga baru lo,” jawab Candra nyengir.

__ADS_1


“Hah?”


“Lusa kita mau pindah ke blok L,” jelas Candra.


“Heh? Beneran?” tanya Anton.


“Beneran elah, lusa kalian dateng aja.”


“Eh iya, beneran si Vina mau pindah?” tanya Lia.


“Iya, gue udah dapet kabar dari dia. Dia harus ikut suaminya yang ditugasin di Surabaya.”


“Berarti dia resign?”


“Iya. Semenjak baru hamil, dia udah putusin buat resign,” ucap Candra. “Oh ya, selamat buat lo berdua. Kenapa jaraknya bisa deketan sama Vina sih?”


“Ehehehe, gue ngebut, Can,” ucap Anton cengengesan. “Emang Juno nggak ngebut juga?”


“Dia lagi datang bulan,” jawab Juno dengan wajah melas.


Cukup lama keduanya berada di rumah Lia dan Anton. Bahkan keduanya juga memutuskan untuk makan malam bersama di luar. Mereka memilih resto yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perumahan. Namun tempat itu cukup nyaman. Sembari menunggu pesanan, Lia dan Candra sibuk foto- foto bersama. Sedangkan Juno dan Anton asyik mengobrol tentang bisnis. Keduanya makin akrab, sebelumnya Anton terihat takut- takut pada Juno yang dulu memang penampilannya seperti jamet.


“Pamerin Vina,” ucap Candra semangat.


“Semenjak hamil jadi nggak pecicilan lagi dia,” kata Lia.


“Halah, bentar lagi lo juga sama.”


“Iya, sih. Ckck, badan gue jadi berat lagi nih.”


“Lo lupa? Badan lo udah berat dari dulu.”


Lia menjitak kepala Candra. “Enak aja, kemarin- kemarin gue udah langsing tau.”


Candra hanya tertawa melihat wajah kesal Lia. Obrolan mereka terhenti ketika pesanan sudah terhidang. Mereka berempat pun menikmati makan malam, masih dengan obrolan- obrolan ringan. Juga Candra dan Lia yang tiada henti ghibah, membicarakan siapa saja walau tidak mengenal siapa yang sedang mereka ghibahi.


“Besok aku mau ke rumah Vina,” ucap Candra, kini mereka sedang dalam perjalanan pulang.


“Jam berapa? Aku antar?”


“Belum tau sih, agak siang kayaknya. Kamu cuti sampai kapan?”


“Aku ambil cuti panjang. Masih pengen di rumah.”


“Jangan lama- lama, kasihan sekretaris kamu. Oh ya, Mama udah tau kalau kita mau pindah?”


“Udah tau, Mama kamu juga udah tau.”

__ADS_1


...🥊🥊🥊...


No Caption 🙂


__ADS_2