
Candra menghembuskan napasnya, sementara Teo masih menunggu jawaban dari wanita itu. Pesanan mereka juga belum disentuh sama sekali. Jujur perut Candra sudah sangat lapar, tapi sepertinya memang dia harus menjawab pertanyaan Teo.
“Sorry, gue lagi pengen single,” jawab Candra akhirnya.
Mendengar jawaban dari Candra, ada raut kecewa di wajah Teo. Namun pria itu berusaha terlihat menerima. Mereka pun mulai memakan makan siang maisng- masing.
“Kabarin gue kalo lo berubah pikiran, Can,” ucap Teo.
“Gue nggak mau beri harapan, Yo,” ujar Candra. Lalu wanita itu menatap Teo. “Gue kira lo naksir Nina, dulu?”
“Nina? Gue nggak pernah naksir dia.”
Candra menyipitkan matanya, memandang penuh selidik pada Teo. Dia sangat yakin jika pria di depannya ini dulu pernah menyukai teman sekelasnya itu.
“Gue masih inget, kok, di galeri HP lo banyak foto Nina.”
Teo mendengus. “Kerjaan si Bara.”
Dahi Candra kini mengernyit. Kenapa jadi si Bara?
“Si Bara yang suka sama Nina. Dia nyuruh gue foto si Nina diem- diem, kadang Bara sendiri juga yang foto. Sialnya pasti pake HP gue,” jelas Teo, raut wajah kesalnya tercetak jelas ketika mengingat bagaimana dulu Bara sering meminjam ponselnya untuk stalking Nina.
Candra bersama Teo langsung kembali menuju studio dan klinik. Setelah mengucapkan terima kasih, Candra dan Teo berpisah. Wanita itu memasuki studionya, terlihat Ifi dan Nisa masih duduk di balik mesin jahit masing- masing.
“Kalian udah makan siang?” tanya Candra menghampiri Ifi untuk melihat gaun setengah jadi itu.
“Udah, Can. Nih, masih ada yang kurang nggak?” jawab dan tanya Ifi.
Candra mengecek hasil jahitan Ifi. Wanita itu meneliti setiap detail, lalu senyum puas tercetak di wajah cantiknya.
“Nggak ada masalah. Lanjut aja, Fi.”
Ifi mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya, kini Candra beralih pada Nisa. Wanita itu juga melakukan hal yang sama, meneliti tiap detail hasil jahitan Nisa.
“Kayaknya Novi punya pacar, deh,” celetuk Nisa.
__ADS_1
“Tau darimana lo?” tanya Candra mengernyit, sementara Ifi hanya mendengarkan.
“Nggak sengaja lihat status WA- nya kemarin, langsung di hapus tapi sama dia.”
“Kenapa di hapus?” tanya Ifi yang mulai tertarik.
Nisa mengangkat bahu tanda dia tidak tahu dan kembali berkutat dengan mesin jahitnya. Sementara Candra hanya menggelengkan kepalanya.
“Lo bisa cari tau cowoknya. Fi, lo pinter stalking, kan?” tanya Nisa dengan fokus masih ke mesin jahit dan kain.
“Coba nanti gue cari tau,” jawab Ifi.
Kini ketiganya sudah sibuk dengan aktivitas masing- masing. Candra berkutat dengan pola guna gaun milik Vina nanti. Sementara dua temannya masih mengerjakan gaun dan jas milik pasangan yang membuat Candra pusing itu.
“Kalo udah waktunya pulang, kalian pulang aja. Biar nanti gue yang lanjutin sisanya,” ucap Candra.
“Oke, tenang aja. Kita bakal pulang tepat waktu,” jawab Nisa dengan cengiran khasnya.
Candra menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pola, setelah pola jadi wanita itu mulai memotong kain menurut pola yang tadi dia buat. Ketiganya fokus bekerja hingga tidak terasa hari sudah mulai gelap.
“Nggak usah diberesin, biar gue aja nanti,” ucap Candra.
“Kita pulang dulu, Can. Lo juga jangan lembur terlalu malem, ini bukan Paris.”
“Iya, Fi. Hati- hati di jalan kalian.”
Bukan Ifi dan Nisa tidak setia kawan karena tidak ikut lembur bersama Candra, tapi memang Candra lebih suka menyelesaikan pekerjaannya di malam hari dan harus dalam keadaan tenang. Ifi, Nisa, dan Novi sudah sangat hapal sifat Candra.
Mereka bertiga selalu pulang tepat waktu dan meninggalkan Candra sendiri untuk menyelesaikan detail yang tersisa. Candra tidak pernah mengecewakan, wanita itu bahkan akan begadang semalaman mengerjakan detail yang di rasa kurang dan hasilnya selalu memuaskan.
“Hari ini cepet banget, tau- tau udah jam sepuluh,” ucap Candra yang baru saja menyelesaikan gaun milik Nayla. “Lumayan nih, besok si Ifi tinggal jahit payet- payetnya.”
Kini Candra beralih pada jas milik Juno, jas untuk Juno lebih sederhana di banding dengan gaun milik Nayla. Besok Nisa sudah bisa mengerjakan gaun milik Vina, karena malam ini Candra akan menyelesaikan jas milik Juno.
“Selesai juga. Aduh, punggung gue,” gumam Candra meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah duduk berjam- jam di depan mesin jahit. Di depannya ada segelas kopi yang tersisa sedikit.
__ADS_1
Candra pun mulai membereskan semua barang- barang yang berserakan. Lalu dia naik untuk membereskan meja kerjanya yang belum sempat dia rapikan sejak siang tadi. Candra merapikan kertas- kertas yang berserakan di mejanya dan segera bersiap untuk pulang ke rumah.
Setelah mematikan semua lampu dan memastikan semua sudah berada pada tempatnya, Candra pun mengunci studio miliknya. Hampir saja Candra berteriak maling ketika tiba- tiba saja ada seseorang berdiri di hadapannya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Candra pada orang itu.
“Mau jemput kamu.”
“Gue bawa motor, balik aja sana,” usir Candra dan melenggang menuju motornya.
“Nah, pas. Aku nggak bawa mobil,” ucap Juno dengan senyumnya.
“Jangan ngibul lo!”
“Lihat aja sendiri.”
Candra memperhatikan sekitarnya dan memang benar, dia tidak melihat keberadaan mobil milik Juno. Namun wanita itu tidak langsung percaya begitu saja, bisa saja pria itu menyembunyikan mobilnya di suatu tempat.
“Nggak mungkin lo nggak bawa mobil. Lo sembunyiin dimana mobil lo?” Todong Candra dengan mata melotot.
“Sumpah, aku nggak bawa mobil. Tadi ban mobilku bocor, sekarang di bengkel mobilnya. Kebetulan aku di dekat sini dan lihat studio kamu belum tutup.”
“Terus lo mau nebeng gitu? No! Pesen B-jek aja sana.”
“Jam segini B-jek udah susah. Aku cuma sampai depan AprilMaret aja, Can. Please!” ucap Juno dengan memasang tampang memelas.
Candra mendengus sebal, dia meniup poninya. “Argh, oke.”
Juno tersenyum miring dan melirik Candra dari kaca spion. Sementara Candra di belakang masih menampilkan wajah dongkolnya. Nyatanya tanpa sepengetahuan wanita itu, Juno memang sedang membohonginya. Mobil milik Juno terparkir tidak jauh dari sana, hanya saja Candra tidak bisa melihatnya.
JDUG! PLAK!
“Yang bener bawa motornya!” Kaget Candra ketika Juno tiba- tiba mengerem mendadak, kepalanya yang memakai helm berbenturan dengan kepala Juno. Sementara tangan Candra spontan menggeplak punggung pria itu.
Juno meringis merasakan panas di punggungnya, karma di bayar kontan untuknya. Niatnya Juno hendak mengerjai Candra, malah dirinya yang kena batunya.
__ADS_1
...👠👠👠...