
Aurel menatap box bayi di depannya. Di dalam box itu terdapat Andin yang sedang tertidur pulas. Bocah yang hampir menginjak usia tiga tahun itu mengernyitkan dahinya, ekspresinya terlihat lucu. Sudah beberapa bulan Andin berada di rumah ini dan selama itu Aurel belum pernah mendekati sang adik. Entah apa alasannya, baik Candra maupun Juno juga tidak mengetahuinya. Bocah itu lebih senang bermain dengan Mbul daripada dengan adiknya.
“Adiknya udah bangun belum?” tanya Candra yang masuk ke dalam kamarnya.
Aurel spontan menoleh, kini ekspresinya seperti seorang maling yang ketahuan mencuri. Melihat hal itu membuat Candra tidak bisa untuk tidak tertawa. Anak sulungnya ini benar- benar lucu.
“Kenapa gitu sih wajahnya?” tanya Candra tertawa ngakak.
Ternyata suara tawa Candra itu membangunkan Andin dari tidurnya. Aurel yang mendengar suara tangis sang adik pun malah berlari keluar dari kamar.
“Aurel, jangan turun tangga sendiri!” teriak Candra. Dengan gesit, wanita itu mengangkat Andin membawanya dalam gendongan. Lalu dia segera berlari untuk melihat Aurel.
Candra bernapas lega saat menemukan Aurel sedang duduk di atas karpet dan sedang bermain dengan Mbul. Lalu fokus Candra kini beralih pada Andin yang masih menangis sesenggukan, sepertinya bayi itu merasa haus atau lapar.
Kebetulan hari ini hari Sabtu dan Juno tidak pergi ke kantor. Candra juga jarang pergi ke studionya, wanita itu akan ke studio jika benar- benar ada hal yang mendesak saja. Baik para karyawan dan teman- teman Candra yang ada di Paris maklum dengannya. Mereka tahu bagaimana repotnya Candra sekarang, mengurus dua anak tanpa bantuan seorang pengasuh anak profesional.
“Aku beli bubur, Yang,” ucap Juno yang baru selesai jogging. Pagi buta tadi memang Juno pamit pada Candra untuk jogging di sekitar komplek perumahan.
“Kasih Aurel sarapan dulu, Mas. Aku mau mandiin Andin habis ini,” kata Candra yang masih memberi Andin ASI.
“Aurel, ayo sarapan dulu,” ajak Juno.
Aurel yang memang sudah lapar pun segera bangkit dari duduknya. Bocah itu menghampiri Juno dan mengulurkan tangannya minta digendong. Sementara dengan senang hati Juno menggendong putri sulungnya. Hanya di saat- saat seperti ini Aurel mau didekati olehnya, saat- saat dimana Aurel hendak minta makan.
“Let’s go!” kata Juno dan segera menuruni tangga dengan Aurel berada dalam gendongannya.
“Go… Pak…” Aurel juga berusaha menirukan apa yang diucapkan oleh sang Ayah.
__ADS_1
Aurel memang seharusnya memanggil Juno dengan sebutan ayah, tapi sejak mulai bisa berbicara bocah itu tidak pernah memanggilnya ‘Ayah’.
Juno sedang menyuapi Aurel bubur, sementara bocah itu duduk anteng di depan televisi dan matanya fokus pada layar televisi yang menayangkan sebuah serial kartun yang memang tayang tiap pagi. Walau fokusnya pada televisi, tapi saat mulutnya kosong bocah itu akan membuka mulutnya.
“Aaaa…” Aurel membuka mulutnya lebar- lebar.
“Pelan- pelan makannya,” ucap Juno memperingatkan, tangannya menyeka kuah bubur ayam yang mengalir keluar dari mulut Aurel.
“Udah habis sarapannya?” tanya Candra yang sudah selesai memandikan Andin. Wanita itu turun bersama dengan Andin yang berada dalam gendongannya, bayi itu tertidur setelah mandi tadi.
“Belum, kurang beberapa suap lagi,” jawab Juno menunjukkan piring di tangannya.
Candra menganggukkan kepalanya. “Habis sarapan, Aurel mandi, ya?”
“Ya,” jawab Aurel menoleh sekilas.
Juno yang merasa gemas dengan Aurel, tangannya terulur mencubit pipi bocah itu. Tentu hal yang selanjutnya terjadi dapat sangat mudah di tebak. Aurel menangis karena kegemasan sang Ayah, bahkan tangan bocah itu aktif menggeplak tangan Juno yang masih bertengger di pipinya.
Sementara Juno hanya terkekeh. Dia pun membujuk Aurel agar mau menghentikan tangisnya.
Selepas semua anggota keluarga sarapan dan mandi, kini mereka berkumpul di ruang keluarga. Tidak melakukan apapun, hanya menikmati waktu kebersamaan dengan menonton film di televisi.
“Andin udah bangun?” tanya Juno yang sedang menggendong bayi itu.
Andin membuka matanya dan hal pertama yang ditatapnya adalah wajah sang ayah. Bayi itu tersenyum melihat wajah tampan ayahnya. Apalagi kini Juno membuat ekspresi- ekspresi lucu untuk membuat bayi itu tertawa.
“Aurel, adiknya udah bangun nih. Sini main sama adik,” panggil Juno.
__ADS_1
Aurel bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Juno. Dia mencondongkan tubuhnya untuk dapat melihat wajah sang adik. Tangan mungil Aurel terulur hendak menyentuh pipi Andin.
“Cium adiknya,” pinta Candra antusias, setelah melihat tingkah Aurel.
Aurel menurut dan mendekatkan wajahnya pada Andin, berniat menciumnya. Namun, belum sampai pada pipi Andin. Bayi itu tiba- tiba saja terbatuk, karena kaget Aurel spontan menjauhkan wajahnya. Bocah itu menatap datar pada Andin, lalu melengos kembali duduk pada tempatnya tadi.
“Astaga! Nggak jadi cium adiknya, dong,” ucap Candra tertawa.
...👠👠👠...
Candra benar- benar sangat bahagia saat ini, hidupnya sudah terasa sangat lengkap. Memiliki suami yang bucin padanya dan dua anak yang menggemaskan, tentu jangan lupakan ada Mbul juga. Dia sangat bersyukur atas kebahagiaan yang telah Tuhan berikan untuknya. Memang dalam hidup akan selalu ada rintangan dan masalah yang datang silih berganti, tapi Candra menikmati proses itu. Proses untuk dapat menyelesaikan masalah- masalah dalam keluarga maupun hidupnya.
Tentu tidak sendiri, Juno selalu siap sedia berada di sampingnya apapun yang terjadi. Pria itu yang selalu memberinya semangat. Juno yang dulu sangat berbeda dengan saat ini. Pria yang sangat senang menyakiti hati wanita entah hilang kemana. Digantikan dengan sosok yang sangat hangat dan sayang pada keluarganya. Rela melakukan apapun demi keluarganya.
“Kamu melamun? Mikirin apa?” tanya Juno pada Candra yang sedang duduk seorang diri di halaman belakang. Hari sudah sangat larut, anak- anak juga sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu.
“Nggak, Mas. Aku kepikiran kamu aja,” jawab Candra.
“Aku kenapa?” tanya Juno mengernyitkan dahinya, kini pria itu duduk di sebelah sang istri.
“Kok bisa kamu berubah sedrastis ini.”
“Tiap manusia pasti bisa berubah, Yang. Tergantung dengan niat masing- masing mereka. Dan perubahan yang paling sulit itu saat kita berusaha berubah menjadi lebih baik. Aku juga sama, aku selalu mendapat kesulitan itu tiap ingin berubah. Bahkan sampai saat ini aku masih berusaha agar dapat menjadi lebih baik dari kemarin. Sekarang tinggal bagaimana orang- orang menilai perubahanku. Aku hanya berharap, saat ini aku berubah menjadi lebih baik,” jelas Juno dengan senyuman yang terasa sangat menenangkan. “Lho? Kok kamu malah nangis?”
Candra menggelengkan kepalanya, dia memeluk sang suami. Wanita itu merasa sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh Juno.
‘Tuhan, saat ini aku hanya berharap semoga kebahagiaan akan selalu menyertai keluargaku,’ batin Candra tersenyum di sela tangisannya.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...
Tamat ya... 🤗🤗🤗 Nanti Othor akan buat ocehan di Up selanjutnya 😃😃😃