
Seperti kata Candra semalam. Pagi ini, Candra dan Juno sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk periksa. Tadi pagi Candra sudah membuktikan dugaannya. Benar saja, setelah lima alat testpack Candra gunakan. Ketiganya menunjukkan hasil positif, tapi untuk lebih meyakinkannya mereka memutuskan untuk memeriksakannya pada yang ahli.
“Sampai. Ayo turun!” ajak Juno yang sejak pagi tadi wajahnya cerah ceria.
Candra mengangguk dan segera turun dari mobil. Pasangan itu pun berjalan menuju tempat pendaftaran. Setelah mendaftar dan mendapat nomor antrean, mereka menunggu di ruang tunggu bersama dengan pasien- pasien lain. Candra menggenggam erat tangan Juno, dia benar- benar gugup saat ini.
Keduanya sangat berharap ada kabar membahagiakan setelah periksa nanti. Cukup lama Candra dan Juno menunggu antrean, sampai akhirnya mereka dipanggil oleh perawat. Keduanya pun masuk ke dalam ruang poli kandungan.
Seorang dokter wanita berhijab menyambut Candra dan Juno. Keduanya dipersilakan untuk duduk. Dokter yang menjadi tempat konsultasi Candra dan Juno selama ini.
“Bagaimana kabar Bapak dan Ibu?” tanya dokter itu dengan senyuman ramah.
“Baik, Dok.”
“Jadi ada keluhan apa?” tanya dokter bernama Nara itu. Dokter cantik dengan wajah awet mudanya.
“Saya telat datang bulan kurang lebih dua bulanan ini. Lalu pagi tadi saya coba cek menggunakan testpack karena saya berpikir kalau saya mengandung dan ternyata setelah saya cek hasilnya positif,” jelas Candra.
Senyum Dokter Nara makin lebar. “Selamat untuk Bapak dan Ibu. Kalau begitu mari saya periksa agar lebih jelas lagi.”
Candra mengangguk dan diminta untuk berbaring di atas brankar. Lalu Dokter Nara mulai mempersiapkan alat medisnya. Candra akan melakukan USG transvaginal untuk mengetahui secara pasti, apakah dia benar- benar mengandung atau tidak.
“Alhamdulillah, bisa lihat di monitor. Benar Bu Candra sedang mengandung sekarang dan usia kehamilannya kurang lebih dua bulan. Saya ucapkan selamat untuk Bapak dan Ibu.”
Candra menatap Juno yang sedang terpaku dengan layar monitor. Sepertinya pria itu masih ngelag. Candra kembali duduk di sebelah Juno yang masih terdiam. Melihat hal itu Candra pun mencubit tangan Juno.
“Bangun, Jun,” ucap Candra, sementara Juno memekik kesakitan.
Keduanya keluar dari ruangan Dokter Nara dengan wajah cerah. Namun langkah keduanya terhenti ketika seseorang memanggil Candra. Candra yang merasa terpanggil pun menoleh. Matanya membulat melihat Teo berjalan ke arahnya. Sementara wajah Juno sudah sangat masam.
‘Nih orang ganggu momen aja,’ batin Juno dongkol.
“Lho? Lo kerja di sini?” tanya Candra terkejut melihat keberadaan Teo.
__ADS_1
“Iya. Terus lo kenapa di sini? Lo sakit?” tanya Teo.
“Gue hamil, Tayo,” jawab Candra mengembangkan senyumannya.
“Wah, selamat, ya?” ucap Teo. Pria itu melongok ke dalam ruang Dokter Nara dan mengangguk paham. “Oh kalian baru ketemu Dokter Nara.”
“Iya,” jawab Candra mengangguk.
“Selamat, Bro,” ucap Teo mengulurkan tangannya pada Juno.
“Makasih,” jawab Juno menjabat tangan Teo masih dengan ekspresi dongkol.
“Kalo gitu gue permisi dulu. Gue harus masuk poli,” pamit Teo.
Candra hanya mengangguk. Sementara Teo langsung pergi dari sana. Ternyata Teo bekerja di rumah sakit ini dan berhasil menjadi seorang dokter bedah kardiotoraks, yaitu dokter spesialis yang menangani kasus penyakit di organ dalam rongga dada. Terutama jantung dan paru- paru.
Setelah dari rumah sakit, keduanya langsung menuju rumah orang tua mereka untuk memberi kabar membahagiakan ini. Senyum Candra tidak pudar sejak tadi, tangannya mengelus perut ratanya. Begitu juga dengan Juno yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi bahagianya.
Penantian selama kurang lebih dua tahun ini terbayarkan. Mobil Juno memasuki pekarangan rumah orang tua Candra. Kebetulan keluarga Candra sedang berkumpul di sana. Ada Tian dan Nata juga di sana. Suara riang anak kecil juga membuat suasana rumah menjadi ramai, ditambah dengan kicauan burung milik Pak Haris.
“Tante Candra!” panggil seorang anak perempuan berusia kurang lebih lima tahun berlari menghampiri Candra.
Candra merentangkan tangannya hendak memeluk anak itu. Namun ternyata anak itu malah memeluk Juno, lalu pria itu membawa dalam gendongannya. Candra mendengus melihat hal itu.
“Yang dipanggil siapa yang peluk siapa,” ucap Candra.
Anak perempuan itu merupakan anak dari Tian dan istrinya. Candra pun duduk bergabung dengan mereka.
“Kamu apa kabar, Can? Tumben main ke sini? Hari ini hari kerja, kan?” tanya Bu Maya bertubi- tubi.
“Astaga, Ma. Biarin Candra minum dulu,” ucap Candra mengerucutkan bibirnya.
“Kita dari rumah sakit tadi, Candra baru periksa,” kata Juno membuat semua mata spontan menatap Candra.
__ADS_1
“Lo sakit, Dek?” tanya Nata. “Gara- gara Juno, ya? Dia nggak kasih makan…”
Nata tidak melanjutkan perkataannya ketika Tian melotot padanya. Pria itu langsung mengkeret dipelototi seperti itu oleh Abangnya.
“Candra tadi periksa ke dokter kandungan. Ini udah ada isinya sekarang, calon cucu Mama dan Papa,” jelas Candra menunjuk perutnya.
“Beneran? Puji Tuhan,” kata Bu Maya tersenyum bahagia.
...👠👠👠...
Candra dan Juno baru sampai rumah kurang lebih pukul sembilan malam. Setelah dari rumah orang tua Candra, mereka langsung berkunjung ke rumah orang tua Juno. Mereka memang sengaja ingin memberi kabar secara langsung bertatap muka daripada lewat sambungan telepon. Setelah membersihkan diri, Candra menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Perutnya terasa penuh karena sedaritadi mulutnya tidak berhenti mengunyah.
“Kamu bahagia?” tanya Juno yang ikut berbaring di sebelah Candra, memeluk sang istri.
“Nggak perlu tanya, kamu udah tau jawabannya,” jawab Candra mendongak untuk melihat wajah Juno.
“Terima kasih, Sayang. Kamu udah beri aku kesempatan.”
“Sama- sama. Aku akan selalu kasih kamu kesempatan. Kamu tau pasti kalau aku nggak pernah bisa move on dari kamu yang urakan dan hobi main- main.”
“Aku udah kasih bukti ke kamu, kan? Sekarang kamu percaya? Cuma kamu yang ada di hati aku.”
“Kok kedengarannya itu kata- kata yang sering diucapin sama buaya, ya?” ucap Candra terkekeh.
“Kamu masih anggep aku buaya?” tanya Juno mengerucutkan bibirnya.
“Kenapa? Buaya, kan, setia,” jawab Candra menyembunyikan wajahnya di dada bidang Juno. Sementara Juno tersenyum manis, tangannya mengusap punggung Candra.
Candra menikmati usapan lembut tangan Juno dipunggungnya. Mata wanita itu terpejam dan lama- kelamaan dia jatuh tertidur. Suara dering ponsel milik Juno, membuat pria itu mengalihkan fokusnya. Dengan perlahan dia bangun dan meraih ponselnya yang berada di meja dekat ranjang. Juno melihat Candra yang napasnya sudah beraturan, lalu pria itu pun segera menjawab panggilannya.
“Halo?” ucap Juno pada seseorang di seberang sana. “Minggu depan lo langsung ke kantor aja, temuin gue,” lanjutnya.
...🥊🥊🥊...
__ADS_1
Tertanda: Otor Gabut 😳