
Kurang lebih pukul dua dini hari Candra terbangun akibat tangisan Aurel. Wanita itu baru tidur selama beberapa jam saja. Candra pun memberi Aurel ASI- nya, tangannya menepuk- nepuk paha Aurel, berharap putrinya itu segera tidur kembali. Namun ternyata Aurel tidak dalam keadaan haus atau lapar, bayi itu masih terus menangis. Lalu Candra pun mengecek popok Aurel dan wanita itu mengendus disekitar popok putrinya.
“Pup ternyata,” gumam Candra.
Dengan malas, Candra pun bangun dari tidurnya dan menggendong Aurel menuju meja tempat biasanya dia mengganti popok Aurel.
“Anak Bunda pinter, cangtip, tidak sombong, dan rajin menabung,” ucap Candra, tangannya dengan telaten mengganti popok Aurel. “Ckck, masa’ denger suara anaknya nangis, Bapakmu nggak bangun juga,” lanjut Candra mengomel.
“Nah, selesai.”
Wanita itu menggendong Aurel dan berusaha untuk menidurkannya lagi. Jarum jam menunjukkan angka tiga. Berkali- kali Candra menguap merasa kantuk. Dia meletakkan Aurel di tempat tidur dan Candra ikut rebahan di sebelah putrinya itu.
Entah berapa lama Candra sudah tertidur, tapi ia terjaga ketika ada seseorang menciumi wajahnya. Candra menggeram kesal, ia masih sangat mengantuk saat ini dan orang itu tanpa berdosa mengganggunya. Candra pun membuka matanya yang terasa masih berat itu. Di depan wajahnya ada wajah sang suami yang hanya berjarak beberapa senti saja.
“Kamu masih ngantuk, Yang?” tanya Juno, dia kembali menciumi wajah Candra.
“Iya, Mas. Aku mau tidur sebentar lagi, kamu jagain Aurel, ya?” jawab dan pinta Candra, tangannya mendorong wajah Juno agar menjauh darinya.
“Aurel udah boleh mandi?” tanya Juno. Kini pria itu beralih pada putrinya yang sudah bangun.
“Nanti aja aku yang mandiin,” jawab Candra memeluk guling.
Juno hanya mengangguk dan menggendong Aurel, membawanya keluar dari kamar. Pria itu membawa Aurel keluar rumah untuk menjemur putrinya itu.
“Di sini nggak kepanasan, kan?” tanya Juno pada dirinya sendiri.
“Ayo, kita berjemur,” ucap Juno, tangannya sembari menepuk- nepuk pelan punggung putrinya.
Juno terperanjat kaget saat tiba- tiba Aurel menangis. Pria itu terlihat panik dan berusahan menenangkan putrinya itu. Namun tangis Aurel tidak kunjung mereda. Juno pun membawa masuk Aurel. Sesampainya di dalam rumah, ternyata Candra sudah bangun dari tidurnya.
“Lho? Katanya kamu mau tidur lagi?” tanya Juno sembari mengayun- ayun Aurel.
“Udah nggak bisa tidur lagi. Mana Aurel, aku mau mandiin dulu.”
__ADS_1
Juno menyerahkan Aurel pada Candra. Pria itu membuntuti Candra dan Aurel hingga masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata di dalam kamar mandi air sudah Candra siapkan.
“Pusar Aurel kapan lepasnya?” tanya Juno.
“Kemarin lusa, kamu mau coba mandiin Aurel?” tawar Candra.
“Boleh?” tanya Juno antusias.
“Boleh, tapi jangan dibanting,” jawab Candra.
Juno mengangguk antusias, Candra pun memberika Aurel pada Juno. Sebelumnya memang pria itu sudah berlatih memandikan bayi ketika mengikuti sebuah kelas bersama dengan Candra. Namun ketika praktek di kelas itu, bukan menggunakan bayi sungguhan, melainkan sebuah boneka yang dibuat semirip mungkin seperti bayi sebagai alat praktek.
“Sabunnya nggak perlu banyak- banyak,” interupsi Candra yang memantau Juno.
“Tuangin di tangan aku,” pinta Juno.
Candra menurut dan menuangkan sabun di tangan Juno. Lalu pria itu dengan perlahan mengusapkannya ke seluruh badan Aurel. Beruntung Aurel tidak menangis saat dimandikan.
Setelah selesai mandi, Juno kembali menawarkan diri untuk memakaikan pakaian pada Aurel. Candra pun menyetujuinya dan menyiapkan baju milik putrinya itu. Sementara Candra pamit untuk memasak sarapan.
“Iya, bedongnya pakai kain ini?”
Candra mengangguk. “Aku tinggal, ya?”
“Iya.”
Candra benar- benar meninggalkan mereka dan mulai berkutat dengan berbagai bahan masakan di dapur. Hari ini Juno akan pergi ke kantor agak siang, hal itu membuat Candra bisa sedikit santai. Candra mulai memotong sayur- sayuran untuk dimasak menjadi sayur sop. Dia mulai menyalakan api di kompor untuk mendidihkan air. Sembari menunggu air mendidih, Candra mencicil mencuci peralatan yang sudah tidak dia gunakan.
Beberapa saat kemudian masakan Candra matang, dia tinggal menyajikannya saja di meja makan. Namun Candra curiga, karena di kamar terasa sangat hening. Candra pun berniat menghampiri Juno untuk memastikan suaminya itu baik- baik saja dan berhasil memakaikan baju pada Aurel.
“Mas? Aurel udah ganti baju?” tanya Candra.
“Hmm? Udah, nih sekarang lagi tidur,” jawab Juno yang juga ikut merebahkan diri di samping putri kecilnya.
__ADS_1
Candra berjalan mendekat, spontan matanya membulat dan tangannya menabok punggung Juno. Mendapat tabokan dari sang istri membuat Juno memekik kesakitan.
“Kamu kok mukul aku?” tanya Juno mengusap punggungnya yang terasa panas.
“Kenapa Aurel kayak Om Poci?” tanya Candra menunjuk Aurel yang tidurnya sama sekali tidak terganggu.
“Aku udah coba pakai cara yang kamu ajarin, tapi susah ternyata. Jadi biar cepet aku buat gitu aja,” jawab Juno yang sepertinya sangat bangga dengan hasil karyanya itu.
“Tapi ya nggak begitu. Masa’ ujung- ujungnya kamu karetin? Itu anak kamu, bukan pecel!”
Juno menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung juga ingin menjawab apa. Ternyata caranya salah, padahal menurut pria itu putrinya terlihat estetik jika begini. Terlihat sangat fashionable malah.
Candra membenarkan bentuk bedongan Aurel, sementara Juno bergegas mandi karena hari sudah mulai siang. Setelah selesai membedong Aurel, Candra meletakkan putrinya itu di dalam box bayi, sementara dia hendak menyiapkan baju untuk Juno kenakan ke kantor nanti.
“Berasa punya dua bayi gue,” gumam Candra.
“Aku mau bawa bekal hari ini, nanti kayaknya aku pulang agak larut,” kata Juno berdiri di belakang Candra.
“Iya, nanti aku siapin.”
Candra pun berbalik dan keluar dari kamar, dia menuju dapur untuk menyiapkan bekal yang nantinya akan Juno bawa. Candra belum kembali ke studionya, entah kapan dia akan memulai aktivitasnya lagi. Akhirnya untuk sementara ini, Candra menyerahkan studionya pada para karyawan.
“Ckck, mana sih? Udah siang juga, katanya ada meeting,” gumam Candra. “Bapak Juno! Udah siang!” panggil Candra.
Candra mendengus, dia berniat menghampiri suaminya itu. Dia menemukan Juno yang ternyata sedang berada di dekat box bayi. Suara tangis dari dalam box itu membuat Candra mengeluarkan tanduknya.
“Astaga! Kamu apain sih? Udah bagus anaknya tidur anteng, malah kamu gangguin,” gemas Candra pada suaminya itu.
Sementara Juno berbalik dan cengengesan. Pria itu tadi menoel- noel pipi gembul Aurel karena merasa gemas. Akibat ulahnya itu, dia tidak menyangka akan membangunkan Aurel dari tidurnya.
“Cepet sana sarapan! Lihat, udah jam berapa sekarang!” perintah Candra berkacak pinggang. Juno pun spontan lari ngibrit sebelum istrinya itu tambah mengomel.
...👠👠👠...
__ADS_1