
Suara bel dari pintu depan membuyarkan fokus Candra yang sedang bermain bersama Aurel dan Mbul. Semenjak beberapa hari yang lalu, Mbul dan Aurel sudah akur. Kini keduanya bak sahabat. Candra pun berjalan ke depan untuk membukakan pintu bagi tamu itu. Pintu depan terbuka dan di depan Candra berdiri empat orang. Candra menganga melihat siapa sosok didepannya itu.
“Vina?” panggil Candra membulatkan matanya.
“Hai, Can. Udah lama nggak main ke rumah lo,” jawab Vina tersenyum.
“Kenapa lo nggak kabarin gue dulu sih? Ayo masuk.”
Candra dan Vina pun masuk ke dalam rumah dan menuju ruang keluarga dimana Aurel dan Mbul berada.
“Aurel, lihat nih siapa yang datang,” ucap Candra pada Aurel.
Aurel yang sedang mengemut tangannya itu menoleh. Namun, ekspresi bayi itu terlihat bingung melihat kedatangan Vina dan ketiga anaknya.
“Nih, Aurel ada temennya,” kata Vina menurunkan Aldo dari gendongannya. Sementara dua anak kembar Vina masih terlihat malu- malu.
“Dika sama Wira udah gede, ya, sekarang?” tanya Candra pada dua bocah itu.
“Masih malu- malu dia,” balas Vina tersenyum pada dua anak kembarnya itu.
Candra pun menuju dapur untuk membuat cemilan. Sementara Vina sedang bermain bersama anak- anak itu, tentu ada Mbul juga di sana. Candra mengupas buah dan memotongnya untuk cemilan anak- anak. Beberapa menit berkutat di dapur, Candra kembali bergabung bersama dengan mereka.
“Dika sama Wira suka buah apa?” tanya Candra.
“Stobeli,” jawab Dika.
“Picang,” tambah Wira.
Mendengar jawaban dari dua bocah imut itu membuat Candra tertawa. Candra meletakkan piring berisi buah itu di atas meja untuk dinikmati Dika dan Wira. Sedangkan Aldo dan Aurel sedang bermain bersama dengan Mbul.
“Astaga sampai sekarang gue belum bisa bedain Dika sama Wira,” ucap Candra yang masih memperhatikan dua bocah yang sedang asyik memakan kudapan di depannya.
“Dika lebih tinggi dari Wira, gitu aja bedainnya.”
“Oh ya, lo ada acara apa balik ke Jakarta?”
“Gue mau nengok Bunda, sakit kemarin.”
“Kok lo nggak kabari gue? Bunda sakit apa?”
Vina pun menceritakan mengapa dia pulang ke Jakarta. Ternyata Bunda memang sakit beberapa hari, bahkan sampai opname di rumah sakit. Namun sekarang beliau sudah pulang dan sedang menjalani pemulihan di rumah. Mendengar cerita dari Vina membuat Candra kesal, pasalnya sahabatnya itu tidak memberitahu perihal sakit Bunda.
__ADS_1
“Bunda udah sehat, Can. Kalo lo tau malah gue yang kena omel Bunda nanti,” ucap Vina.
“Gue juga pengen jenguk Bunda, udah lama juga nggak main ke rumah lo.”
“Mainlah kapan- kapan.”
“Lo udah ke rumah Lia, Vin?”
“Belum, mungkin abis dari rumah lo. Anak dia cewek, ya?”
“Iya, Lia gue chat aja biar dia ke sini sekalian.”
“Boleh.”
Candra pun meraih ponselnya dan segera mengirim chat untuk Lia. Hari ini kebetulan Lia libur bekerja, jadi Candra bisa meminta Lia untuk datang ke rumahnya.
“Terus suami lo tadi nggak di ajak?” tanya Candra, dia meletakkan ponselnya setelah mengirim chat pada Lia.
“Di rumah dia. Biarinlah, gue tadi ngomong kalo mau reuni sama lo. Jadi dia nggak ikut, nganter doang tadi.”
“Astaga. Kalo lo ajak, si Dafa bisa jagain bayi- bayi. Nanti kita ngeghibah.”
Candra terkekeh. “Kalo Lia bawa Seina sama Gara tambah rame nih rumah.”
Benar saja apa yang diucapkan Candra, setelah kedatangan Lia bersama dua anaknya. Rumah Candra sangat ramai oleh suara anak- anak. Aurel, Aldo, dan Seina yang memang seumuran bermain bersama di atas karpet. Ketiganya kompak tengkurap dan mengoceh seperti sedang mengobrol. Sementara Gara, Dika, dan Wira sedang bermain mobil- mobilan milik Gara.
“Lo sampai kapan di Jakarta, Vin?” tanya Lia.
Tiga emak- emak ini sedang memakan rujak yang tadi dibawa oleh Lia. Bahkan, tadi Lia membawa beberapa makanan ringan.
“Lusa udah balik gue. Mas Dafa udah harus kerja.”
“Yaah, bentar doang lo di Jakarta.”
“Ya mau gimana lagi? Suami gue harus kerja. Lagian gue cuma mau jenguk Bunda. Nanti pas lebaran juga balik lagi.”
“Eh iya, dua bulan lagi udah mulai puasa,” ucap Lia.
Suara tangis membuat emak- emak yang asyik mengobrol itu serempak menoleh. Aldo menangis dengan posisi masih tengkurap. Candra membulatkan matanya melihat Aurel menggigit jari Aldo. Walaupun belum tumbuh gigi dan tidak terasa sakit, tapi sepertinya Aldo ketakutan dengan Aurel.
“Astaga, anak gue bar- bar banget,” ucap Candra berusaha memisahkan Aldo dan Aurel.
__ADS_1
“Memang, ya? Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya,” gumam Lia geleng- geleng kepala.
“Maaf, ya, Aldo. Aurel memang nakal,” kata Candra mengusap jari bayi itu. “Aurel nggak boleh nakal sama temennya, ya?” lanjut Candra berbicara pada Aurel.
Sementara Seina hanya melongo melihat Aldo yang menangis dipangkuan Vina dan bergantian melihat ekspresi tak berdosa Aurel yang sedang mengemut tangannya.
Hari sudah siang, kini waktunya mereka makan siang. Lagi- lagi Vina yang harus menjaga anak- anak. Sementara Candra dan Lia berkutat di dapur untuk memasak makan siang bagi mereka. Diantara mereka bertiga, Vina yang tidak pandai memasak. Alhasil wanita itu yang bertugas menjaga para bocah.
“Can, anak lo gelud sama Seina nih,” teriak Vina.
“Astaga anak lo, Can,” kata Lia geleng- geleng kepala dan segera meninggalkan dapur.
Benar saja, Aurel menjambak rambut Seina. Namun, Seina tidak menangis. Hanya saja tangannya mencoba melepaskan tangan Aurel dari kepalanya.
“Aurel, lepas. Seina kesakitan,” kata Candra yang juga ikut menghampiri mereka.
Candra menghembuskan napas lega setelah berhasil melepas jambakan itu. Namun, spontan tiga emak itu memekik saat Seina menampol kepala Aurel.
“Astaga, nih bocah daritadi gelud mulu,” ucap Candra mencoba melindungi Aurel dari tampolan Seina.
Sedangkan Lia juga sedang berusaha menjauhkan Seina dari jangkauan Aurel. Kini ganti Aldo yang menonton mereka sambil meminum susunya.
“Yang paling kalem cuma Aldo,” kata Candra.
“Iya dong, emaknya juga kalem,” jawab Vina tersenyum bangga.
“Jangan bohong di depan anak, Vin!” peringat Lia.
“Heh, gorengan gue gosong!” Candra berlari menuju dapur setelah mengoper Aurel pada Vina.
Masakan Candra dan Lia sudah matang. Kini mereka makan bersama di ruang keluarga sambil melihat acara kartun. Gara, Dika, dan Wira terlihat anteng dan akur makan di depan televisi. Sangat berbeda dengan para bayi yang daritadi bertengkar. Namun sekarang hening, karena tiga bayi itu kompak tidur siang.
“Gue nggak pernah secapek ini,” ucap Candra setelah menyelesaikan makan siangnya.
“Sama, nggak kebayang gue kalo urus banyak anak sendirian,” ujar Lia membenarkan ucapan Candra.
“Iya, para bapak cuma mau enaknya aja. Mereka nggak ngerasain gimana jadi emak- emak ngurus anak- anak ditambah ngurus bapaknya juga,” tambah Vina.
...👠👠👠...
__ADS_1