
Tidak terasa waktu telah berlalu, kini Aurel sudah berusia sebelas bulan. Bayi itu sedang senang merangkak saat ini. Aurel dan Candra sedang berada di ruang keluarga. Aurel sedang asyik bermain dengan mainannya, sementara Candra sedang menyelesaikan sebuah desain gaun. Tidak jauh dari mereka juga ada Mbul yang sedang menjilati kakinya. Sesekali Candra memantau Aurel yang bisa saja merangkak tanpa sepengetahuannya.
“Meow… meow… meow…”
Mbul berjalan mendekati Aurel yang sedang tengkurap saat ini. Kucing itu duduk di depan Aurel dan seperti sedang mengamati pergerakan bayi itu. Mbul yang penasaran mulai menoel- noel tangan Aurel. Semua hal yang Mbul lakukan tidak lepas dari pengamatan Candra.
“Mbul, titip Aurel sebentar, ya?” ucap Candra pada Mbul.
“Meow…”
Candra pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum beserta makanan untuk Mbul. Suara tangisan Aurel, membuat Candra lari tergopoh- gopoh menghampiri keberadaan bayi itu.
Sesampainya di ruang keluarga, Candra melihat Aurel yang menangis sambil tangannya mencoba meraih kaki Mbul. Sementara Mbul tidak menghiraukan bayi itu, kucing itu membuang muka pada Aurel.
“Mbul, Aurel mau ajak main kamu. Kenapa kamu cuekin?” tanya Candra.
Mbul masih tidak menghiraukan Aurel. Candra pun menggendong putrinya itu dan membawanya menuju dapur. Namun diam- diam Mbul mengikuti langkah mereka. Kucing itu masih terus mengikuti Candra yang kini kembali lagi dengan membawa makanan untuknya. Wanita itu meletakkan tempat makan Mbul di lantai. Dengan segera Mbul menghampiri makanannya.
“Meow… meow… meow…” Mbul terus mengoceh sembari makan.
“Nah, Aurel minum susu dulu,” ucap Candra memberikan botol susu pada bayi itu.
Candra menidurkan Aurel di atas karpet. Setelah memberikan susu pada Aurel, Candra kembali melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda. Dia larut dalam aktivitasnya hingga tidak sadar jika hari sudah mulai beranjak malam. Suara deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah dan tidak lama kemudian Juno masuk ke dalam rumah dengan wajah lelahnya.
“Meow…”
Mbul menyambut kedatangan babunya itu, kucing itu menghampiri Juno berharap babunya itu akan langsung menggendongnya. Namun Mbul terlihat sangat kecewa, Juno berjalan melewatinya begitu saja. Babunya itu malah langsung menghampiri Aurel dan menggendongnya.
“Mau makan malam apa?” tanya Candra.
“Apa aja, atau mau makan di luar aja?”
__ADS_1
“Boleh. Kamu mandi dulu sana.”
Juno berjalan naik menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri. Sementara Candra membereskan pekerjaannya. Mbul hanya menonton apa yang sedang dilakukan babunya itu, dia berjalan menuju Aurel yang masih meminum susunya.
GREP!
Bayi itu membuang botol susunya dan langsung memeluk Mbul. Mbul yang terkejut pun meronta minta dilepaskan dari dekapan bayi itu. Setelah berhasil terlepas, Mbul segera menjauh. Namun, rupanya Aurel mengejarnya dengan cara merangkak. Bayi itu merangkak sambil bergumam dengan bahasa bayinya. Seperti sedang memanggil Mbul agar kucing itu mau bermain dengannya.
“Ayo Aurel, siap- siap dulu. Ayah mau ajak kita pergi,” ucap Candra menggendong Aurel dan membawanya naik ke atas.
Mbul masih mengikuti keduanya hingga masuk kamar. Kucing itu melihat Candra yang sedang mengganti baju Aurel. Mbul pun naik ke atas tempat tidur dan menonton Aurel yang sedang berganti baju.
“Yang, katanya bulu Mbul rontok kemarin? Nggak apa- apa memangnya kalo deket- deket Aurel?” tanya Juno yang baru saja selesai mandi.
“Kayaknya nggak cocok sabunnya. Padahal kemarin bulunya baik- baik aja,” jawab Candra.
Mbul masih anteng di atas tempat tidur, sampai tiba- tiba saja Juno menggendongnya. Mbul terlihat sangat nyaman berada dalam gendongan babunya itu. Sudah sangat lama kucing itu tidak merasakan digendong seperti ini. Namun, lagi- lagi Mbul dibuat kecewa oleh babunya. Ternyata Juno menggendong Mbul untuk dimasukkan ke dalam kandang.
“Rontoknya parah banget,” gumam Juno membersihkan kaosnya, bulu Mbul banyak menempel di sana. “Mbul di sini dulu, ya?”
“Udah, Mas? Berangkat sekarang?” tanya Candra.
“Ayo. Kita mau makan dimana?”
“Belum tau, kita jalan sambil nyari tempat makan sekalian.”
Juno mengangguk dan berjalan keluar rumah bersama dengan Candra. Mereka meninggalkan rumah menuju sebuah tempat untuk makan malam.
Cukup lama Juno dan Candra keluar rumah. Mereka pulang sudah cukup larut, Aurel juga sudah tertidur dalam gendongan Juno. Pria itu pun membawa putrinya menuju kamar untuk menidurkannya. Sementara Candra menuju kandang Mbul, dia hendak memberi makan Mbul. Mbul yang menyadari kedatangan seseorang seketika terjaga dari tidurnya. Kucing itu mengeong melihat seseorang datang. Candra membuka kandang Mbul dan mengeluarkannya dari kandang. Wanita itu memberikan makanan untuk kucingnya itu.
“Maaf, ya? Sementara Mbul di kandang dulu. Besok Kakak beliin sabun baru, biar bulu Mbul nggak rontok lagi,” ucap Candra mengelus- elus Mbul.
__ADS_1
“Meow… meow… meow…”
“Iya, tau. Pasti Mbul cemburu sama Aurel, kan?” tanya Candra, seakan paham dengan apa yang diucapkan Mbul.
“Meow… meow… meow…”
“Aurel cuma pengen main sama Mbul. Besok ajak Aurel main, ya, Mbul?”
“Meow… meow… meow…”
Candra tersenyum, tangannya masih mengelus bulu Mbul. Sementara Mbul masih asyik makan sambil mengoceh. Memang semenjak Aurel lahir, Mbul kurang mendapatkan perhatiannya. Candra sibuk mengurus Aurel, begitu juga Juno.
Setelah menemani Mbul makan, Candra pun segera masuk ke dalam kamarnya. Malam sudah sangat larut bahkan saat ini sudah hampir tengah malam. Setelah berganti baju, Candra pun naik ke tempat tidur. Ternyata Juno juga ikut tiduran bersama dengan Aurel yang sudah sangat pulas. Pria itu beralih dari ponselnya saat melihat istrinya berada di sebelahnya.
“Kamu darimana? Kenapa baru naik?” tanya Juno meletakkan ponselnya di atas meja.
“Dari ngasih makan Mbul, terus ngobrol sama Mbul,” jawab Candra tersenyum.
“Hah? Ngobrol gimana?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.
“Tadi Mbul curhat, katanya dia cemburu sama Aurel. Kita terlalu fokus sama Aurel katanya,” jawab Candra menatap wajah polos putrinya saat tidur, kekehan muncul dari bibir Candra.
Sementara Juno hanya menggelengkan kepalanya, sepertinya istrinya ini sangat kelelahan jadi bicara ngelantur seperti ini.
“Oh ya, besok Aurel siapa yang jagain?” tanya Juno.
Pasalnya besok Candra akan ke studionya, sementara Juno seperti biasa pergi ke kantor. Memang jika seperti itu, biasanya Aurel akan dititipkan pada orang tua Juno atau Candra.
“Mama kamu besok mau ke sini katanya. Tadi siang juga aku udah ngomong kalo besok aku harus ke studio,” jawab Candra.
“Bagus deh kalo Mama bisa. Ya udah, sekarang tidur. Udah mau lewat tengah malam,” kata Juno. Candra mengangguk dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
...👠👠👠...