
Akibat dari omongan Candra yang tanpa disaring dan dipikirkan secara matang- matang terlebih dulu, kini wanita itu terkena imbasnya. Seperti contohnya pagi tadi, tidak ada angin tidak ada badai. Tiba- tiba saja Juno datang ke rumahnya, menemui orang tuanya, dan meminta izin untuk mengajak Candra jalan- jalan. Bu Maya yang setelah sekian lama tidak bertemu dengan Juno sempat dibuat bingung oleh pria itu. Namun setelah tahu, Bu Maya terlihat sangat antusias. Bahkan Mama Candra itu mengira jika Juno dan Candra sudah balikan. Mendengar ajakan Juno, tentu dengan tegas Candra menolak.
“Nggak. Hari ini gue mau kelarin deadline. Gue sibuk, jadi silahkan pulang,” tolak Candra.
“Astaga! Kamu kerja terus, sekali- kali libur nggak apa- apa. Lagian jangan terlalu kerja keras, bisa botak kamu,” ucap Bu Maya. “Udah ada Ifi sama Nisa juga. Juno, bawa aja anak Tante. Pulang nanti sore aja, ya?”
Candra memanyunkan bibirnya mendengar ucapan sang Mama. Akhirnya di sinilah Candra, di sebuah tempat yang entah apa namanya.
“Emang lo nggak ada kerjaan?” tanya Candra memecah keheningan.
“Udah ada yang handle,” jawab Juno tersenyum.
Candra heran dengan buaya di sebelahnya ini. Sejak bertemu setelah sekian lama, Juno sangat banyak tersenyum. Padahal semasa SMA dulu, Juno selalu pilih- pilih untuk menampilkan senyumannya.
“Kamu mau es krim? Atau mau naik itu dulu?” tanya Juno.
“Terserah lo.”
Juno mengajak Candra menaiki sebuah wahana. Rasa heran Candra bertambah, sejak kapan si buaya ini suka tempat seperti ini. Namun seketika Candra mengenyahkan pikiran itu. Masa bodoh, bukan urusannya. Hanya hari ini Candra akan menikmati semua wahana yang ada di tempat ini. Sudah sangat lama sejak terakhir dia berkunjung di tempat seperti ini.
“Aaaaa… hahahaha,” pekik Candra melengking dengan suara tawa yang loss doll.
Candra bersama Juno menaiki wahana roller coaster. Suara teriakan membahana ketika kereta itu meluncur dengan sangat cepat. Tidak ada raut takut di wajah Candra, malah dia merasa snagat senang. Sementara tanpa Candra sadari, daritadi Juno hanya terpaku pada wajah Candra.
“Mau naik apalagi?” tanya Juno menggenggam tangan kanan Candra.
“Nggak usah gandeng- gandeng,” ucap Candra melepas gandengan tangan Juno. “Lo yakin gue yang tentuin?” tanya Candra menaikkan alisnya menantang.
“Iya, hari ini kamu bebas mau lakuin apapun,” jawab Juno mengangguk- anggukkan kepalanya.
“Oke. Ayo ke sana!” tunjuk Candra pada sebuah wahana.
“Hah?” kaget Juno dengan wajah pias.
...👠👠👠...
Candra mengernyitkan dahi melihat Juno yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah ketakutan. Namun setelahnya wanita itu tersenyum miring. Salah satu kelemahan Juno adalah makhluk astral atau yang biasanya disebut dengan hantu.
__ADS_1
“Setan takut setan,” gumam Candra lirih dengan seringaian.
Tiba giliran mereka berdua masuk ke dalam rumah hantu ini. Candar berjalan di depan, sementara Juno mengekor di belakangnya.
“Anjier! Kaget!” pekik Juno, refleks dia memukul seseorang yang memakai kostum Om Poci.
Candra melotot melihat tindakan Juno. Om Poci itu jatuh tersungkur. Merasa kasihan dengan Om Poci, Candra berniat membantunya. Namun Juno menahan lengan Candra takut- takut.
“Jangan!” ucap Juno dengan suara gemetar.
“Ckck, kasihan Om Poci nggak bisa bangun sendiri. Lagian lo takut ya takut aja, nggak usah mukul juga,” gerutu Candra berhasil membangunkan Om Poci.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Om Poci dan kembali pada posisinya lagi.
“Maaf, ya,” balas Candra merasa bersalah.
Perjalanan mereka lanjutkan lagi. Kini mereka memasuki sebuah ruangan yang di desain seperti di ruang operasi. Gelap dan lembab, Juno dan Candra berjalan perlahan. Namun teriakan dari mulut Juno kembali terdengar.
“Candra! Ada yang narik kaki aku!” teriak Juno heboh memeluk erat Candra, tapi kakinya aktif menendang.
DUGG!
Setelah meminta maaf, Candra pun menyeret Juno untuk segera keluar dari sana. Dia takut jika akan lebih banyak korban lagi. Sementara Juno semakin mendekat pada Candra, matanya terpejam. Pria itu benar- benar ketakutan saat ini.
“Payah lo!” ledek Candra setelah keluar dari rumah hantu itu.
Juno menundukkan kepalanya merasa bersalah.
“Maaf, Yang. Sekarang kita kemana lagi?”
“Gue laper, mau makan,” jawab Candra berjalan lebih dulu meninggalkan Juno.
Juno tersenyum samar. “Lumayan bisa meluk,” gumam pria itu.
Dua orang itu pun menikmati makan siang di sebuah resto yang masih satu tempat dengan tempat wisata ini. Tangan Juno terulur untuk mengelap sudut bibir Candra yang terkena noda saos.
“Gue bisa sendiri,” ucap Candra menepis tangan Juno.
__ADS_1
“Ckck, aku cuma mau bantuin,” gumam Juno. “Hari ini kamu senang?” tanya Juno penuh harap pada Candra.
“Hmm, harusnya seneng kalo lo nggak ngerusak suasana di rumah hantu,” jawab Candra memutar bola matanya.
“Ya udah besok kita kencan lagi. Kita ke rumah hantu lagi, aku janji nggak akan takut.”
“Kencan palamu,” umpat Candra.
“Lho? Bener, kan? Kita memang lagi kencan.”
Candra menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan kelakuan Juno yang lebih mirip bocah SD. Ia pun tidak mempedulikan Juno lagi, Candra fokus pada makanannya. Sementara Juno asyik memandang wajah Candra dengan wajah mesem- mesem.
Setelah makan, keduanya kembali berjalan- jalan mengitari tempat ini. Tempat ini cukup ramai oleh pengunjung. Kurang lebih pukul lima sore barulah Candra ngotot minta pulang. Sebenarnya Juno masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Candra. Namun Candra mengancam akan pulang sendiri jika Juno tidak mengantarnya. Juno pun akhirnya menurut, lagipula jarak tempat ini dengan rumah Candra cukup jauh.
“Besok aku jemput, ya?”
“Kemana? Besok gue ke studio,” jawab Candra.
“Iya, aku antar kamu besok.”
“Nggak…”
“Aku nggak terima penolakan,” ucap Juno tegas membuat Candra mendengus sebal.
Candra pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menikmati pemandangan selama perjalanan. Langit sudah mulai berubah warna. Matahari yang tadi bersinar terang, kini digantikan oleh sang bulan.
‘Sial! Pake macet lagi,’ batin Candra melihat jalanan yang sangat padat, bahkan mobil mereka sama sekali tidak bergerak.
Juno meregangkan tangannya yang terasa kaku. Seharian ini dia benar- benar lelah, tapi ada rasa bahagia juga. Mobil Juno sudah terparkir di depan rumah Candra. Namun Candra ketiduran selama di perjalanan tadi. Lagi- lagi objek menarik bagi Juno adalah wajah cantik wanita di depannya ini. Pria itu tersenyum, tangannya menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Candra. Tapi senyum Juno memudar, digantikan oleh wajah seriusnya. Perlahan Juno mendekatkan wajahnya, pandangannya terkunci pada wajah polos Candra jika sedang tertidur.
CUP!
Bibir keduanya bertemu. Seperti ada sengatan listrik yang dirasakan oleh Juno. Sementara Candra terbangun, dia membulatkan matanya terkejut.
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otor Kyut 😗😗😗
__ADS_1