Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Diculik


__ADS_3

Beberapa hari ini Candra uring- uringan. Ifi dan Nisa yang melihat wajah Candra tentu heran. Tidak biasanya temannya ini marah- marah tidak jelas juga terkadang tiba- tiba saja memasang wajah galau. Sejak pagi tadi, Candra masih bertahan di balik meja kerjanya hingga sore ini. Tidak ada yang dilakukan wanita itu, dia hanya menatap ponselnya sejak berjam- jam yang lalu.


“Argh! Kenapa chat gue nggak ada yang dibaca?” tanya Candra berteriak frustasi menunjuk- nunjuk ponselnya. “Pergi ke pedalaman apa gimana tuh orang?” gumam Candra mendengus kesal.


Bukan tanpa sebab Candra bertingkah seperti ini. Juno sudah beberapa hari ini katanya pergi untuk perjalanan bisnis, tapi sama sekali tidak ada kabar. Bahkan nomor pria itu tidak aktif. Sudah puluhan chat yang Candra kirim, tapi hanya centang satu tanpa ada tanda- tanda nomor itu aktif. Tentu dia merasa frustasi. Sosok yang biasanya selalu merecokinya dengan chat- chat berisi gombalan, kini menghilang bak ditelan bumi.


“Gue balik dulu. Kalian boleh balik sekarang,” ucap Candra sudah menenteng tasnya.


“Iya lo balik duluan aja. Gue sama Nisa mau beresin ini dulu,” kata Ifi. Mereka berdua tadi memang sedang membereskan barang- barang yang nantinya akan di bawa ke Paris.


Lusa nanti Candra, Ifi, dan Nisa akan kembali ke Paris. Sedangkan Eric, pria itu sudah kembali beberapa hari yang lalu berkat omelan Novi. Eric yang pergi tanpa kabar membuat Novi marah, karena ternyata pria itu memiliki jadwal pemotretan. Akibat ulah Eric, pemotretan itu harus di tunda dan hal itu yang membuat Novi mengamuk. Akhirnya dengan hati yang berat, Eric kembali ke negara asalnya. Namun dengan kepergian Eric, membuat tiga wanita yang beberapa hari terus direcoki pria itu dapat bernapas lega.


Tangan Candra merogoh tas selempanganya, mencari ponselnya. Jarinya menari- nari di layar ponsel itu. Mengetikkan beberapa kata, lalu dikirimkan pada Juno. Lagi- lagi masih centang satu, membuat Candra kembali kecewa.


“Seenggaknya gue udah kasih kabar,” gumam Candra memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


Candra turun dari motornya, hendak membuka pagar rumah. Namun sebuah mobil mewah berhenti di sebelahnya. Tidak lama sosok wanita keluar dari mobil itu. Candra mengernyit memperhatikan wajah wanita itu. Sepertinya Candra mengenali wajah itu, tapi dia lupa pernah kenal dimana.


“Candra?” tanya wanita itu.


“Iya, saya Candra,” jawab Candra masih dengan ekspresi bingungnya.


“Angkut dia!” perintah wanita itu.


Candra membulatkan matanya melihat beberapa pria keluar dari mobil di belakang mobil mewah itu. Sinyal bahaya berbunyi di otak Candra, dia mengambil ancang- ancang untuk kabur. Namun terlambat, gerakannya sudah terbaca oleh pria- pria itu. Dalam hitungan detik Candra berhasil dilumpuhkan. Salah satu pria itu memukul tengkuk Candra dengan cukup keras, hingga menyebabkan wanita itu pingsan. Sementara wanita dengan mobil mewah itu tersenyum miring.


“Jangan pernah berani main- main sama gue!” gumam wanita itu dan kembali masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Mobil- mobil itu berjalan menjauh dari rumah Candra, meninggalkan motor wanita itu teronggok di depan rumah.


...👠👠👠...


Korea, pukul 20.00 KST


Seorang pria berbaring di ranjang. Tubuhnya sangat lelah setelah beraktivitas seharian ini. Sudah beberapa hari ini pria itu berada di negeri gingseng ini. Pria itu merogoh kantong celananya untuk mengambil benda pipih. Dia menatap ponselnya yang mati sejak kedatangannya di Korea.


“Sial, aku sangat rindu kamu,” ucap pria itu masih menatap layar ponselnya yang gelap.


Pria itu tak lain adalah Juno. Juno meninggalkan Indonesia beberapa hari yang lalu guna melancarkan rencananya. Juno membawa Nayla ke Korea untuk memenuhi janjinya pada gadis itu. Ponselnya pun sengaja dimatikan agar tidak bisa terlacak oleh sepupu Nayla. Tidak hanya Juno dan Nayla, ada juga beberapa orang kepercayaan Juno yang ditugaskan untuk mengurus semua keperluan gadis itu.


“Sabar, Sayang. Sebentar lagi permainan konyol ini akan segera berakhir,” gumam Juno memejamkan matanya.


Pagi harinya Juno menemui Nayla untuk memberikan berkas- berkas yang dibutuhkan oleh gadis itu. Mereka bertemu di sebuah resto. Sebuah ruang privat sengaja Juno sewa agar terjaga keamanan dan kerahasiaannya. Yayan menyerahkan berkas- berkas itu di atas meja. Nayla segera meraih berkas itu dan membacanya.


Nayla hanya mengangguk sekilas. Dia mengambil sebuah buku yang merupakan buku rekening sebuah bank. Mata Nayla melotot melihat nominal yang tertulis di sana. Jumlah itu sangat fantastis bagi Nayla. Lalu Nayla beralih pada kartu identitas. Tertulis ‘Kim Yoona’ di bagian nama.


“Jalani kehidupan lo yang baru di sini. Beberapa hari lagi pacar lo juga akan datang. Kalian bisa mulai hidup di sini,” jelas Juno.


Air mata Nayla menetes, dia benar- benar terharu. Ternyata seperti ini rasanya bebas dari belenggu yang sangat menyiksa.


“Terima kasih, Kak. Nayla janji akan tepatin janji Nayla,” ucap Nayla dengan air mata mengalir membasahi pipi gadis itu.


Setelah bertemu dengan Nayla, Juno menghembuskan napas leganya. Pria itu merasa kini semuanya sudah selesai. Namun nyatanya tidak demikian. Juno belum tahu apa akibat yang ditimbulkannya setelah membawa Nayla pergi diam- diam. Pria itu kembali ke hotel untuk berkemas. Besok hari dimana dia akan kembali lagi ke tanah air. Tentu Juno tidak sabar menantikannya. Ia sudah sangat merindukan Candra.


Juno yakin wanita itu sangat mengkhawatirkannya karena beberapa hari tidak ada kabar. Juno terkekeh membayangkan bagaimana ekspresi Candra begitu melihatnya lagi. Langkah Juno terhenti ketika Yayan menahannya. Dahi pria itu mengernyit melihat raut wajah Yayan yang terlihat panik.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Juno.


“Candra, Bos,” jawab Yayan.


Tiba- tiba saja firasat buruk melingkupi perasaan Juno. Wajah Juno mengeruh ada mendung di wajah tampan itu.


“Candra di sandera.”


“Siapa?” tanya Juno tajam.


“Mesya,” jawab Yayan.


“Cariin gue tiket pesawat buat malam ini.”


“Gengnya Rehan lagi cari keberadaan Candra sekarang. Jadi lo nggak per…”


“Terus gue cuma diem bengong aja? Hah? Gue nggak akan sepasrah itu!” bentak Juno, membuat beberapa orang di lobby hotel menoleh pada mereka. Sementara Yayan meringis, dia melihat kilatan amarah di mata Juno.


“Oke, gue cariin lo penerbangan malam ini,” kata Yayan akhirnya menyerah.


“Gue nggak akan biarin wanita gila itu sentuh calon istri gue! Kalo dia berani nyentuh Candra barang seujung kukunya. Mesya bakal mati di tangan gue,” ucap Juno dan berlalu dari sana. Meninggalkan Yayan yang menahan napasnya.


“Mesya bener- bener cari gara- gara sama Juno. Bener- bener mendekatkan ajal tuh orang,” gumam Yayan dan mengikuti Juno yang makin jauh.


...🥊🥊🥊...


Tertanda: Otor Kyut 😉

__ADS_1


__ADS_2