Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Peragaan Busana


__ADS_3

Sejak pagi tadi Candra sudah disibukkan dengan kegiatannya. Hari ini, dia akan menghadiri acara peragaan busana dan akan mengajak serta Aurel. Jadi sekarang Candra menyiapkan keperluan Juno terlebih dulu. Wanita itu sudah berkutat dengan bahan masakan dan alat- alat memasak. Sementara Juno masih asyik bermain dengan Aurel. Setelah masakan Candra matang, dia pun segera menyiapkannya di meja makan.


“Mas, sarapan dulu. Aku mau mandiin Aurel,” ucap


Candra berjalan menghampiri Juno yang sedang berada di ruang keluarga. “Aurel kamu apain?” tanya Candra begitu melihat Juno sedang memegang dua tangan putrinya itu.


“Aku latih tinju,” jawab Juno dan menggerakkan kedua tangan Aurel, pria itu menggerakkan seakan- akan bayi itu sedang meninju.


“Nggak usah aneh- aneh, cepet sana sarapan. Katanya pagi ini ada meeting?”


“Oh iya.” Juno langsung berdiri dan menuju meja makan.


Candra hanya geleng- geleng kepala, dia pun meraih Aurel dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Aurel yang melihat ada seember air di depannya terlihat sangat bahagia. Tangan dan kakinya aktif menendang.


“Astaga, sebentar. Copot dulu bajunya,” ucap Candra yang kewalahan dengan tingkah putrinya itu.


Suara tangis membahana di seluruh penjuru rumah. Tangisan kencang Aurel bahkan membuat Mbul terlonjak kaget. Alasan Aurel menangis karena dia tidak mau selesai mandi, bayi itu masih ingin berendam di dalam air. Sementara Candra dengan paksa mengangkat bayi itu keluar dari air.


“Nanti kamu masuk angin,” kata Candra pada Aurel.


Wanita itu menidurkan Aurel di atas tempat tidur dan dia segera mengambil baju ganti untuk bayi itu. Aurel masih menangis, dia berguling- guling di atas tempat tidur.


“Kan nyusruk kepalanya. Kalem sebentar nggak bisa, ya?” omel Candra geleng- geleng kepala melihat kepala Aurel terhimpit di antara bantal.


“Pakai dulu bajunya, terus lanjut sarapan,” ucap Candra.


Makin lama suara tangisan Aurel sudah tidak terdengar lagi, sepertinya bayi itu tenaganya sudah habis. Setelah memakaikan baju pada Aurel, dia pun membawa putrinya itu ke bawah untuk membuatkan bubur bagi Aurel.


“Udah selesai sarapannya?” tanya Candra pada Juno yang baru saja selesai mencuci piring.


“Udah. Aurel kenapa nangis?”


“Biasa, nggak mau keluar dari air. Kamu mau langsung berangkat?”


“Masih nanti, sini Aurel sama aku dulu.”

__ADS_1


Candra mengoper bayi itu pada Juno dan dia segera membuat bubur untuk sarapan Aurel. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat bubur itu.


“Aurel, makan dulu,” kata Candra.


Juno menatap datar pada bayi di depannya, wajahnya yang sudah bersih, kini ternoda karena semburan bubur putrinya. Sementara Aurel terlihat senang melihat wajah berantakan ayahnya. Juno misuh- misuh dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Candra dengan susah payah menahan tawanya.


“Aku berangkat sekarang, deh. Nanti kamu berangkat jam berapa?” tanya Juno yang sudah kembali dengan wajah bersih dan wangi.


“Jam sepuluhan.”


“Mau aku suruh Pak Sastro buat anter?”


“Nggak perlu, nanti aku naik B-car aja.”


Juno hanya mengangguk. Sedangkan Pak Sastro merupakan sopir kantor yang terkadang mengantar Juno jika sedang berdinas keluar dan Yayan tidak bisa mengantarnya. Pria itu mencium Candra juga Aurel.


PLAK!


Candra membulatkan matanya melihat adegan itu. Juno terdiam merasakan pipinya sedikit terasa sakit. Aurel baru saja menampolnya saat pria itu hendak mencium pipi chubby putrinya. Namun tanpa rasa bersalah, bayi itu malah bertepuk tangan disertai tawa bahagia.


“Udah, Mas. Sana berangkat, nangis lagi nanti Aurel.”


“Awas aja nanti, jatah susumu Ayah kurangi,” ancam Juno pada Aurel. Candra hanya bisa geleng- geleng kepala melihat tingkah suaminya.


...👠👠👠...


Candra dan Aurel sudah sampai di sebuah Mall terbesar di kota ini. Dimana sebuah peragaan busana akan di gelar. Candra berjalan masuk dengan Aurel berada dalam gendongannya. Suasana Mall sudah sangat ramai. Dia pun segera menuju tempat event yang ternyata juga sudah dipenuhi oleh orang- orang. Sebentar lagi acara akan dimulai dan Candra berharap jika putrinya ini tidak akan rewel selama acara berlangsung.


“Aurel tuh lihat kakak- kakaknya cantik,” ucap Candra menunjuk beberapa model yang tidak sengaja tertangkap oleh netranya, model- model itu sedang bersiap untuk acara ini.


Peragaan busana sudah dimulai, Candra bertepuk tangan bersama dengan beberapa orang di sekitarnya ketika perancang busana keluar untuk memberi sambutan. Aurel terlihat sangat fokus menatap ke arah panggung yang ada di depannya, tidak lupa dengan mengemut tangannya. Ternyata keberadaan bayi itu menarik beberapa pengunjung.


“Namanya siapa? Lucu banget,” tanya salah seorang tamu pada Candra yang kebetulan mereka duduk bersebelahan.


“Namanya Aurel,” jawab Candra tersenyum.

__ADS_1


“Pinter, ya? Nggak rewel, sering diajak datang ke event?”


Candra menggeleng. “Belum pernah, ini yang pertama kali. Ternyata nggak rewel, tadinya saya juga takut kalau di tengah acara dia mendadak rewel.”


“Sepertinya nggak akan rewel, malah kelihatan tertarik sepertinya.”


Benar apa yang dikatakan orang itu, sampai acara berakhir Aurel sama sekali tidak menangis dan membuat keributan. Sejak acara berlangsung, mata bayi itu tidak pernah lepas dari para model yang berlenggak- lenggok di atas catwalk. Acara sudah selesai dan beberapa orang sudah membubarkan diri. Candra mengernyit ketika Aurel mengulurkan tangannya pada sesuatu. Wanita itu pun melihat apa yang ditunjuk oleh putrinya.


“Aurel mau apa? Mau minta bunga? Nanti Bunda beliin, sekarang makan dulu, ya?”


Namun bukannya menurut, bocah itu malah semakin gencar meminta Candra agar mendekati seseorang. Akhirnya Candra pun menurut, dia menghampiri seorang model pria yang sedang dimaksud Aurel tadi. Kebetulan model itu sedang membawa buket bunga dan sekarang sedang berbincang dengan seorang temannya.


“Permisi,” ucap Candra.


‘Demi anak, nih,’ batin Candra.


“Iya?” tanya model itu membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Candra.


“Anu, boleh minta bunganya? Putri saya ingin bunga yang anda pegang,” tanya Candra meringis menahan malu.


“Ya? Ah boleh. Buat adeknya ini, ya?” jawab dan tanya model itu, pria itu pun memberikan buket itu pada Aurel.


Namun mendadak Candra maupun pria itu terkejut saat ternyata Aurel membuang bunga itu. Lalu kedua tangan bocah itu terulur pada model tersebut, bermaksud untuk meminta gendong. Tentu Candra sebagai emaknya benar- benar merasa malu dengan tingkah anaknya ini. Pria di depannya ini sangat baik, dia mau menggendong Aurel yang langsung nemplok begitu saja.


“Lucunya, namanya siapa?” tanya pria itu.


“Aurel namanya. Maaf, ya? Kadang tingkahnya memang aneh,” ucap Candra merasa bersalah.


“Nggak masalah, Aurel lucu. Nggak takut sama orang asing, ya?”


Candra hanya meringis mendengar penuturan pria model itu, sementara matanya menatap Aurel yang terlihat sangat nyaman berada dalam gendongan pria model itu.


...🥊🥊🥊...


Pantesan Aurel betah digendong 🤧🤧🤧

__ADS_1



__ADS_2