
Ruang tamu di rumah Candra hari ini banyak hiasan ala pesta ulang tahun. Balon- balon, kertas krep, dan pita- pita menghiasi dinding ruang tamu. Semua keluarga Candra maupun Juno juga berkumpul di rumah ini. Tidak hanya keluarga, anak- anak sekitaran komplek juga turut hadir di rumah Candra dan Juno. Mereka semua hendak merayakan ulang tahun Aurel yang ke- satu tahun.
Sejak acara belum dimulai, Candra sudah sangat sibuk bersama beberapa anggota keluarganya untuk menyiapkan pesta ini. Bukan pesta yang meriah dan megah memang, tapi Candra juga ingin memberikan yang terbaik bagi Aurel maupun tamu undangan yang datang. Candra dan Juno memang sengaja hanya mengundang keluarga dan beberapa anak- anak di sekitaran rumah mereka.
“Sorry, telat. Gue bantu apa nih?” tanya Lia yang baru saja datang.
“Gara sama Seina mana?” tanya Candra.
“Sama bapaknya di depan, main sama Aurel kayaknya.”
“Nih, bantuin gue bawa ke depan.”
Lia mengangguk dan segera melaksanakan apa yang diperintah oleh Candra. Sebentar lagi acara akan dimulai. Para anak- anak juga sudah duduk manis di lantai dengan beralaskan karpet. Sementara di depan mereka ada sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah kue ulang tahun dengan bentuk tokoh kartun kesukaan Aurel, yakni Shinbi si goblin hijau.
Aurel bersama dengan Juno duduk di balik meja, bayi itu terlihat sangat senang dengan kedatangan orang- orang ke rumahnya. Sementara tidak jauh dari tempat Aurel dan Juno, di sana ada Seina dan Anton. Sepertinya Seina juga terlihat sangat tertarik dengan kue di atas meja, di sebelah Seina ada Gara yang sedang mengunyah makanan yang disediakan Candra tadi.
“Oke, acaranya di mulai, ya?” ucap Candra.
Juno mengangguk dan dia memberikan sambutan serta rasa terima kasih pada semua tamu yang hadir. Lalu dia meminta semua orang untuk menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ bagi Aurel. Semua orang bernyanyi dan bertepuk tangan. Hal itu membuat Aurel dan Seina langsung berdiri dengan bersandar pada meja. Kedua bayi lucu itu menari mengikuti irama nyanyian yang dinyanyikan orang- orang. Melihat tingkah dua bayi itu, spontan mereka tidak bisa menahan tawanya.
“Tiup lilinnya… tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga… sekarang juga… sekarang juga…”
Karena Aurel belum bisa meniup lilin, alhasil Candra dan Juno sebagai perwakilan untuk meniup lilin itu. Api di lilin itu mati dan suara riuh tepuk tangan membuat suasana makin ramai, bahkan Seina juga ikut bertepuk tangan dengan semangat.
“Potong kuenya… potong kuenya… potong kuenya sekarang juga…”
__ADS_1
Juno mengambil pisau plastik dan meraih tangan Aurel, bermaksud untuk menuntun bayi itu mengikutinya memotong kue tersebut.
PLOK!
Seketika suasana hening seketika. Kejadian tak terduga baru saja terjadi. Entah datang dari mana, tiba- tiba saja Seina mencomot kue ulang tahun milik Aurel. Sementara sang pemilik kue hanya terdiam menatap kue ulang tahunnya sudah hancur tak berbentuk.
Hanya hitungan detik saja, suasana kembali ramai. Suara tangis histeris Aurel memenuhi rumah. Bayi itu berusaha meraih Seina dan hendak membalas dendam dengan menampol kepala bayi itu. Sementara Seina yang tidak paham situasi yang sedang terjadi akibat ulahnya, dengan santai memakan kue yang tadi baru di raihnya. Dia menonton Aurel yang menangis dengan tenang.
“Astagfirullah, maaf. Seina, nggak boleh gitu,” tegur Anton menatap putrinya tanpa rasa bersalah mukbang kue ulang tahun warna hijau itu. “Ayo minta maaf sama Aurel,” perintah Anton dan berusaha merebut kue di tangan Seina.
Kue berhasil di rebut, tapi kini ganti Seina yang menangis histeris. Bayi itu mencoba merebut kembali makanannya di tangan sang Papi. Acara hari ini benar- benar kacau akibat tingkah dua bayi itu. Namun bagi orang dewasa hal itu merupakan momen lucu yang tidak akan terlupakan.
“Udah, nggak apa- apa. Sei, nih ambil lagi kuenya. Tenang, masih banyak kok,” kata Candra berusaha menenangkan Seina yang masih menangis, begitu juga dengan Aurel. Dia masih tidak terima kuenya hancur.
“Nggak apa- apa, malah menghibur. Tingkah mereka lucu,” ujar Bu Maya yang masih belum bisa menghentikan tawanya. “ Sini Aurel sama Nenek, nanti Nenek kasih jajan yang banyak.”
Mendengar ucapan Bu Maya, Aurel spontan menoleh dan tangisnya terhenti. Lagi- lagi tingkah bayi itu membuat tawa hadir di antara mereka.
“Nih, Sei. Kuenya buat kamu,” kata Candra memberikan piring plastik berisi potongan kue.
Tangisan Seina juga spontan terhenti, bayi itu kini sibuk dengan sepiring kue di depannya. Baju dan wajah bayi itu banyak terkena krim kue, Seina terlihat seperti badut saat ini.
...👠👠👠...
Acara sudah selesai, para tamu juga sudah pulang ke rumah masing- masing. Candra dan para emak- emak gotong royong membereskan semua piring- piring kotor di dapur. Sementara para bapak bertugas menjaga anak- anak mereka. Aurel dan Seina sedang bermain bersama di ruang tamu. Keduanya terlihat sangat akur bermain dengan balon, suara tawa menghiasi wajah keduanya.
__ADS_1
“Nah, akur gini, kan, enak dilihatnya,” ucap Anton yang menonton putrinya.
“Biasa, bocah kalau berantem juga paling cuma lima menit. Setelah itu pasti lupa,” tambah Juno.
Di sini juga ada Tian dan Nata. Para bapak posyandu itu mengawasi anak- anak mereka yang sedang asyik bermain, kecuali Nata. Pria itu sebentar lagi akan menjadi calon bapak, saat ini istrinya sedang mengandung anak pertamanya.
“Nih, dimakan.” Candra datang membawa sepiring jajanan dan meletakkannya di atas meja.
Wanita itu duduk di sebelah Juno yang masih memperhatikan tingkah Aurel. Sementara Aurel, tiba- tiba saja dia berhenti bermain. Kepalanya menoleh dan matanya menatap meja. Dengan semangat empat lima, bayi itu merangkak menghampiri meja dimana ada makanan di sana.
“Eits, nggak boleh. Aurel belum bisa makan ini,” kata Juno spontan mengangkat piring itu tinggi- tinggi agar tidak bisa dijangkau oleh putrinya.
Ekspresi Aurel sudah menunjukkan kekecewaan dan sebentar lagi siap menangis. Namun, Candra langsung menyodorkan piring plastik berisi potongan buah untuk bayi itu. Tangis yang hampir pecah itu kembali tertelan. Tangan Aurel dengan gesit mencomot buah itu dan segera memasukkannya ke dalam mulut.
“Dimakan bareng temen- temennya,” perintah Candra.
Aurel mencomot sepotong pisang yang berukuran kecil, lalu dia mengulurkannya pada Seina yang kebetulan berada di sebelahnya. Setelah Seina menerima pisang itu, Aurel menjauhkan piring plastik miliknya pada Seina yang hendak kembali meraih buah itu. Melihat hal itu membuat Candra menepuk jidatnya.
“Persis kayak emaknya. Pelit sama makanan,” celetuk Lia geleng- geleng kepala.
...🥊🥊🥊...
Shinbi 👋👋
__ADS_1