
Mereka menjalin hubungan hingga SMA, walau Candra dan Juno tidak satu sekolah, Juno tetap mengantar dan menjemput Candra. Orang tua Candra juga sudah mengenal Juno, mereka memperbolehkan anak semata wayangnya itu menjalin hubungan setelah melihat nilai Candra yang tidak menurun. Begitu pula dengan orang tua Juno yang malah sangat mendukung, karena menurut mereka Juno sudah banyak berubah kearah yang lebih positif setelah mengenal Candra.
“Jun…” Candra mengurungkan niatnya masuk ke kamar Juno, didalam sana Juno sedang menerima telpon dari seseorang entah siapa. Namun aura di dalam sana terlihat amat mencekam.
“Seperti perjanjian, gue udah berhasil buat dia cinta sama gue. Lo harus tepatin janji lo! Brengssek!”
Candra menahan nafasnya, ia masih menguping, kakinya terasa kaku untuk melangkah. Kepala Candra sudah muncul berbagai pertanyaan.
“Gue tunggu bagian gue! Langsung gue ambil malam ini juga. Heh? Candra? Langsung gue putusin setelah gue dapet bayarannya. Gue tunggu taruhan selanjutnya, kalo oke gue ikut.”
Candra bergegas turun, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Ia berjengkit kaget saat Mama Juno tiba- tiba muncul.
“Lho? Udah ketemu Junonya?”
“Ah udah, masih ganti baju. Candra tunggu di bawah aja,” jawab Candra berbohong.
Sakit? Tentu saja. Candra tidak menyangka jika selama ini dirinya hanya barang taruhan bagi Juno. Dua tahun setengah bukanlah waktu yang singkat. Candra masih duduk di sofa menunggu Juno turun. Tadi Mama Juno pamit pergi arisan. Candra masih tidak menyangka Juno tega padanya. Candra meneguk minumannya cepat untuk menghilangkan rasa sakit didadanya.
“Kok nggak langsung naik aja?” tanya Juno menuruni tangga.
“Ah nggak, aku juga nggak bisa lama- lama.”
“Kenapa? Kamu habis ini ada acara?”
“Hmm, i… iya.”
Juno menatap Candra curiga, dirinya tahu kalau saat ini Candra tengah berbohong. Namun cowok itu tak mau ambil pusing, ia merebahkan tubuhnya dengan paha Candra sebagai bantalan.
“Kemana?” tanya Juno dengan suara teredam karena ia tengah memeluk perut Candra.
“Mau pergi sama Vina.”
“Hmm, abis ini aku antar pulang,” gumam Juno memejamkan matanya.
Sementara Candra menatap Juno sedih, dia kecewa pada Juno. Ia berharap Juno menceritakan perihal dirinya yang ternyata dijadikan taruhan. Tangan Candra bergerak mengelus rambut Juno. Sementara Juno tersenyum samar merasakan sentuhan lembut Candra.
...👠👠👠...
“A… aku mau kita putus,” ucap Candra suatu hari setelah mengumpulkan semua keberaniannya.
“Hah? Kamu bercanda!”
__ADS_1
“Aku nggak bercanda, Jun.”
“Jadi ini alasan kamu ajak aku keluar?”
“Iya. Aku mau kita putus baik- baik. Udah Cuma itu yang mau aku sampein.” Gadis itu hendak masuk ke rumah, tapi tangannya dicekal erat membuatnya meringis kesakitan.
“Nggak! Aku nggak mau putus! Candra! Kenapa kamu tiba- tiba gini sih? Aku ada salah sama kamu?”
Candra memejamkan matanya menahan perih dimata dan pergelangan tangannya. Ia berbalik untuk menatap Juno yang meminta penjelasan.
“Aku tau kamu nggak bener- bener suka sama aku. Aku cuma barang taruhan, kan?”
“Ngom…”
“Aku udah tau semuanya, Jun. Aku kira kamu udah berubah, ternyata kamu masih sama,” ucap Candra, air matanya sudah mengalir deras membasahi pipi.
“Kamu nggak perlu merasa bersalah, karena ini juga salah aku yang terlanjur cinta kamu.”
Cekalan di tangan Candra mengendur dan ia menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Juno yang tersadar segera mengejar Candra, ia menggedor pintu rumah Candra.
“Nggak! Kamu salah paham. Candra! Buka pintunya!”
Namun nihil, Candra tidak menggubris teriakan Juno. Rumahnya sepi, kedua orang tua Candra tidak berada di rumah saat ini. Ada perasaan takut didalam hati Candra jika Juno berhasil mendobrak pintu rumahnya. Namun beruntungnya hal itu tidak terjadi.
Candra memijit kepalanya yang terasa berdenyut, setelah percakapannya dengan Nayla tadi tiba- tiba kepalanya terasa sangat berat. Nayla menanyakan semua keingintahuannya tentang Juno pada Candra dalam satu waktu, tentu hal itu membuat Candra lelah.
“Can, ada Pak Dokter di bawah,” panggil Nisa. “Lo kenapa?” tanya Nisa melihat rupa Candra yang acak- acakkan.
“Nggak apa- apa. Jam berapa sih?”
“Jam satu siang.”
Mendengar jawaban dari Nisa membuat mata Candra membulat sempurna. Pantas saja kepala Candra terasa berdenyut juga telinganya terasa panas, hampir empat jam dirinya mengoceh tiada henti untuk menjawab semua pertanyaan dari Nayla.
“Suruh tunggu sebentar, gue bentar lagi turun.”
“Oke, lama juga nggak apa- apa. Itung- itung bisa cuci mata sebentar,” ucap Nisa kembali turun ke bawah.
Candra mendengus mendengar ucapan absurd Nisa. Wanita itu segera menyisir rambutnya yang acak- acakkan dan memoles wajahnya yang terlihat seperti gembel. Setelah selesai, Candra bergegas turun untuk menemui Teo.
Sesampainya di bawah, Teo sedang bergerak tidak nyaman karena di tatap oleh Nisa secara terang- terangan. Bahkan Nisa sempat menawarkan membuatkan baju untuk Teo. Candra yang mendengar hal itu menahan malunya, begitu juga dengan Ifi yang sudah muak dengan tingkah absurd temannya itu.
__ADS_1
“Ayo berangkat, Can,” ajak Teo begitu melihat Candra datang. Hal itu membuat Nisa mendengus.
“Gue keluar dulu, ya? Kalo ada apa- apa, hubungi gue,” pamit Candra.
“Hati- hati di jalan Pak Dokter,” ucap Nisa melambaikan tangannya.
“Lo mau ajak gue kemana?” tanya Candra setelah memasuki mobil Teo.
“Ke café Kenangan,” jawab Teo mulai melajukan mobilnya.
Candra terdiam, dalam hati merutuki Teo yang hendak mengajaknya ke café itu. Candra masih ingat kenangannya di café itu. Bagaimana dulu teman sekelasnya memberi kejutan ulang tahun yang ternyata semua itu ide dari Teo.
“Oh masih buka cafénya?”
“Masih, malah cafénya makin ramai.”
“Ah, hahahaha. Gue nggak akan lupa sama kelakuan kalian ngerjain gue,” ucap Candra dengan pandangan penuh dendam.
Teo hanya meringis, ternyata hal itu yang diingat Candra. Apakah Candra sudah lupa dengan adegan pernyataan cinta Teo?
Teo dan Candra sampai di café itu, benar ternyata café itu ramai pengunjung yang kebanyakan adalah anak- anak remaja. Belum ada yang berubah dari café ini semenjak baru buka dulu. Candra duduk di salah satu meja diikuti oleh Teo. Seorang pelayan menghampiri mereka untuk mencatat pesanan.
“Makanan dan minumannya masih sama, ya? Cuma harganya yang makin mahal,” gumam Candra, tapi masih bisa didengar oleh pelayan itu.
Teo berdehem. “Lo mau pesen apa?”
“Lo traktir, kan?” tanya Candra memastikan.
“Lo ternyata nggak berubah, ya?” ungkap Teo takjub.
“Pujian atau hinaan itu? Gue pesen ini, deh,” tunjuk Candra pada sebuah menu.
“Oke, berarti yang ini sama ini, Mbak.”
“Baik, silahkan tunggu sebentar.”
“Can, kalo seandainya gue nembak lo lagi. Apa jawaban lo masih sama?” tanya Teo setelah pelayan itu pergi. Candra mendongak menatap wajah serius Teo.
...👠👠👠...
Tertanda: Otornya bafer eh lafer
__ADS_1