Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Nikmati Dulu


__ADS_3

Hari ini Candra mendapat kabar jika Lia melahirkan dan sore ini pun setelah pulang dari studionya, Candra bersama Juno berniat menjenguk Lia di rumah sakit. Sebelumnya mereka mampir terlebih dulu ke toko buah untuk membelikan Lia buah tangan.


“Anaknya cewek apa cowok?” tanya Juno yang masih fokus pada jalanan.


“Cowok kata Lia,” jawab Candra yang matanya fokus pada layar ponsel.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit tempat Lia di rawat. Keduanya segera menuju pusat informasi untuk menanyakan dimana ruangan Lia.


“Mawar tiga, di lantai dua,” jawab perawat itu.


“Terima kasih,” ucap Candra dan segera mencari ruangan itu.


Ruangan yang Candra dan Juno cari ketemu. Candra mengetuk pintu pelan dan masuk ke dalam setelah dipersilakan oleh Anton yang membuka pintu.


“Lho? Candra? Kalian nggak ngomong mau ke sini,” kaget Anton.


“Sengaja, biar kaget lo pada,” jawab Candra segera menghampiri Lia yang sedang menggendong bayinya.


“Nggak kalah ganteng sama anaknya Vina, kan?” tanya Lia memamerkan wajah bayinya.


“Iyain aja biar emaknya seneng,” jawab Candra ogah- ogahan. “Nah, pas. Orangnya telepon,” lanjut Candra menunjukkan ponselnya yang layarnya berkedip tanda ada panggilan masuk.


“Halo, Vin?” sapa Candra. “Video call aja, ya?”


“Boleh,” jawab Vina.


Mereka pun beralih ke video call. Candra menyorotkan ponselnya pada Lia dan sang bayi, hal itu membuat Vina spontan memekik.


“Wuih, Lia udah brojolan. Cewek apa cowok?” tanya Vina.


“Cowok, Vin,” jawab Lia tersenyum.


Tawa menggema di dalam kamar rawat Lia. Masih dengan Vina bersama dua jagoan kecilnya. Guyonan yang Candra lemparkan membuat suasana menjadi ceria. Kini bayi Lia berada dalam gendongan Candra. Wanita itu menatap wajah bayi yang akan diberi nama Muhammad Anggara Pratama.


“Gue bawa pulang boleh?” tanya Candra menatap kedua orang tua Gara dengan tatapan polos.

__ADS_1


“Gue jitak lo,” ucap Anton galak. “Susah gue buatnya,” lanjut pria itu.


Candra mencibir mendengar ucapan Anton yang sewot itu. Lalu Candra kembali beralih pada Gara yang tertidur lelap dalam gendongannya.


“Lo udah cocok jadi emak- emak, Can,” ledek Lia.


“Iya makanya karena udah cocok, Gara gue bawa pulang.”


“Yaa, jangan anak gue juga lo bawa pulang.”


Candra tertawa dan mengembalikan Gara pada ibunya. Hari sudah semakin larut dan sebentar lagi juga jam besuk sudah habis. Candra dan Juno pun memutuskan untuk pamit pada kedua pasangan itu.


Candra dan Juno tidak langsung pulang ke rumah, mereka mampir ke sebuah resto terlebih dulu untuk makan malam. Tadinya Candra menolak, wanita itu menawarkan diri untuk memasak sendiri saja. Namun Juno melarang dengan alasan tidak mau sang istri kelelahan.


“Kamu nggak boleh terlalu capek, Yang. Ingat kata dokter waktu itu.”


Memang beberapa hari yang lalu, Candra dan Juno memutuskan untuk konsultasi ke seorang dokter kandungan. Mereka ingin memeriksakan diri apakah ada masalah atau tidak. Ternyata memang akhir- akhir ini Candra mengalami stress akibat bekerja. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mereka belum diberi buah hati. Banyak deadline yang harus Candra selesaikan sampai akhir tahun ini.


“Kamu nggak bosen makan toge mulu?” tanya Candra mengernyitkan dahinya melihat makanan yang di pesan Juno.


Candra hanya menggelengkan kepalanya melihat lahapnya Juno memakan sayuran itu. Selain sering konsultasi, Candra dan Juno juga sebisa mungkin mengubah pola hidup mereka. Keduanya kini rajin berolahraga dan menerapkan pola makan yang sehat. Semua itu demi buah hati yang sudah lama mereka dambakan kehadirannya.


Hampir satu tahun usia pernikahan Candra dan Juno, tapi keduanya belum juga diberi amanah momongan oleh Tuhan. Memang orang tua Candra maupun Juno tidak mendesak keduanya. Namun tetap saja mereka akan terus berusaha agar bisa memberi cucu pada orang tuanya.


“Nggak usah buru- buru, Can. Kalian nikmati dulu masa- masa berdua. Percayakan saja semuanya pada Tuhan,” begitu kata Bu Maya ketika Candra mengeluh.


“Kalo udah ada anak pasti beda, waktu buat berduaan jadi kurang. Nanti fokus kalian lebih sering ke anak,” tambah Bu Felin.


Candra sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat pengertian dan mengerti dirinya. Lamunan Candra buyar ketika Juno menoel- noel dagunya.


“Lagi mikir apa sih?” tanya Juno.


“Lagi mikirin kamu. Kok tambah ganteng, ya?”


“Eh? Beneran? Aku ganti sabun cuci muka kemarin, ternyata beneran ampuh tuh sabun,” jawab Juno percaya diri, tangannya mengusap- usap dagu dengan senyuman pongah.

__ADS_1


Candra menatap datar pada Juno, menyesal telah memuji suaminya. Lihat searang, Juno mesem- mesem kepedean.


“Oh ya, besok ada turnamen. Aku boleh ikut?”


“Dimana?” tanya Candra mengernyitkan dahi.


“Di GOR.”


“Boleh, tapi jangan sampai luka parah. Aku nggak mau jadi janda muda.”


“Ya nggak dong, Yang.”


“Aku boleh nonton?” tanya Candra penuh harap.


“Nggak boleh!” pekik Juno dengan kuah muncrat ke wajah Candra.


Juno memang tidak pernah mengizinkan Candra menontonnya bertanding. Alasannya tentu saja karena di sana nanti akan banyak buaya yang siap memangsa wanita- wanita bening seperti Candra. Jika Juno tidak sedang bertanding, dia pasti akan mengajak Candra karena bisa mengawasinya.


Namun jika pria itu yang bertanding, dia tidak bsia mempercayakan Candra pada teman- temannya. Pernah suatu ketika saat Juno bertanding dan diam- diam Candra menonton sang suami, hampir saja wanita itu digondol seorang buaya jantan.


“Udah aku bilang jangan dateng kalo aku lagi tanding. Nggak ada yang jagain kamu,” ucap Juno dengan napas ngos- ngosan karena baru saja berkelahi dengan pria yang tadi hendak menggondol Candra.


“Maaf, aku cuma pengen liat kamu di atas ring. Aku belum pernah lihat soalnya,” jawab Candra menundukkan kepalanya merasa bersalah pada Juno.


“Aku nggak bisa percayain kamu ke temen- temen aku, karena mereka juga sama aja,” tambah Juno melirik tajam pada Yayan dan Damian yang langsung membuang pandangan mereka. “Lagian kamu mau aku latih beladiri nggak mau.”


“Kan, ada kamu yang bisa lindungi aku,” jawab Candra tersenyum lebar.


“Iya, bener juga. Utututu, bininya Abang Juno gemesin banget,” ujar Juno memeluk Candra erat.


Sementara Yayan dan Damian berasa kontrak di sini, keduanya kompak mencibir tingkah Juno dan Candra yang bermesraaan tidak tahu tempat dan perasaan orang lain.


Canda tersenyum samar jika mengingat hal- hal manis itu. Matanya masih belum bisa terpejam, dia menatap pada Juno yang sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Jika tidur seperti ini memang ketampanan Juno bertambah berkali- kali lipat, berbeda jika pria itu sedang membuka matanya. Candra memeluk erat Juno dan mulai menjelajah alam mimpi.


...👠👠👠...

__ADS_1


Tertanda: Otornya Mbuhlah 💃💃💃


__ADS_2