
Hari ini suasana di rumah Candra sudah sangat ramai oleh banyak orang. Keluarga besar Candra termasuk Mbul berkumpul di rumah ini. Acara yang dinantikan oleh Candra dan Juno akan segera di mulai. Candra sudah sangat cantik dengan memakai gaun berwarna gold. Dia masih berada di dalam kamar, ditemani oleh beberapa orang teman- teman dari IPA 5. Namun hanya teman perempuannya yang menemani, sementara yang laki- laki menunggu di luar.
“Deg- degan nggak lo?” tanya Erin.
“Nggak, B aja,” jawab Candra, mulutnya mengunyah kue yang tadi diambil oleh Vivin.
“Hilih bohong. Gue sumpahin nanti lo mules,” ucap Vina dengan mulut pedasnya.
“Jahat banget lo, Vin. Lo masih dendam sama insiden batu itu? Lagian salah lo sendiri, kenapa tuh batu masih lo pegang. Bukannya di buang dulu.”
“Ya, kan, gue lupa waktu itu,” ujar Vina mengerucutkan bibirnya.
Bu Maya masuk dan menyuruh Candra untuk keluar menemui para tamu yang sudah hadir. Acara malam ini hanya dihadiri oleh keluarga Juno dan Candra beserta teman- teman dekat mereka. Bukan acara yang mewah mengingat kedua pasangan itu sedang mengumpulkan biaya guna pernikahan nanti. Tiga teman Candra di Paris juga tidak bisa hadir, tapi ketiganya akan melakukan video call untuk menyaksikan acara pertunangan itu.
Seorang MC yang tidak lain adalah Bara dan Andy memulai acara. Candra mendengus, merasa menyesal telah mempercayakan keduanya untuk menjadi MC pada acara malam ini. Bagaimana tidak? Sejak tadi Bara dan Andy hanya bicara ngalor- ngidul membeberkan aib Candra sejak masa sekolah dulu.
“Hiks, nyesel kasih mereka buat nge- MC,” gumam Candra. “Jun, potong aja nanti bayaran mereka,” bisik Candra pada Juno yang berdiri di sampingnya.
“Dulu kamu pernah tawuran, Yang?” tanya Juno membulatkan matanya menatap Candra.
“Nggak pernah! Bohong semua omongan mereka,” jawab Candra menggelengkan kepala, lalu wanita itu menatap tajam pada dua MC bobrok itu.
“Baik, karena si calon mempelai wanita sudah memelototi saya. Mari kita mulai acara pertukaran cincin pada malam hari ini,” ucap Bara yang membuat tamu yang hadir kompak tertawa.
“Silahkan Candra dan Juno saling memasangkan cincin seharga satu M itu,” tambah Andy.
Candra terkena mental breakdance malam ini. Dia benar- benar dibuat malu oleh tingkah teman- temannya itu. Juno memasangkan cincin di jari Candra, begitu juga sebaliknya. Suara riuh tepuk tangan menggema memecah keheningan malam.
“Selamat untuk pasangan yang baru saja meresmikan status baru menjadi bertunangan. Semoga keduanya langgeng sampai nanti naik ke pelaminan,” tutur Andy.
“Acara selanjutnya, silahkan untuk para tamu undangan menikmati hidangan yang telah disediakan. Juga untuk para biduan bisa naik panggung sekarang,” tambah Bara.
Candra menghampiri dua MC itu dengan wajah yang sudah memerah menahan malu. Sementara Bara dan Andy kompak sudah kabur dari sana. Acara malam ini sangat meriah yang tua dan muda berbaur menjadi satu menikmati acara ini. Juno tidak banyak mengundang teman- temannya, hanya Yayan dan dua orang lainnya yang Candra tidak kenal.
__ADS_1
Bu Felin tidak memperbolehkan teman satu geng Juno di undang pada malam ini. Beliau khawatir jika acara pertunangan ini berubah menjadi acara tawuran. Tidak jauh dari tempat teman- teman Juno berkumpul, ada Nata yang matanya selalu mengawasi gerak- gerik mereka.
“Si Rehan nantang apa gimana? Kenapa natapnya gitu amat?” tanya salah satu teman Juno.
“Udah biarin. Inget kata Bos, kita jangan bikin ulah,” jawab Yayan.
“Ngomong- ngomong, temen- temen cewek tunangan si Bos cantik- cantik.”
Yayan hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan salah satu temannya. Matanya tanpa sengaja kembali menatap Nata yang ternyata masih mengawasi. Yayan hanya meringis di tatap seperti itu.
Candra duduk bersama dengan teman- temannya, tidak lupa ada Juno yang sedaritadi mengekori wanita itu. Sedangkan Candra sebenarnya sudah jengah dengan perilaku tunangannya itu. Tadi Candra sudah menyuruh Juno untuk menemui teman- temannya sendiri, tapi pria itu bersikeras tetap ingin mengekor pada Candra.
“Mumpung kita lagi kumpul, nih gue bagi undangan,” ucap Anton membagikan undangan pernikahan pada teman- temannya.
“Beneran mau nikah lo?” tanya Damian yang masih belum percaya. “Sama si Lia?”
“Lo bisa baca nama yang tertera di undangan itu,” sewot Anton.
“Si Sipit sewot amat,” celetuk Bara yang sedang menikmati jajanan yang tersedia.
“Mulut lo, Ngab! Minta di tampol emang.”
Mendadak meja itu menjadi hening. Para perempuan mengernyitkan dahi mendengar perkataan Anton tadi. Pasalnya memang mereka tahunya yang naksi Nina adalah Teo.
“Lho? Bukannya Tayo yang naksir Nina?” tanya Erin.
“Bukan gue,” jawab Teo menggelengkan kepalanya.
...👠👠👠...
Acara sudah selesai kurang lebih satu jam yang lalu. Para tamu undangan juga sudah pulang ke rumah masing- masing. Namun di kediaman Candra masih ramai dengan keluarga Juno, mereka masih berbincang entah membahas apa. Sedangkan Candra dan Juno mojok di halaman belakang.
“Kamu berarti nggak jadi ke Paris minggu depan, kan?” tanya Juno.
__ADS_1
“Nggak, nanti aja setelah acaranya Lia selesai,” jawab Candra, kepalanya bersandar pada bahu Juno.
“Kapan urusan di Paris selesai? Kamu bisa lanjutin buka studio di Indonesia, nggak perlu jauh- jauh ke Paris.”
“Iya, nanti. Ini juga masih dipikirin. Lagipula usaha ini bukan cuma punya aku. Masih ada Novi, Ifi, Nisa. Nggak bisa tiba- tiba aku mutusin sendiri.”
Mendengar hal itu Juno mengerucutkan bibirnya, tapi dia juga membenarkan ucapan Candra. Candra menoleh melihat wajah Juno, kernyitan di dahinya muncul.
“Kenapa tuh bibir?” tanya Candra.
“Cium,” tunjuk Juno pada bibirnya yang masih monyong.
“Nggak mau.”
Candra memalingkan wajahnya, membuat Juno mendengus kesal. Candra kembali menatap wajah Juno, dia menahan tawa melihat wajah pria itu yang sangat jelek saat ini.
“Bentar aja tapi,” ucap Candra.
Juno membulatkan matanya mendengar ucapan Candra. “Beneran?”
“Iyaa.”
“Sepuluh menit, ya?”
"Lo mau bunuh gue?” tanya Candra membulatkan matanya.
Juno tertawa, lalu wajahnya berubah serius. Wajah serius Juno membuat jantung Candra berdetak kencang. Perlahan Juno mendekatkan wajahnya dengan tujuan bibir merah milik Candra. Tangan kanan pria itu menyentuh pipi Candra. Candra memejamkan matanya spontan ketika wajah Juno sudah sangat dekat dengannya. Deru napas pria itu menerpa wajah Candra. Juno tersenyum melihat reaksi Candra.
“Mau ngapain lo?” tanya sebuah suara seseorang berjalan mendekat pada mereka.
Spontan Candra membuka matanya dan mendorong Juno agar menjauh. Dilihatnya Nata sedang berkacak pinggang menatap tajam pada Juno.
“Udah malem, tidur sana!” perintah Nata pada Candra. Refleks Candra pun ngibrit masuk ke dalam.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otor Cangtip 😗😗😗