
Perang dingin, mungkin seperti itu gambaran yang terlihat dari hubungan Candra dan Juno saat ini. Pagi- pagi sekali Candra sudah berkutat di dapur, walaupun sedang perang dengan Juno, dia tetap memasak untuk pria itu sarapan. Sudah hampir satu minggu ini Candra mogok bicara pada suaminya. Candra masih sangat kesal dengan pria itu yang sama sekali tidak meminta maaf padanya dengan benar.
“Pagi, Sayang,” sapa Juno berjalan menuju dapur dengan hanya memakai kaos tipis dan celana kolor. Pria itu menguap lebar sambil menggaruk perutnya.
Candra masih sibuk dengan sayuran, sama sekali tidak mempedulikan Juno yang saat ini berjalan menghampirinya.
“Sayang, aku masih belum boleh tidur di…”
Ucapan Juno terhenti, tiba- tiba saja Candra berbalik dengan mengangkat pisau yang dipegangnya. Ekspresi wajah wanita itu datar, tapi sorot matanya masih menunjukkan permusuhan.
“Oke, aku mandi dulu.”
Juno segera pergi dari sana, sementara Candra kembali melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda.
Sarapan yang sudah disiapkan oleh Candra sudah tertata rapi di meja makan. Kini Candra berjalan memasuki kamarnya untuk mandi. Hari ini jadwalnya check up di rumah sakit. Wanita itu menghembuskan napasnya, seharusnya hari ini akan menjadi hari membahagiakan bersama Juno, karena hari ini Candra akan melakukan USG untuk mengetahui perkembangan janinnya.
“Sepertinya hari ini Bapakmu nggak bakal bisa nganter,” gumam Candra mengelus perut buncitnya.
Candra pun masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dan segera berganti pakaian, lalu menyiapkan segala peralatan yang hendak dibawanya untuk ke rumah sakit. Setelah semua siap, Candra turun ke bawah. Di sana sudah ada Juno yang sudah rapi, duduk di meja makan.
“Oh iya, hari ini kamu periksa, ya?” tanya Juno mengalihkan tatapannya dari ponsel. Pria itu melihat tas yang Candra letakkan di kursi sebelah.
“Aku bisa pergi sendiri,” jawab Candra, tangannya meraih piring.
“Nggak, aku antar kamu nan…”
Suara dering ponsel Juno menjerit. Candra melirik ponsel itu. Lagi- lagi nama Bella tertera di layar ponsel itu. Namun buru- buru Candra mengalihkan matanya dari ponsel Juno. Padahal tadi mendengar jika Juno hendak mengantarnya, membuat Candra sedikit senang.
“Halo?” ucap Juno menjawab panggilan itu.
“Hari ini gue ngga…”
“Siapa lo ngatur- ngatur gue, hah?” bentak Juno dengan rahang mengeras. Membuat Candra kaget, hampir saja piring ditangannya meluncur jatuh.
“Ckck, ya udah nanti gue ke sana.”
__ADS_1
Candra kembali duduk di kursinya setelah tadi dia membuat segelas susu. Sementara Juno menikmati sarapannya dengan mulut terkunci rapat tanpa sepatah kata pun. Ekspresi pria itu terlihat merasa bersalah.
“Maaf, Yang. Aku nggak bisa antar kamu hari ini,” ucap Juno meletakkan sendoknya.
“Nggak apa- apa. Udah biasa pergi sendiri,” jawab Candra dan bangkit dari duduknya untuk mencuci gelas kosong miliknya.
Hampir saja gelas di tangan Candra jatuh ketika tiba- tiba saja Juno memeluknya dari belakang. Candra berusaha melepas tangan yang melilit di perutnya itu. Namun tautan tangan Juno tidak mau terlepas.
“Kamu mau bunuh bayinya?” tanya Candra tajam. Spontan Juno melepas pelukkannya.
“Maaf,” gumam Juno menundukkan kepalanya.
“Udah siang,” ucap Candra melirik jam di dinding.
“Aku berangkat dulu. Hati- hati nanti, ya? Kalau ada apa- apa telpon aku.”
Candra hanya diam, tidak berniat menjawab perkataan Juno. Pria itu maju hendak memberikan ciuman pada Candra, tapi wanita itu sudah lebih dulu mendorong wajah Juno.
“Sana berangkat!” perintah Candra, dia berjalan meninggalkan Juno yang masih mematung di tempatnya.
...👠👠👠...
Juno baru saja sampai di perusahaannya. Wajahnya benar- benar tidak enak dipandang saat ini. Bahkan para karyawan yang tadi berpapasan dengannya merasa heran dengan wajah tanpa semangat atasannya itu.
“Lho, Pak? Nggak antar Bu Candra ke rumah sakit?” tanya sekretaris Juno bingung melihat sang atasan sudah sampai di kantor.
“Pagi ini ada meeting, kan?” Bukannya menjawab, Juno malah bertanya.
“Iya sih, tapi masih bisa diwakilkan Pak Manajer,” jawab sekretaris Juno.
“Bella!” geram Juno menggebrak meja sekretaris Juno. “Kalo dia udah datang suruh temuin gue,” ucap Juno dan segera masuk ke dalam ruangannya.
Sementara sekretaris Juno yang tidak tahu apa- apa hanya mengangguk dengan ekspresi masih kebingungan. Tidak lama kemudian, Bella datang membawa dua kopi.
“Pak Juno udah datang?” tanya Bella pada sekretaris Juno.
__ADS_1
“Udah, tuh lo dicariin Pak Juno.”
Senyum Bella mengembang, dia pun meraih kaca di depan sekretaris Juno. Perempuan itu merapikan sedikit penampilannya sebelum menemui Juno.
Sekretaris Juno yang baru ingin menyeruput kopinya di buat terkejut oleh sebuah suara yang berasal dari ruangan sang atasan. Baru ingin melongokkan kepalanya, Juno sudah keluar dari ruangan itu dengan wajah merah padam.
“Lo bersihin ruangan gue! Dan suruh cewek bang*sat itu segera enyah dari sana!” perintah Juno dan segera pergi dari sana.
“Iya, Pak,” jawab sekretaris Juno lirih.
Lalu dia segera melaksanakan apa yang diperintah sang atasan. Sesampainya di ruangan Juno, dia menutup mulutnya melihat sebuah vas bunga yang sudah pecah berserakan di sebelah Bella yang duduk bersimpuh. Wanita itu menangis ketakutan dengan bahu yang gemetar.
“Lo baru diomelin Pak Juno, ya?” tanya sekretaris Juno merasa prihatin pada Bella.
“Gue diamuk, Ri,” jawab Bella.
Sari – nama sekretaris Juno – menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia perlu meluruskan sesuatu pada Bella, semenjak perempuan itu bekerja sepertinya Sari lupa memberi tahu.
“Kalo lo nggak luka, berarti Pak Juno masih ngomel sama lo. Nah, kalo lo berakhir di rumah sakit, berarti Pak Juno ngamuk sama lo. Paham?” tanya Sari menatap Bella. “Lagian lo kenapa pake bohong segala sama dia? Hari ini itu harusnya dia anterin Bu Candra periksa di rumah sakit,” lanjut Sari, dia mulai membersihkan pecahan beling di lantai itu.
“Gu… gue nggak tau kalo Pak Juno mau antar istrinya. Gue juga nggak tau kalo meeting pagi ini bisa diwakilkan.”
“Lo kenapa nggak tanya gue dulu? Lo masih baru, jadi belum dikasih tugas buat atur jadwalnya Pak Juno,” ucap Sari. “Minggir dulu, gue mau bersihin yang ini. Lo juga pasti nggak tau, sejak kejadian waktu itu. Pak Juno sama Bu Candra lagi perang dingin. Jadi, jangan berani- berani lo usik Pak Juno.”
Bella terdiam mendengar penuturan Sari tentang Juno. Sementara Sari sudah keluar dari sana dan ruangan Juno sudah kembali rapi.
“Lo nggak mau keluar dari sini?” tanya Sari kembali berbalik.
...🥊🥊🥊...
Nah lho, Bella. Diomelin Mas Juno, kan 🤪🤪🤪
Tertanda: Otor Njepat 😭😭😭
Oh ya, buat kalean kalo mau komen. Komen aja nggak usah malu-malu, karena komentar kalian bisa sangat membuat Otornya semangat. Ngoghey 👍
__ADS_1