Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Bakar- Bakaran


__ADS_3

Di kediaman orang tua Candra saat ini ramai dengan seluruh anggota keluarga besar Candra. Mereka berkumpul dalam acara ulang tahun pernikahan Pak Haris dan Bu Maya. Bu Maya mengadakan pesta di rumah ini. Beliau juga turut mengundang orang tua Juno. Di halaman belakang inilah yang digunakan untuk membakar daging beserta makanan pelengkap lainnya. Candra tidak ikut bergabung di belakang, karena asap dari panggangan itu terasa menyesakkan dadanya. Dia menunggu daging itu matang di ruang keluarga, bersama dengan keponakannya. Keponakannya itu sedang asyik memperhatikan Aurel yang sedang tidur di atas sofa. Terkadang tangannya mencolek pipi Aurel.


“Dek, adeknya jangan di colek- colek dong,” ucap kakak ipar Candra, yakni istri Tian.


“Nggak apa- apa, Kak. Aurelnya juga anteng kok.”


“Udah mateng nih, ayo makan bareng,” ucap Bu Maya menghampiri mereka.


Istri Tian dan anaknya segera menuju halaman belakang, sementara Candra masih bertahan di sana. Dia tidak bisa meninggalkan Aurel di sini sendiri. Jika Candra membawa serta Aurel ke halaman belakang, bayi itu pasti akan terbangun dari tidurnya.


“Nasib… nasib,” gumam Candra menatap wajah Aurel yang masih nyenyak tidur.


Candra mendongak melihat Juno berdiri dihadapannya membawa piring berisi daging. Wanita itu tersenyum sumringah dan segera mengambil alih piring itu ke tangannya. Piring berukuran cukup besar itu berisi penuh daging yang masih mengepulkan asapnya.


“Ini daging apa?” tanya Candra.


“Babi,” jawab Juno.


“Aku nggak makan daging babi, Mas,” ucap Candra menatap datar pada suaminya.


“Oh iya, aku lupa. Nanti aku yang makan.”


Candra hanya mengangguk dan mulai menikmati daging panggang yang terasa sangat enak. Sementara Juno hanya menonton istrinya makan. Namun Candra juga menyuapi Juno sepotong daging yang tidak dimakannya.


“Bang Nata belum kelihatan, ya?” tanya Candra yang daritadi memang belum melihat sepupunya itu.


“Belum kayaknya, di belakang nggak ada tadi.”


“Bakar- bakarnya udah selesai?”


Juno menggeleng. “Belum, nanti masih mau bakar seafood katanya.”


“Nanti kamu ganti jagain Aurel, ya?”


Candra mengembalikan piring yang sudah kosong itu ke dapur. Sementara di dapur cucian sudah menggunung. Dengusan keluar dari hidung wanita itu. Akhirnya Candra mengurungkan niatnya untuk langsung bergabung dengan orang- orang di belakang sana. Wanita itu merasa jengah dengan cucian piring yang menumpuk.


“Astaga, Candra! Di cuci nanti aja,” ucap sebuah suara mengagetkan Candra.


Candra berbalik dengan tangan penuh dengan busa sabun cuci piring. “Oma ngagetin Candra, deh.”


“Udah, letakin itu panci sama wajannya. Biar nanti tante- tantemu yang cuci. Sana ke belakang.”


“Iya Oma. Nanti Candra ke sana setelah selesai cuci piringnya.”


“Ish, ngeyel ya. Oh ya, cicit Oma mana? Oma mau main sama Aurel.”

__ADS_1


“Di ruang keluarga sama Mas Juno,” jawab Candra.


Oma pun segera berjalan menuju ruang keluarga.


Sementara Candra hanya menggelengkan kepalanya. Omanya itu walaupun sudah berumur, tetapi masih saja bersemangat.


“Akhirnya beres juga,” gumam Candra menatap peralatan memasak dan makan sudah bersih dan wangi.


Dia pun segera ke belakang bergabung dengan anggota keluarganya yang lain. Mereka menyambut kedatangan Candra.


Acara bakar- bakaran ini masih terus berlanjut. Hingga malam sudah sangat larut, rencananya memang Candra akan menginap di rumah orang tuanya. Besok juga hari Minggu dan Juno tidak akan pergi ke kantor. Candra sedang mengolesi bumbu pada udang yang hendak di bakar di atas bara api.


“Nata masih belum kelihatan. Dia datang nggak?” tanya Bu Maya pada orang tua Nata.


“Tadi katanya mau jemput pacarnya dulu.”


“Maaf telat,” ucap sebuah suara mengalihkan fokus orang- orang di sana.


Di ambang pintu terlihat Nata bersama dengan Edrea. Nata dan pacarnya itu segera bergabung bersama dengan orang- orang di sana.


“Telat banget lo, Bang,” ucap Candra.


“Susah tadi minta izin ke Bokapnya,” jelas Nata. “Lo kok nggak pernah main ke sini, Dek?”


Candra masih mengobrol bersama Nata, sementara Edrea duduk bersama dengan emak- emak. Para emak itu sangat antusias dengan kedatangan pacar Nata itu. Namun suara tangis Aurel mengalihkan fokus Candra, dia pun memberikan udang yang tadi sedang dipegangnya pada Nata. Candra segera pergi darisana, sedangkan Nata hanya mendengus melihat kepergian wanita itu.


Aurel sudah sedikit lebih tenang berada dalam pelukannya. Bayi itu kembali tertidur setelah kenyang tadi. Kini Candra berada di dalam kamarnya, hanya berdua dengan Aurel. Seketika dia merasa malas kembali lagi ke belakang. Tangannya pun menggapai ponsel yang berada di meja samping ranjang. Jari- jari Candra mengetik beberapa kata di layar ponselnya.


“Kabarin kalo masakannya udah mateng.” Tulis Candra dan dia mengirimkannya pada Juno.


Sebenarnya dia juga tidak tahu kemana suaminya itu pergi, entah kembali ke halaman belakang atau masih bertahan di ruang keluarga. Baru ingin meletakkan ponselnya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Candra.


“Halo?” sapa Candra menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya.


“Can, lo udah denger kabar Lia?” tanya Nina yang menelponnya.


“Belum, Lia kenapa?” jawab dan tanya Candar dengan kernyitan di dahi.


“Lia melahirkan sore tadi.”


“Hah? Kok gue baru tau? Terus sekarang gimana keadaan dia?”


“Alhamdulillah baik. Bayinya juga sehat. Persalinan Lia normal.”


“Puji Tuhan, bayinya cowok apa cewek?”

__ADS_1


“Cewek, Can.”


“Lo udah jenguk dia?”


“Belum, rencana besok. Lo mau ikut juga?” tanya Nina.


“Gue mau jenguk di rumah aja kayaknya. Nanti gue coba chat si Lia, dia boleh pulang kapan.”


“Oke, Can. Gue cuma mau kasih kabar itu sih.”


“Iya, Nin. Makasih, ya?”


Percakapan mereka berakhir. Candra tersenyum, dia ikut bahagia mendengar kabar membahagiakan Lia. Wanita itu masih memainkan ponselnya, melihat- lihat story whatsapp. Tangan Candra berhenti di sebuah story milik Anton.


“Lah, dia udah buat SW,” gumam Candra.


Story whatsapp Anton itu memperlihatkan foto buah hatinya yang baru saja lahir. Senyum Candra kembali terbit melihat wajah bayi lucu itu.


“Dek, kamu punya temen baru,” ucap Candra pada Aurel yang masih memejamkan matanya.


“Coba si Vina juga di sini, pasti seru kalo tiga bayi ini kumpul,” gumam Candra.


Candra kaget saat mendengar suara teriakan seseorang dari luar, karena penasaran dia pun memutuskan untuk mengecek apa yang sedang terjadi. Dengan membawa Aurel dalam gendongannya, Candra bertemu dengan sang Oma di ujung tangga.


“Ada apa, Oma?” tanya Candra.


“Candra, suami kamu bertengkar dengan Nata,” jawab Oma sambil menunjuk- nunjuk pintu depan.


“Hah? Kok bisa bertengkar?”


Oma hanya menggeleng, beliau segera menyeret Candra untuk mengikutinya. Ternyata tidak hanya Candra yang merasa terkejut, anggota keluarga yang lain juga terkejut mendengar teriakan Oma tadi.


“Itu lihat. Kenapa mereka bertengkar sih?” tanya Oma mengomel, raut wajahnya juga terlihat khawatir.


Candra menatap Juno dan Nata yang ada di depannya. Memang kedua pria itu tadi saling mengunci, terlihat seperti bertengkar. Namun kini dua pria itu menatap pada orang- orang yang berada di luar.


“Kenapa pada keluar?” tanya Nata mengernyitkan dahi.


“Oma ngira kalian gelud,” jawab Candra.


“Hah? Kita cuma sparing,” ucap Juno dengan tampang bingung.


...👠👠👠...


__ADS_1


__ADS_2