Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Makan Siang


__ADS_3

Hari ini Candra tidak pergi ke studionya. Dia ingin berada di rumah seharian ini. Namun bukan tanpa alasan Candra tidak pergi. Wanita itu ingin berkonsentrasi secara penuh untuk mendesain pakaian yang nantinya akan dipamerkan akhir tahun ini. Candra akan menyetorkan lima rancangannya.


Peragaan busana nanti dia akan berkolaborasi bersama dengan teman- temannya yang lain dan akan diadakan di London selama beberapa hari. Peragaan busana ini digelar dalam rangka menyambut hari natal dan tahun baru.


“Sayang, aku ke kantor dulu, ya?” pamit Juno menghampiri Candra yang sedang membereskan meja makan.


“Iya, hati- hati di jalan.”


Seperti biasa, Juno memberi pelukan dan kecupan di dahi juga bibir Candra. Begitu rutinitasnya tiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Candra mengantar sang suami sampai pintu gerbang untuk membukakan gerbang itu.


“Nanti kamu mau makan siang apa?” tanya Candra sebelum Juno masuk ke dalam mobilnya.


“Hmm? Kamu mau ke kantor?”


“Boleh, nanti kita makan siang bareng.”


“Oke, nanti aku chat menunya. Tapi kalo kamu nggak sempet juga nggak apa- apa.”


Candra tersenyum dan mengangguk. Lalu Juno benar- benar pergi darisana. Candra pun kembali menutup pintu gerbang dan hendak masuk ke dalam rumah. Namun sebuah suara menghentikannya.


“Sayuuurrrr! Sayuuuurrrr! Tahuuuu!” teriak seorang penjual sayur keliling.


Candra pun berlari masuk untuk mengambil dompetnya dan kembali keluar. Wanita itu bergabung dengan komplotan ibu- ibu komplek yang sedang berbelanja sayur.


“Eh, Mbak Candra. Mau belanja apa?” tanya salah satu ibu yang paling senior di komplek ini.


“Mau beli bayam, Bu. Sepertinya hari ini bayamnya segar- segar, dari kemarin saya cari bayam di Mang Eko nggak ada terus,” jawab Candra tersenyum.


“Iya lho, mumpung bayam juga harganya lagi murah,” timpal ibu yang lain.


“Bu Atun, semalem Pak Aldebaran ganteng banget lho. Mana mereka tambah mesra, saya jadi baper,” ucap salah satu ibu bernama Surti, penghuni rumah paling pojok.


“Iya, saya juga nonton semalem. Tapi si Elsa gemesin banget, hampir saja itu remot tv saya lempar ke mukanya,” jawab Bu Atun.


“Si Rena juga lucu, aktingnya itu lho bagus banget. Kelihatan lugu,” tambah Bu Markonah.


Candra hanya tersenyum mendengarkan obrolan ibu- ibu komplek tentang sinetron Indonesia yang sedang hits dikalangan ibu- ibu saat ini. Candra sedikit tahu jalan cerita sinetron itu dari Bu Maya yang tiap hari tidak pernah ketinggalan ceritanya.


Setelah berbelanja, Candra pun mulai berberes rumah. Beberapa menit kemudian barulah dia bisa sedikit beristirahat. Candra memulai berkutat dengan pensil dan kertasnya. Wanita itu memilih halaman belakang sebagai tempat mencari ide. Namun sudah berjam- jam lamanya, Candra masih bingung dengan desain yang akan dia gambar.

__ADS_1


“Duh, kenapa belum dapet ide sampai jam segini?” keluh Candra memijit pelipisnya.


Notifikasi di ponsel Candra berbunyi tanda ada chat masuk. Candra pun segera melihat siapa yang mengirim chat padanya.


“Yang, menu buat nanti siang sayur sop, perkedel, sama sambal. Kamu jadi ke kantor, kan?”


Ternyata Juno yang mengirim chat padanya. Candra tersenyum melihat chat itu. Setelah membalas, Candra pun meninggalkan halaman belakang dan menuju dapur untuk berperang dengan berbagai bahan makanan juga peralatan dapur. Sebelum memulai memasak, Candra melihat jam di dinding. Ada kurang lebih waktu tiga jam untuknya memasak.


“Berasa lagi lomba masak gue,” gumam Candra memulai menyiapkan bahan.


Hembusan napas keluar dari hidung Candra, dia terduduk di meja makan dengan segelas air. Semua masakannya sudah matang, tinggal memindahkannya ke dalam kotak. Tangan wnaita itu mengipasi wajahnya yang berkeringat.


“Mandi dulu deh,” gumam Candra berjalan gontai menuju kamarnya untuk mandi.


Selesai mandi dan berpakaian rapi, Candra kembali turun untuk menyiapkan makan siang bagi sang suami. Jarum jam sudah menunjukkan angka satu, membuat Candra membulatkan matanya.


“Mampus, ngomel pasti dia,” ucap Candra panik.


Setelah semua selesai, Candra pun segera memesan B-car yang akan membawanya menuju perusahaan Juno. Sembari menunggu B-car datang, Candra merapikan sedikit rambutnya yang acak- acakan.


TIN!


“Benar dengan Mbak Candra?” tanya driver itu.


“Iya, Pak,” jawab Candra dan masuk ke dalam mobil.


“Panggil Mas, Mbak. Saya masih muda,” interupsi driver itu. “Ini sesuai aplikasi, ya?”


“Iya, Pak eh Mas. Agak ngebut, ya? Saya buru- buru soalnya.”


“Siap, Mbak. Tapi jangan salahin saya kalo nabrak trotoar, Mbaknya sendiri yang minta ngebut.”


Candra menatap driver itu dengan tatapan datar. “Ngebut tapi tetep hati- hati, Mas.”


“Siap, Mbak.”


Selama perjalanan Candra memainkan ponselnya, dia memberi kabar pada Juno untuk bersabar menunggunya. Candra juga sudah memberi tahu suaminya itu jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju kantor. Sementara itu, driver B-car sesekali melirik spion untuk melihat Candra.


“Mbaknya mau melamar pekerjaan, ya?” tanya driver itu memecah keheningan.

__ADS_1


"Nggak, Mas.”


“Oh, mau ke café- nya? Saya pernah tau café di perusahaan itu menunya enak- enak,” ucap driver itu sok tahu.


“Iya, Mas. Saya juga tau makanan di sana enak- enak. Tapi tujuan saya bukan itu.”


“Lho? Terus mau ngapain, Mbak?”


‘Aih, kepo amat lo,’ batin Candra menatap driver itu sebal.


“Saya mau anterin makan siang buat suami saya,” jawab Candra.


“Oh,” jawab driver itu pendek dengan senyum kecut.


Beberapa menit kemudian Candra sampai di perusahaan milik Juno. Setelah membayar B-car, Candra langsung masuk dengan sedikit berlari. Resepsionis yang berjaga di lobby langsung mempersilakan Candra masuk. Semua karyawan Juno sudah tahu jika Candra adalah istri dari atasannya. Bahkan foto Candra terpampang di lorong menuju ruangan milik Juno. Sebenarnya Candra sudah bersikeras meminta Juno untuk melepas foto dirinya, tapi Juno menolak.


“Biar semua orang tau kalo kamu itu istri aku,” jawab Juno beralasan.


Candra sampai di meja sekretaris Juno. Wanita itu di antar oleh seorang sekretaris yang sudah sangat di kenal Candra.


“Silahkan, Bu,” ucap sekretaris Juno itu mempersilakan Candra untuk masuk.


“Jun,” panggil Candra, dia meringis melihat Juno yang masih berkutat dengan tumpukan kertas di atas meja. “Kamu udah laper banget, ya?” tanya Candra berjalan mendekat ke meja Juno.


“Iya, tapi aku juga masih ada kerjaan jadi lupa tadi kalo laper. Ayo makan sekarang, kamu juga pasti laper, kan?”


Juno merangkul pinggang Candra dan membawanya ke sofa yang ada di ruang milik Juno. Keduanya mulai menikmati makan siang bersama.


“Oh ya, kamu udah dapet ide buat event akhir tahun nanti?” tanya Juno sebelum menyuap makanannya.


“Belum. Kenapa tumben ide nggak mau nyangkut ke kepalaku sih?”


Juno tersenyum dan mengusap lembut kepala Candra. Namun segera di tepis oleh Candra, dia segera menjauhkan tangan Juno.


“Astaga, Jun! Rambutku baru ku cuci. Tangan kamu bekas perkedel,” pekik Candra melotot pada Juno.


...👠👠👠...


Say hi, pada Mang Eko. Si Kang Sayur yang selalu dikerubutin komplotan ibu-ibu pecinta Mas Al.

__ADS_1



__ADS_2