
Candra berjalan menyusuri Terminal II. Wanita itu kembali lagi ke Indonesia untuk acara pertunangannya dengan Juno. Hari sudah malam ketika Candra sampai di Indonesia. Rencananya Juno akan mnejemputnya malam ini. Akhirnya Candra pun menunggu pria itu di sebuah café yang ada di bandara. Dia memesan secangkir kopi sembari menunggu Juno datang. Tadi Candra sudah memberitahu Juno jika dia menunggu di café ini.
“Asyik juga lagunya,” gumam Candra ketika mendengar sebuah lagu yang diputar di café ini.
Pas wingi kowe mblenjani janji
Ra tak tangisi, jo meneh tak gondeli
Tak nei ati, ora ngerteni
Dasare kowe ra nduwe ati
Aku ning kene mbok sepeleke
Ra tau nggatheke aku sing meduleke
Kowe kuwi ncen menungso ora toto
Candra pun langsung men- download lagu yang baru didengarnya ini. Walau tidak paham dengan bahasa yang digunakan lagu itu yang penting enak didengar oleh telinga Candra. Namun karena penasaran, wanita itu men- translate arti lirik dari lagu itu.
Tidak lama Juno sampai di café itu. Candra yang sedang asyik mendengarkan lagu barunya menoleh pada Juno. Ah ya, beberapa hari yang lalu pria itu berhasil memenangkan juara pertama. Alhasil uang itu kini aman berada di rekening Juno.
“Minta, Yang,” ucap Juno mengambil kopi di cangkir Candra.
“Kamu darimana? Kenapa ngos- ngosan gitu?” tanya Candra mengernyitkan dahi melihat Juno yang napasnya tersengal- sengal.
“Dari rumah. Takut kamu lama nunggunya, jadi lari tadi. Masih mau di sini?”
“Nggak, aku mau langsung pulang.”
Juno pun mengangguk dan segera mengambil alih koper milik Candra. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir yang jaraknya lumayan jauh. Setelah sampai tempat parkir, mereka segera masuk ke dalam mobil. Candra memainkan ponselnya, sementara Juno fokus menyetir. Tapi spontan pria itu menoleh ketika mendengar pekikan dari mulut Candra.
“Pengkhianat!” umpat Candra.
“Heh, siapa yang ajarin kamu ngumpat gitu?” tanya Juno membulatkan mata.
“Kamu yang ajarin,” jawab Candra tak acuh. “Si Lia khianatin kita,” ucap Candra menatap Juno dengan pandangan terluka.
“Dia kenapa?” tanya Juno yang memang tidak mengenal siapa itu Lia.
“Minggu depan dia mau nikah,” jawab Candra mengerucutkan bibirnya.
“Ya kamu sih. Kemarin di ajak nikah nggak mau. Lagian tuh bibir kenapa mancing- mancing sih?”
__ADS_1
Candra membulatkan matanya dan memukul lengan Juno. Sementara pria itu hanya tertawa melihat wajah kesal pujaan hatinya.
Beberapa menit kemudian Candra sampai di rumahnya. Juno langsung pulang, karena memang sekarang ini sudah tengah malam. Dia tidak mau mengganggu penghuni rumah yang kemungkinan sudah terlelap. Setelah membersihkan diri, Candra menelpon Lia. Dia yakin jika temannya itu belum tidur saat ini. Terbukti dengan beberapa detik saja teleponnya sudah terjawab.
“Lia! Lo mau ngelangkahin gue?” semprot Candra begitu sambungan telepon terjawab.
“Astagfirullah, Can. Lo bisa telpon gue besok. Ini tengah malem, mana suara lo gede banget,” ucap Lia dari seberang sana.
“Lagian lo kasih kabar juga udah malem.”
“Heh, Juminten. Gue kirim chat di grup dari tadi siang.”
“Ya mana gue tau. Gue lagi di pesawat.”
“Ah, ya. Lusa lo tunangan.”
“Dateng lo! Bawa Anton juga.”
“Iya- iya. Udah malem, gue mau tidur. Besok gue harus kerja.”
“Oke, bye.”
Candra pun juga ikut memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah tadi mengalami perjalanan yang panjang dan terlalu lama duduk di pesawat.
...👠👠👠...
“Baru pertama gue dateng ke sini,” ucap Anton memperhatikan seisi studio milik Candra.
“Ya lo yang terlalu sibuk, jadi nggak pernah mampir,” sewot Candra yang masih belum menerima kenyataan itu.
“Wah, pada kumpul di sini. Selamat, ya, buat kalian?” ucap Teo yang tiba- tiba menampakkan diri.
“Gue nggak di kasih selamat?” tanya Candra.
“Lo baru tunangan. Selamatnya nanti aja kalo beneran nikah,” jawab Teo.
“Astagfirullah, Tayo. Relain Candra, lo cari yang lain. Masih banyak lho cewek yang lebih waras dari dia,” ucap Anton.
Candra melirik tajam pada Anton. “Makin lancar lo nyebutnya.”
“Iya dong. Lo kapan?”
Beberapa bulan yang lalu Anton memang memutuskan untuk menjadi muallaf dan kini dia sedang mendalami agama islam dengan bantuan Lia. Candra sangat iri dengan kisah cinta temannya itu, sangat romantis dan tentu penuh haru.
__ADS_1
‘Ah, kenapa genre gue kayak gini?’ batin Candra menangis.
Setelah Candra selesai mengukur, mereka berempat pun memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah resto. Sebenarnya tadi Candra juga hendak mengajak Vina, tapi ternyata sahabatnya itu sedang berada di perjalanan dari luar kota menemani sang suami.
“Jadi rencana lo sama pacar lo nikah kapan?” tanya Lia pada Candra.
“Hmm, entahlah. Kita berdua masih sama- sama sibuk,” jawab Candra memasukkan makanan ke mulutnya.
“Lo yakin mau nikah sama dia, Can?” tanya Teo, dia masih menyimpan dendam pada Juno.
“Yakin dong,” jawab Candra percaya diri. “Percaya atau nggak, dia nggak pernah celakain gue. Ya, walau kelakuannya kayak gitu,” tambahnya.
“Semoga kalian bahagia, deh,” kata Teo masih belum ikhlas. “Kalo lo bosen sama dia, datengin gue aja.”
Anton dan Lia kompak menggelengkan kepalanya melihat tingkah Teo yang masih saja belum menyerah pada Candra. Sementara Candra menepuk bahu Teo, wajahnya terlihat serius.
“Gue yakin lo nanti bisa temuin cewek yang sebelas dua belas kayak gue. Eh? Emang di rumah sakit tempat lo magang nggak ada yang bening?”
“Banyak pasti,” ucap Anton.
“Tuh, si Sipit yang sehari- hari merem aja tau. Coba sesekali buka mata lo, lihat sekitar.”
“Heh! Ngajak berantem lo?” ucap Anton.
“Ckck, kenapa marah sih? Candra, kan, ngomong fakta,” ujar Lia.
“Kok kamu belain dia?” tanya Anton membulatkan matanya.
Candra tertawa puas melihat wajah kesal Anton. Sementara Teo diam- diam memikirkan perkataan Candra tadi.
Setelah berbincang dan makan malam, mereka pun memutuskan untuk pulang. Tadinya Teo hendak menawarkan tumpangan pada Candra. Namun ternyata ada Juno yang sudah menunggu wanita itu di depan resto. Mendadak Teo mengkerut melihat tatapan tajam dari Juno. Walau masih dendam, tapi Teo sedang tidak ingin berurusan dengan Juno demi kariernya.
“Gue pulang dulu. Bye Tayo,” pamit Candra. Teo hanya mengangguk seadanya. Sementara Anton dan Lia tadi sudah pulang terlebih dulu.
“Semoga lo bener- bener bahagia, Can,” gumam Teo.
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otornya Cjakep ☺☺☺
Ini Otor Cjakep bagi visual Anton dan Lia. Kalau kurang suka boleh bayangin wajah hooman lain ☺☺☺
__ADS_1
Ini si Sipit