Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Cara Bella


__ADS_3

“Pak Juno!” panggil seseorang, membuat Juno menghentikan langkahnya.


Pria itu menoleh dan mengernyit heran melihat Bella yang berjalan menghampirinya. Ekspresi Juno seakan bertanya ‘ada apa?’ pada perempuan itu.


“Ini, Pak. Saya mau kasih ini ke Pak Juno,” ucap Bella memberikan sebuah kantong plastik bertuliskan sebuah toko kue terkenal.


“Kenapa kasih ke gue? Bagi ke si Sari aja sana,” kata Juno menolak, dia pun melangkah masuk ke dalam lift.


“Sari juga sudah saya bagi, kok. Nah, yang ini buat Pak Juno,” jelas Bella yang masih mengikuti Juno.


Juno akhirnya menerima plastik itu. Namun setelahnya pria itu menatap Bella yang masih diam berdiri di sebelahnya. Dahi Juno mengernyit. Pasalnya lift ini hanya diperuntukkan untuknya saja dan tentunya Candra jika wanita itu berkunjung kemari.


“Kenapa lo ikut masuk lift ini?” tanya Juno.


“Oh? Eh iya,” jawab Bella yang juga baru tersadar. “Tapi udah terlanjur, Pak,” lanjut perempuan itu tersenyum.


Juno hanya mendengus malas. Lift mulai naik menuju ke ruangannya. Namun, tiba- tiba saja lift itu terhenti membuat Bella terkejut dan hampir saja jatuh. Beruntung dengan sigap Juno menahan lengan perempuan itu. Bella terkejut, dia menoleh dan tepat di depannya terpampang jelas wajah Juno. Jantung perempuan itu berdegub kencang.


Juno tersadar lebih dulu, pria itu melepas tangannya yang bertengger di lengan Bella. Pria itu berdehem dan merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Sedangkan Bella masih menormalkan detak jantungnya. Di dalam lift ini sekarang gelap, entah ada masalah apa. Juno memencet tombol darurat untuk menghubungi seorang teknisi.


“Kami akan segera memperbaikinya, Pak,” jawab teknisi itu dari seberang sana.


BRAK!


Tiba- tiba lift bergoyang, membuat Bella dan Juno terkejut. Spontan perempuan itu memeluk lengan kiri Juno. Bella benar- benar takut saat ini, pikirannya sudah melayang membayangkan kejadian yang tidak- tidak.


“Lep…” Gerakan Juno terhenti ketika ingin melepaskan tangan Bella yang melingkar di lengannya. Tubuh perempuan itu terlihat bergetar, sepertinya memang sedang sangat ketakutan.


Akhirnya Juno hanya diam, membiarkan perempuan itu dalam posisi seperti itu. Entah mengapa Juno peduli.


‘Cari mati lo, Jun. Jangan sampai Candra tau,’ batin Juno.


Beberapa menit mereka menunggu, seseorang membuka pintu lift. Spontan Juno langsung melepas rangkulan sekretarisnya itu. Teknisi itu membantu Juno dan Bella, sementara di depan lift sudah banyak karyawan yang kepo. Namun melihat wajah datar Juno, para karyawannya itu langsung lari kocar- kacir.


Baru beberapa langkah Bella tiba- tiba pingsan. Juno mendengus, dia berpikir jika sekretarisnya itu benar- benar merepotkan. Ingin rasanya dia menyuruh seseorang di sana untuk mengangkat tubuh Bella yang tergeletak di lantai. Namun sudah tidak ada seorang pun di sana, hanya ada seorang teknisi yang sudah sibuk memperbaiki lift yang tadi hampir jatuh itu.

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau, Juno yang menggendong Bella menuju ruang kesehatan. Tentu selama menuju ruang kesehatan banyak pasang mata yang memperhatikannya. Namun Juno memperingatkan mereka untuk tidak menyebarkan gosip.


“Bu Bella hanya syok, Pak. Mungkin beberapa menit lagi akan sadar,” jelas dokter itu.


Juno hanya mengangguk dan dia pun segera pamit dari sana. Hari ini dia ada meeting bersama dengan para manajer. Beberapa menit setelah kepergian Juno, Bella sadar dari pingsannya. Perempuan itu mengernyitkan dahi mendapati dirinya berada di ruangan yang asing.


“Ini dimana?” gumam Bella memperhatikan sekitarnya.


“Anda sudah sadar, Bu?” tanya dokter itu.


“Saya ada dimana?”


“Anda sekarang ada di ruang kesehatan, tadi anda pingsan karena syok dan Pak Juno yang membawa anda kemari,” jawab dokter itu.


Bella berjalan menuju mejanya, tapi pikirannya melayang entah kemana. Walau begitu, terlihat sangat jelas jika wajah Bella tampak berseri- seri hari ini. Sari yang duduk manis di balik mejanya menatap bingung Bella yang baru datang. Mata Sari melirik pada jam tangannya, sudah sangat terlambat untuk Bella masuk kantor.


“Kenapa telat?” tanya Sari.


“Oh? Tadi gue pingsan,” jawab Bella dan duduk di kursinya.


Bella tersenyum dengan pipi yang merona. Tentu hal itu membuat Sari kebingungan, tangannya terulur untuk mengecek suhu badan perempuan yang duduk di sebelahnya itu.


“Nggak panas.”


“Ternyata Pak Juno nggak sejahat itu. Dia bener- bener gentlemen,” ucap Bella mesem- mesem dengan menopang dagu. “Besok- besok gue mau pingsan di depan dia lagi,” lanjutnya ngelantur.


“Lo jangan nakutin gue dong. Lo kenapa sih?” tanya Sari bergidik ngeri.


“Udah sadar lo?” tanya sebuah suara mengagetkan Sari dan Bella.


“Ah, Pak. Terima kasih sudah menolong saya,” jawab Bella berdiri dari duduknya.


Juno hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya hendak masuk ke dalam ruangannya. Namun seseorang memanggilnya, membuat lagi- lagi langkah Juno harus terhenti. Pria itu menoleh ke belakang. Matanya membulat melihat siapa yang berdiri di sana.


“Pak Juno,” ucapnya berjalan menghampiri Juno.

__ADS_1


Pak Firman orang yang tadi memanggil Juno. Kini beliau sedang berada di dalam ruangan Juno. Entah apa yang di obrolkan keduanya. Berkali- kali Bella mencuri pandang ke arah pintu ruang milik Juno yang tertutup rapat.


“Memangnya Pak Firman udah buat janji tadi?” tanya Bella pada Sari yang sibuk dengan komputernya.


“Udah pagi tadi. Tapi tadi gue bilang kalo Pak Juno lagi ada meeting.”


“Oh gitu? Kira- kira apa yang diobrolin mereka di dalam?” tanya Bella tanpa sadar.


“Kenapa lo penasaran?” tanya Sari menatap Bella dengan kernyitan dahi.


“Hah? Nggak apa- apa,” jawab Bella gelagapan. Lalu, tangannya meraih ponsel dan dia mengetikkan beberapa kata.


“Papi, tolong Bella. Cuma Papi yang bisa bantu Bella saat ini.” Tulis Bella.


Perempuan itu menggigit kukunya menunggu balasan dari Pak Firman. Namun beberapa menit kemudian notifikasi masuk ke dalam ponsel Bella.


“Minta tolong apa?”


“Tolong jodohin Bella sama Pak Juno.”


Bella meletakkan ponselnya di meja. Senyumnya mengembang, setidaknya dia memiliki seseorang yang akan mendukungnya. Sang Papi setuju dan ingin membantunya agar bisa dekat dengan Juno. Bella kembali fokus ke pekerjaannya.


‘Ya, gue harus cari cara agar Pak Juno bisa jadi milik gue,’ batin Bella menyunggingkan senyumnya dengan mata menatap tajam pada layar komputernya.


Sementara di ruangan Juno, Pak Firman sudah megutarakan permintaan Bella tadi. Namun, Pak Firman tidak terang- terangan jika putri sulungnya yang meminta. Juno membulatkan matanya mendengar penuturan Pak Firman. Pria itu menggaruk pelipisnya dengan tangan kanan, dia berniat menunjukkan cincin pernikahannya pada Pak Firman. Namun, sepertinya pria paruh baya itu tidak paham kodenya.


“Kalau begitu saya permisi, lain kali kita lanjutkan obrolannya lagi,” ucap Pak Firman tersenyum.


Juno menampilkan senyum paksanya dan mengantar beliau sampai pintu depan. Lalu pria itu menutup pintu ruang kerjanya.


“Astaga! Apa matanya nggak lihat foto pernikahan gue? Apa kurang gede, ya?” gumam Juno geleng- geleng kepala.


...👠👠👠...


Tertanda: Otor Njedug 💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2