Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Aurelia Fredella Levin


__ADS_3

Bayi Candra dan Juno sudah berkumpul bersama mereka. Tadi seorang perawat mengantar bayi perempuan itu ke kamar rawat Candra. Kini suasana di dalam kamar rawat Candra ramai oleh suara tawa orang tua Candra maupun Juno. Wajah mereka berseri- seri menatap wajah lucu bayi itu. Mereka berdiri di sekeliling box bayi.


“Kamu harusnya masih dua hari lagi di Bandung, kan?” tanya Candra pada sang suami yang duduk di sebelahnya.


“Iya, tapi nggak apa- apa. Masih ada Nayla di sana, dia bisa handle semuanya,” jawab Juno. Tangannya mengelus- elus dahi Candra. “Maaf, aku nggak bisa temani kamu tadi. Juga pesanan kamu sama Mama nggak sempat aku belikan,” tambah Juno.


“Nggak apa- apa, Mas. Puji Tuhan, yang terpenting sekarang aku maupun bayi kita sehat,” tutur Candra tersenyum. “Pasti kamu nyetirnya ngebut, ya?


“Ehehehe, iya. Aku takut nggak keburu. Ternyata bener, aku sampai kamu lagi ngeden di dalem,” kata Juno mengerucutkan bibirnya.


Candra hanya mengangguk. Lalu matanya beralih pada box bayi yang tidak terlalu jauh dari bed- nya. Hatinya terasa menghangat melihat betapa bahagianya para orang tua itu.


“Udah siapin nama?” tanya Pak Haris pada Juno dan Candra.


“Pokoknya harus ada Aurel- nya,” ceplos Candra bersemangat.


“Kenapa harus Aurel?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.


“Biar kayak anaknya Mas Anang,” jawab Candra santai.


Bu Maya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban putrinya itu. Namun sebenarnya tadi Bu Maya ingin memberi ide sebuah nama bagi cucu pertamanya ini, yaitu Andin. Setelah mendengar ucapan Candra tadi, Bu Maya akhirnya mengurungkan niatnya.


“Aurelia,” gumam Bu Felin.


“Boleh, bagus itu,” kata Candra berbinar.


Keributan kembali terjadi, mereka yang ada di dalam kamar ini berlomba- lomba menyusun nama untuk bayi imut itu. Akibatnya seorang perawat memperingatkan mereka.


“Aurelia Fredella Levin. Bagus, nggak?” tanya Juno setelah lama diam, berusaha memikirkan nama yang cocok untuk putrinya.


Para orang tua saling berpandangan dan serempak mengangguk setuju. Lalu Juno menatap pada Candra untuk meminta pendapat. Wanita itu mengangguk dengan senyum manisnya.


“Aurel… Aurel…” Bu Felin memanggil cucunya.


Sementara bayi bernama Aurel itu masih memejamkan matanya, tapi beberapa saat kemudian Aurel terbangun. Suara tangis Aurel menggema di seluruh kamar ini.


“Aurel haus, ya?” tanya Bu Maya, beliau pun mengangkat Aurel dan memberikannya pada Candra.


“Ayo, kasih minum dulu, Can. Nanti Mama mau gendong Aurel,” ucap Bu Felin sangat antusias.


Pak Haris dan Pak Dedi hanya menggelengkan kepalanya, mereka pun keluar dari kamar rawat Candra untuk mencari udara segar dan bercengkrama. Pak Haris tadi membicarakan perihal burung peliharaannya dan Pak Dedi terlihat tertarik. Tidak ada yang menyadari kedua orang itu keluar dari kamar rawat ini. Mereka fokus pada Aurel yang sedang menyusu pada Candra. Para Nenek baru itu terlihat sangat antusias melihat Aurel yang terlihat sangat menggemaskan. Sementara Candra masih berdebar, baru pertama ini dia merasakan hal seperti ini. Tangannya mengusap pipi sang anak lembut.

__ADS_1


“Nanti Mama pulang aja. Istirahat di rumah, biar Juno yang jaga di sini,” ucap Juno pada kedua Mamanya.


“Iya, lagipula sebentar lagi jam besuk hampir habis,” tambah Candra.


Bu Maya dan Bu Felin pun serempak mengangguk, keduanya pun berbalik untuk mengajak suami masing- masing pulang. Namun ternyata suami mereka sudah tidak ada di tempat.


“Lho? Papa kemana, Jun?” tanya Bu Felin.


“Kayaknya tadi keluar sama Papa Haris,” jawab Juno.


...👠👠👠...


Suara alarm dari ponsel Juno membangunkan Candra. Wanita itu menguap lebar, semalaman dia tidak bisa tidur karena Aurel terus menangis. Candra berusaha membangunkan Juno yang masih tidur di sofa yang ada di kamar ini. Suara alarm sangat mengganggunya, Candra takut jika Aurel akan terganggu.


“Mas! Alarmnya matiin,” pinta Candra.


Namun Juno masih lelap tidur. Candra mendengus, lalu dia mencari sesuatu untuk membangunkan suaminya itu. Candra pun melempar kotak tisu dan tepat mengenai Juno. Pria itu segera terbangun dan gelagapan.


“Matiin alarmnya,” kata Candra.


Juno pun bergegas mematikan alarmnya, dia melihat jam di ponselnya. Ternyata masih pukul enam pagi, perlahan matahari juga terbit. Cahayanya masuk melewati celah jendela di sebelah bed Candra. Pria itu berjalan menghampiri box bayi, melihat bagaimana keadaan putrinya.


Juno pun berjalan menghampiri pintu dan membukakan pintu itu. Seorang perawat membawa sarapan untuk Candra masuk ke dalam kamar rawat.


“Ini sarapannya, Bu. Oh ya, boleh saya bawa anaknya sebentar? Bayinya akan dimandikan terlebih dulu,” ucap perawat itu.


“Dimandikan dimana?” tanya Juno menatap perawat itu penuh curiga.


“Di dekat ruang perawat, Pak. Bapak juga boleh ikut kalau mau melihat,” jawab perawat itu.


“Iya, nggak apa- apa. Silahkan dimandikan dulu,” kata Candra.


Perawat itu pun menggendong Aurel dan pamit pada Candra serta Juno. Perawat itu keluar dari sana. Juno masih belum melepaskan pandangannya pada perawat itu hingga hilang di balik pintu.


“Kamu mau lihat? Ya udah sana lihat,” kata Candra. “Tapi aku mau ke kamar mandi dulu, bantu aku turun sebelum kamu lihat Aurel mandi.”


“Nggak, aku percaya sama perawatnya. Sini aku bantu kamu,” ujar Juno.


Dengan perlahan Candra turun dari bed- nya dengan dibantu Juno. Pria itu menuntun Candra hingga sampai di kamar mandi.


“Ini aku caranya pipis gimana?” tanya Candra kebingungan.

__ADS_1


“Masih sakit, Yang?” tanya Juno balik.


“Ya masihlah, jahitnya juga baru kemarin,” jawab Candra.


“Udah kebelet banget?”


“Iya, gimana ini? Udah aku tahan dari semalem, kalo aku tahan lagi malah jadi penyakit.”


“Duduk nggak bisa?”


“Nggak bisa, Mas. Belum bisa buka kaki lebar- lebar.”


“Jongkok aja.”


Candra mencoba jongkok dengan dibantu Juno. Namun rasa sakit di bawah sana membuat wanita itu kembali berdiri. Juno yang melihat hal itu menjadi kebingungan.


“Udah berdiri aja. Cepet, daripada ngompol.”


Candra bernapas lega setelah membuang kotorannya. Dia menunggu Juno yang masih mengguyur toilet dengan air. Setelah selesai, Juno kembali menuntun Candra menuju bed- nya. Tidak lama kemudian Aurel kembali bersama dengan perawat yang tadi membawanya. Aurel sudah berpindahtangan dari perawat tadi kepada Juno. Pria itu berjalan mendekat dengan Aurel digendongannya pada Candra yang sedang menikmati sarapannya.


“Kamu mau?” tanya Candra menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pada Juno.


Juno mengangguk dan segera membuka mulutnya. Namun makanan itu terasa hambar di dalam mulut Juno.


“Lagi?” tanya Candra.


“Nggak. Rasanya nggak enak, kamu habisin aja.” Tolak Juno.


Candra mendengus. “Iya emang rasanya nggak enak, jadi bantuin habisin.”


“Kamu habisin, Yang. Biar cepet sehat, walaupun rasanya nggak enak.”


“Nanti sore juga udah boleh pulang,” ucap Candra.


“Lho? Memangnya udah boleh pulang?” tanya Juno mengernyit.


“Permisi,” ucap sebuah suara.


...🥊🥊🥊...


__ADS_1


__ADS_2