
Juno mengoleskan salep di punggung Candra yang membiru akibat benturan yang cukup keras. Sementara Candra meringis menahan rasa sakit di punggungnya. Setelah selesai, Juno kembali membenarkan baju Candra.
“Udah, Yang. Ada lagi yang sakit?” tanya Juno.
Candra membalikkan tubuhnya, menjadi menghadap sang suami. Sejak tadi wanita itu masih diam dengan berbagai pikiran menghinggapi kepalanya. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
“Nggak ada lagi,” jawab Candra yang akhirnya membuka suara.
Juno meraih tangan Candra. “Ini apa?”
“Hmm?” gumam Candra melihat pergelangan tangannya yang memerah.
“Mereka apain kamu tadi?” tanya Juno, ekspresi pria itu terlihat dingin.
“Cuma luka kecil yang penting aku nggak apa- apa sekarang,” jawab Candra menggenggam tangan Juno. Sebenarnya dia juga ngeri melihat ekspresi dingin suaminya itu. “Ayo, jalan. Kasihan Aurel pasti nungguin.”
Juno yang hendak protes, mengurungkan niatnya. Dia pun menurut dan segera melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Candra.
Beberapa menit kemudian, Juno dan Candra sampai di rumah Bu Maya. Malam sudah sangat larut, bahkan sudah lewat tengah malam. Suasana rumah Bu Maya sudah sangat sepi, lampu- lampu sudah padam. Candra pun turun untuk membuka pagar rumah, tapi ternyata sudah di kunci. Dia pun kembali ke mobil.
“Pagernya udah di kunci,” ucap Candra.
“Coba hubungi Mama,” usul Juno.
Candra mengangguk, dia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan hendak menelpon Bu Maya. Namun, ternyata ada beberapa chat dari Mamanya itu. Bu Maya meminta agar Aurel menginap di rumah beliau malam ini. Chat itu di kirim beberapa jam sebelum Candra mengalami kejadian itu.
“Gimana?” tanya Juno.
“Kayaknya udah pada tidur,” jawab Candra. “Biarin Aurel nginep di rumah Mama. Besok pagi kita jemput.”
“Oke, kita pulang, ya?”
Candra hanya mengangguk. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Hari ini Candra benar- benar lelah. Kejadian beberapa jam yang lalu masih membuatnya syok.
Candra membukakan pagar rumah agar mobil bisa masuk. Setelah menutup pagar, Candra segera masuk ke dalam rumah menyusul Juno yang sudah lebih dulu masuk. Wanita itu menyalakan lampu dan menutupi semua gorden di jendela. Seharian ini rumahnya kosong tak berpenghuni.
“Mas, mau makan?” tanya Candra pada Juno yang berada di dapur mengambil segelas air.
“Udah jam segini, Yang. Kamu udah makan malam? Kalau belum aku temani.”
__ADS_1
Candra menggelengkan kepala. “Aku mau mandi terus langsung tidur.”
Wanita itu berjalan menuju kamarnya. Melihat hal itu, Juno hanya bisa menghembuskan napasnya. Dia tahu jika Candra pasti sangat terkejut dengan kejadian tadi. Pria itu berjalan menemui majikannya untuk memberi makan.
“Mbul, makan dulu,” kata Juno menyodorkan tempat makan Mbul.
“Meow… meow… meow… meow…” Mbul mengeong dengan suara nge- gas, sepertinya marah karena baru diberi makan.
“Ngomong apa sih? Makan nih, biar tambah gendut,” ucap Juno dan berjalan meninggalkan majikannya itu.
Sementara Mbul menatap kepergian sang babu dengan wajah datar, tapi dia segera melahap makanan yang diberi Juno tadi.
Juno masuk ke kamar dan menemukan Candra duduk di depan meja rias. Wanita itu menoleh ketika melihat kedatangan sang suami. Juno berjalan menghampiri Candra, tangannya sibuk melepas dasi dan kancing kemejanya.
“Mandi sana, aku udah siapin air,” kata Candra yang kembali menghadap cermin, dia sedang membersihkan wajahnya. “Bajunya juga udah aku siapin,” lanjutnya.
Juno hanya mengangguk dan segera menuruti perintah sang istri. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Candra menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tidak lama terdengar suara guyuran air. Candra naik ke tempat tidurnya, menyenderkan punggungnya.
“Ishh, sakit banget,” gumam Candra.
Tadi saat mandi, ternyata tidak hanya punggung dan pergelangan tangannya yang terluka. Lengan sebelah kirinya juga terlihat lebam. Setelah mandi tadi, dia sudah mengoleskan salep yang tadi dibeli Juno. Candra mendengus melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup. Juno belum ada tanda- tanda selesai mandi. Akhirnya, Candra memutuskan untuk memainkan ponselnya.
“Nggak ketemu seharian aja udah kangen,” gumam Candra, matanya melihat foto Aurel di ponselnya.
“Katanya mau langsung tidur?” tanya Juno.
“Nunggu kamu, lama banget,” jawab Candra meletakkan ponselnya di meja kecil sebelah tempat tidur.
“Ya udah sekarang mau langsung tidur? Atau mau…” Juno sengaja menggantungkan kalimatnya, tapi dari ekspresinya Candra paham apa maksud pria itu.
“Aku capek, Mas,” ucap Candra mendengus malas. Dia menidurkan tubuhnya di sebelah Juno.
“Kan aku cuma tawarin. Siapa tau mau,” gumam Juno yang ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Candra.
Candra menggunakan lengan Juno sebagai bantal. Wanita itu masih belum memejamkan matanya. Sementara Juno sudah terpejam, entah tidur atau hanya memejamkan matanya saja. Sebenarnya Candra sangat ingin bertanya pada suaminya itu.
“Kenapa, hmm?” tanya Juno membuka matanya.
“Katanya capek.”
__ADS_1
“Aku mau tanya sesuatu,” jawab Candra menatap manik hitam milik Juno.
“Apa?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.
“Kamu apain orang- orang yang kamu hajar tadi?” tanya Candra.
“Kenapa kamu pengen tau, hmm?”
Juno memeluk istrinya, mengusap punggung Candra pelan. Dia takut jika tangannya akan menyentuh luka istrinya itu. Sementara Candra menikmati usapan lembut di punggungnya itu.
“Aku penasaran aja, setelah kamu hajar sampai babak belur gitu, kamu selalu tinggalin mereka gitu aja. Kamu selalu bilang kalo mereka akan diurus sama orang suruhan kamu. Aku penasaran, aku takut…”
“Kamu takut kenapa? Kamu nggak perlu khawatir, lagipula mereka udah jahat sama kamu. Aku nggak akan biarin kamu disakiti oleh siapa pun. Tenang aja, orang- orang suruhan aku nggak seperti apa yang kamu bayangkan,” jelas Juno dengan senyum menenangkan.
“Selain orang- orang itu, aku juga khawatir sama kamu,” ucap Candra masih menatap wajah Juno. Ekspresi Candra saat ini benar- benar terlihat gusar.
“Apa yang kamu khawatirkan?”
“Jika suatu saat nanti ada yang balas dendam.”
Juno terkekeh. “Kamu lupa siapa aku, Yang? Nggak ada yang bakal berani berhadapan langsung dengan aku.”
“Tapi…”
“Kamu tenang aja, aku nggak akan terluka. Banyak orang- orang di belakangku yang siap bantu. Sekarang tidur, ya?”
“Tapi…”
CUP!
Juno mencium bibir Candra yang setengah terbuka, pria itu membungkam mulut sang istri yang hendak melayangkan protesnya. Pria itu bermain- main sebentar dengan bibir Candra, sementara wanita itu mencoba melepaskan diri karena kehabisan napas.
“Kamu bohong, ya?” tanya Juno setelah selesai dengan permainannya.
“Soal apa?”
“Katanya capek? Kenapa ekspresi kamu kayak ‘pengen’?”
Candra membulatkan matanya dan tangannya yang ringan menampol lengan Juno. Pria itu terkekeh geli dan membawa sang istri ke dalam pelukannya.
__ADS_1
...👠👠👠...