
Selepas pulang dari gereja tadi. Candra dan Juno menghabiskan hari di rumah. Hari Minggu ini ingin Juno habiskan dengan bermalas- malasan bersama istrinya. Kini keduanya sudah berbaikan. Setelah percakapan malam itu, Candra memaafkan Juno. Wanita itu berjalan dari dapur membawa sepiring berisi buah- buahan. Sedangkan Juno sedang duduk di sofa ruang keluarga. Candra duduk di sebelah Juno dengan piring berada dipangkuannya.
“Minta, Yang,” ucap Juno membuka mulutnya.
Candra menusuk buah stoberi dengan garpunya dan menyuapi Juno. Lalu wanita itu menyuap buah naga ke dalam mulutnya sendiri.
“Idupin TV- nya, aku mau nonton Pak Gumiho.”
Juno menurut dan menghidupkan televisi, lalu dari sebuah aplikasi yang ada di televisi itu Candra mencari- cari sebuah judul drama Korea yang sedang hits saat ini.
“Pak Gumiho itu siapa?” tanya Juno, tangannya mengambil alih garpu di piring yang dipangku Candra.
“Kiyong,” jawab Candra pendek.
“Kiyong si…”
“Ssst, diem.”
Bibir Juno seketika terkatup, sementara Candra sudah fokus pada layar televisi. Sudah sangat lama Candra menantikan drama ini. Dia baru bisa menonton sekarang, padahal sampai hari Kamis kemarin drama itu sudah sampai episode duabelas.
Juno tidak ikut menoton drama itu, tadinya dia penasaran dengan si ‘Pak Gumiho’. Namun, setelah melihat rupa aktor Korea pemeran utamanya itu membuat Juno tidak tertarik. Bahkan beberapa kali cibiran lolos dari mulut Juno. Candra tidak menanggapi semua cibiran Juno yang ditujukan untuk Pak Gumiho itu, dia tetap fokus menonton hingga kini sudah masuk ke episode tiga. Juno sudah tertidur di sebelahnya dengan kepala berada di pangkuan Candra.
“Akh!” pekik Juno terkejut, merasakan kepalanya hampir copot.
“Oh? Maaf, nggak sengaja. Gemes liat akting Pak Gumiho sama Dam,” ucap Candra meringis, kedua tangannya spontan terangkat.
Juno menggumam dan matanya kembali terpejam. Tangannya memeluk perut besar Candra, sedangkan tangan Candra kembali bertengger di kepala Juno. Baru saja Candra ingin kembali fokus pada drama itu. Tiba- tiba bel pintu berbunyi membuat Candra mendengus.
“Ganggu aja,” gumam Candra mem- pause drama itu. “Mas, bentar ada tamu. Bangun dulu.”
Juno masih belum bergerak. Sementara suara bel itu masih berbunyi. Akhirnya Candra pun melepaskan tautan tangan Juno dan mengangkat kepala pria itu. Setelah berhasil terlepas, Candra pun segera berjalan ke depan.
“Iya, sebentar,” ucap Candra.
Candra membuka pintu dan matanya bersibobrok dengan tamu itu. Spontan mata Candra membulat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Seorang wanita yang Candra cap sebagai pelakor dengan tidak tahu malunya berdiri di depan pintu rumahnya.
“Ada perlu apa?” tanya Candra pada Bella.
“Ah, saya mau bertemu Pak Juno. Ada yang mau saya bicarakan dengan beliau,” jawab Bella menampilkan senyumnya.
“Nggak bisa bicarain besok? Ini weekend lho.”
__ADS_1
“Maka dari itu, waktu saya hanya hari ini. Saya rasa kurang sopan jika membicarakannya melalui telepon,” jelas Bella.
Candra menghembuskan napasnya. Dia pun mempersilakan Bella untuk masuk ke dalam dan duduk terlebih dulu.
“Siapa, Yang?” tanya Juno dengan wajah bantalnya dan rambut acak- acakan berjalan menghampiri Candra.
‘Damn!’ umpat Candra dalam hati melihat penampilan Juno, matanya tidak sengaja melirik pada Bella yang sedang terpaku menatap memuja pada Juno.
Candra menabok lengan Juno. “Rapiin rambut kamu.”
“Hah?” tanya Juno yang masih belum ngeh.
Candra memutar bola matanya, tangannya segera merapikan rambut berantakan suaminya itu. Dia tidak mau jika pelakor itu tambah kesengsem pada suaminya, Candra benar- benar tidak rela.
‘Cuma gue yang boleh liat Mas Juno dengan muka kayak gini,’ batin Candra.
Juno dan Bella sedang mengobrol di ruang tamu, sedangkan Candra membuatkan minum di dalam. Sebenarnya Candra malas melayani tamu macam Bella. Tadinya dia ingin bertahan di ruang tamu, memasang telinga untuk mendengarkan apa yang diobrolkan oleh dua orang itu. Candra masih menimang- nimang dua toples di depannya, masing- masing toples itu bertuliskan garam dan gula.
“Pilih yang mana, ya?” gumam Candra dengan gaya sok berpikir.
Candra mengangguk dengan mantap, meraih salah satu toples itu. Beberapa saat kemudian minuman yang Candra buat selesai, wanita itu pun mengantarkannya ke depan.
“Maaf, cuma punya ini,” ucap Candra meletakkan cangkir itu di depan Bella. “Silahkan diminum.”
BRUUSS!
Candra membulatkan matanya terkejut, tiba- tiba saja Bella menyemburkan teh itu dan tepat mengenai wajah Juno. Tidak hanya Candra yang terkejut, Bella juga ikut terkejut. Sedangkan Juno gelagapan setelah mendapat semburan dari Bella itu.
“Kenapa tehnya?” tanya Candra mengernyitkan dahi.
“Kamu kasih apa, Yang?” tanya Juno, tangannya sibuk mengelap wajahnya dengan tisu.
“Aku kasih gula sama air,” jawab Candra polos.
“Kepanasan,” ucap Bella.
Candra mengernyitkan dahi. Kepanasan? Padahal tadi Candra sudah mencampurnya dengan air dingin. Memang tadi dirinya menyajikan teh hangat di siang hari yang panas ini. Namun seperti biasa, Candra membuat teh itu dengan dicampur air dingin. Harusnya teh hangat yang tersaji, kenapa malah jadi teh panas? Setelah kepulangan Bella itu, Candra segera mengecek. Teh di cangkir itu masih tersisa, tangan Candra terasa hangat ketika menyentuh cangkir itu. Lalu telunjuknya dicelupkan ke dalam teh itu.
“Eh iya, panas,” ucap Candra meringis.
“Beneran panas?” tanya Juno.
__ADS_1
Candra hanya mengangguk. Sedangkan Juno hanya geleng- geleng kepala. Namun buru- buru Candra menjelaskan.
“Beneran, aku nggak berniat mau jahilin dia. Tadinya sih memang mau aku masukin garam, tapi nggak jadi. Aku nggak sejahat itu,” jelas Candra mengerucutkan bibirnya.
“Iya, aku percaya. Dispensernya yang rusak,” ucap Juno.
“Kok kamu nggak kasih tau aku?” tanya Candra mengernyit.
“Lupa,” jawab Juno meringis.
Candra mendengus. Dia pun beranjak untuk membereskan cangkir itu. Namun baru beberapa langkah, Candra berbalik.
“Ada urusan apa dia ke sini?” tanya Candra.
“Oh, besok dia mau izin selama beberapa hari…”
“Cuma mau minta izin nggak masuk sampai datang ke sini? Tau dari mana rumah kita?”
“Bukannya kamu pernah bilang, jangan remehin cewek kalo udah penasaran.”
Mendengar hal itu, Candra pun melengos pergi. Sedangkan Juno hanya tertawa melihat ekspresi kesal istrinya itu. Pria itu melihat jam di dinding, ternyata sudah sore. Juno menghampiri Candra yang masih sibuk dengan cuciannya.
“Habis ini mandi, ya?”
“Mau kemana?” tanya Candra mengeringkan tangannya.
“Ke rumah Mama. Mama kangen kamu katanya.”
“Oke,” jawab Candra dan berjalan menuju kamar mereka.
“Ayo!” ajak Juno menggenggam tangan Candra.
“Apa?”
“Mandi. Ayo, mandi bareng. Biar hemat waktu,” kata Juno tersenyum.
“Jangan aneh- aneh tapi. Inget masih ada bayinya,” tunjuk Candra pada perutnya.
...👠👠👠...
Tertanda: Otor Njedug 🥴🥴🥴
__ADS_1
Siap Terkiyong-Kiyong?