
Setelah kedatangan orang itu, mendadak suasana menjadi canggung. Bara berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung ini. Sementara Candra berusaha menghindari tatapan orang itu. Sebenarnya terakhir kali sejak insiden itu hubungan keduanya baik- baik saja seperti tidak terjadi apa- apa. Namun entah mengapa setelah sekian tahun lamanya tidak berjumpa dan kini kembali bertemu, mendadak ada perasaan aneh pada diri Candra.
“Gimana kabar lo, Te? Lama gue nggak denger kabar lo, kata Wildan lo kuliah kedokteran, ya?” tanya Bara.
“Kabar gue baik, iya gue ambil kedokteran. Sekarang lagi lanjut buat ambil spesialis. Kalian gimana kabarnya?”
“Baik,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Lo kapan balik, Can?” tanya Teo pada Candra, membuat Candra mengurungkan niat hendak melahap kue ditangannya.
“Hmm udah seminggu yang lalu. Lo tau gue nggak di Indo?” jawab dan tanya Candra dengan kernyitan di dahi.
“Gue cari tahu tentang lo,” jawab Teo tersenyum samar.
“Eherm, si Tayo sekarang udah glow up ternyata. Denger- denger lo kerja di klinik?” tanya Vina mengalihkan topik pembicaraan melihat raut wajah Candra yang terlihat kurang nyaman.
“Iya, bantu- bantu di klinik punya Om gue.”
Acara reuni berjalan dengan lancar. Di tengah acara para alumni itu menonton sebuah video bersama. Video itu berisi kehidupan masa remaja mereka. Entah kapan dan siapa yang mendokumentasikannya. Bahkan Candra tidak ingat pernah di rekam. Banyak yang menitikkan air mata, merasa terharu setelah mengenang masa lalu.
Namun ada juga yang merasa malu, melihat kembali wajah- wajah kusamnya dulu, atau mereka yang tercyduck berpacaran semasa SMA dulu. Saat video itu di putar, terjadi sedikit keributan di antara para suami dan istri. Mereka serempak menanyakan siapa mantan si istri atau suami masing- masing.
“Heh? Kenapa adegan jambak- jambakan di kantin di rekam juga?” pekik Candra melotot.
Candra kembali teringat adegan itu, dimana dia menjambak rambut Mesya dan Fena secara bersamaan. Memang ketika itu suasana kantin sangat ramai. Kini semua pasang mata di aula menatap Candra, membuat yang ditatap meringis menahan malu.
“Hiks, gue malu,” gumam Candra.
“Nggak sangka, ternyata aib lo di sebar di acara ini,” kata Lia ngakak. “Heh, kok muka gue jelek amat!” lanjut Lia heboh melihat wajahnya yang belum siap di rekam.
...👠👠👠...
Malam ini benar- benar sangat berkesan bagi Candra dan para alumni lain, tidak hanya mereka. Juga para guru yang dulu mengajar. Tawa, tangisan haru terdengar di seluruh aula hotel ini. Kini acara sudah selesai, beberapa orang mulai keluar dari hotel ini untuk pulang ke rumah masing- masing. Jam yang melingkar di tangan Candra menunjukkan angka sebelas. Sudah sangat larut, malam ini.
“Can, lo yang nyetir ya?” pinta Vina hendak memberikan kunci mobilnya pada Candra.
“Sayang,” panggil seseorang.
__ADS_1
“Loh? Kok di sini? Katanya kamu masih ke luar kota?” tanya Vina terkejut mendapati Dafa berdiri di depannya.
“Iya, aku pulang cepet. Terus tadi kata Faris kamu belum pulang, jadi aku jemput kamu. Nggak baik cewek nyetir sendiri malam- malam,” ucap Dafa panjang lebar.
Candra menatap datar dua pasangan yang sedang di mabuk asmara ini, tentu Candra tidak sekurang ajar itu mau mengganggu mereka.
“Ya udah kalian balik aja, gue bisa telpon supir gue buat jemput,” ucap Candra tahu diri.
“Lho kamu nggak bawa mobil, Yang?” tanya Vina.
“Kan, memang mau jemput kamu. Jadi tadi naik B-car.”
Vina menepuk dahinya. “Lo ikut gue sekalian aja, Can.”
“Nggak, udah biasa gue pulang malem gini. Udah sana lo balik, lagian lo udah ngantuk berat. Kalo nggak ada yang jemput gue bisa nginep di sini.”
Akhirnya, Vina dengan berat hati meninggalkan Candra seorang diri. Kini Candra sedang berusaha mencari B-car untuk dirinya pulang. Wanita itu menunggu di lobby hotel seorang diri. Ternyata masih ada beberapa orang alumni SMA 20 yang nongkrong di lobby ini.
“Eh, kayaknya gue nggak liat Mesya tadi. Cuma ada si Fena,” gumam Candra.
“Ckckck, kenapa driver- nya nggak ada yang nyangkut sih?”
“Tayo? Lo juga belum balik?” tanya Candra terkejut melihat Teo berdiri di depannya.
“Belum, tadi gue masih ngobrol sama Bara. Lo nunggu siapa?”
“Nunggu B-car,” jawab Candra meringis.
“Ayo, bareng gue aja. Udah malam susah cari driver,” ucap Teo.
“Hmm, iya deh. Daritadi juga gue nggak dapet- dapet,” kata Candra. “Ehm, tapi nggak ngerepotin lo, kan?”
“Mana ada ngerepotin. Dulu aja hobi lo buat gue repot. Santai aja, Can.”
“Itu dulu, sekarang gue kalem.”
“Iya, percaya gue,” ucap Teo tersenyum manis.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...
Terjadi keheningan selama perjalanan, Candra masih merasa canggung. Begitu juga dengan Teo yang berusaha mencari topik pembicaraan. Candra memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota ini di malam hari.
“Lo boleh nyalain musik kalo bosen, sekarang memang walau udah malam jalanan tetep macet,” ucap Teo memecah keheningan.
“Oke, lagu apapun nggak masalah ya? Jangan protes!”
Teo hanya mengangguk, lalu memperhatikan Candra yang sedang menyambungkan ponselnya dengan Bluetooth di mobil milik Teo. Cukup lama Teo menunggu Candra yang sedang memilih lagu apa yang ingin di putar. Namun setelahnya, hampir saja Teo terkena serangan jantung mendengar lagu apa yang Candra putar.
“Lo masih suka lagu ini?” tanya Teo dengan ekspresi tidak percaya.
“Kenapa? Lo nggak suka? Gue udah bilang tadi jangan protes,” jawab Candra sewot.
“Iya, terserah lo aja. Asal lo seneng.”
Lagu Dalan Liyane masih menjadi lagu favorit Candra. Bahkan selama di Paris, Eric sering dia perdengarkan lagu itu. Memaksa agar Eric juga ikut menyukai lagu itu, walau tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan dalam lagu itu.
“Udah sampai, Can.”
Candra menoleh keluar jendela, tidak terasa perjalanan selama hampir dua jam itu berakhir. Candra mematikan lagu yang sedang di putarnya.
“Makasih tumpangannya,” ucap Candra.
“Ehm, Can. Gue boleh minta nomer WA lo?” tanya Teo sebelum Candra turun dari mobil.
“Boleh,” jawab Candra, dia mengeluarkan kartu namanya dan memberikan pada Teo. “Kalau gitu gue masuk dulu. Thank’s buat tumpangannya.”
“No problem.”
Candra segera masuk rumah begitu mobil Teo sudah menjauh dari sana. Rumahnya sudah sangat sepi, dia yakin jika semuanya sudah terlelap. Candra pun segera masuk ke kamarnya. Membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Besok pagi dirinya harus ke studio untuk mulai mengerjakan gaun milik Nayla.
Ting!
Suara notifikasi dari ponsel milik Candra terdengar, tapi wanita itu sudah terlanjur mager untuk mengambil ponselnya dan membuka chat itu. Akhirnya Candra mengabaikan chat itu, dia pikir pasti dari Teo yang baru saja dia beri nomor ponselnya. Sesaat kemudian Candra sudah jatuh tertidur, menikmati alam mimpinya.
Ting!
__ADS_1
...👠👠👠...
Tertanda: Otornya belum bangun 😴😴😴