
Candra mengerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya yang masuk retinanya. Hari sudah terang, Candra meraba- raba ponselnya untuk melihat pukul berapa sekarang. Matanya terbuka sempurna melihat banyaknya chat dan panggilan yang masuk ke ponselnya.
“Lah, gue kira semalem cuma chat dari Tayo,” gumam Candra.
Memang ada satu chat dari Teo, tapi hanya satu chat yang terkubur dengan ratusan chat yang masuk ke ponsel milik Candra. Ratusan chat dan panggilan itu berasal dari Juno. Mengetahui pria itu yang mengirim begitu banyak chat, membuat Candra malas membukanya. Dia lebih memilih untuk bersiap- siap menuju studionya.
“Nggak sarapan dulu?” tanya Bu Maya melihat Candra baru keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Bungkus aja, Ma. Nanti Candra sarapan di studio,” jawab Candra menuang air putih di meja makan.
“Ya udah tunggu, Mama bungkusin dulu. Ada Ifi sama Nisa juga? Mama bungkusin sekalian, ya?”
“Boleh, Ma.”
Candra mengendarai sepeda motornya dengan santai. Letak studionya tidak terlalu jauh dari rumahnya, bahkan bisa melewati jalan tikus untuk menuju ke sana. Kini Candra memutuskan untuk melewati jalan tikus itu, dia tidak mau terjebak macet jika melewati jalan besar.
“Eh? Ada kochenk,” ucap Candra mengerem mendadak, ketika tiba- tiba ada seekor kucing kampung menyeberang jalan.
“Jadi kangen Ndut,” gumam Candra sendu.
Ndut, kucing kesayangan Candra yang mati sejak dirinya duduk di kelas tiga SMA karena sakit ginjal. Mengetahui Ndut meninggal, Candra menangis selama tiga hari tanpa henti meratapi kepergian Ndut. Walaupun Ndut merupakan kucing bar- bar yang tidak berakhlak, tetap saja Candra menyanyangi Ndut seperti adik kandungnya.
“Jadi pengen pelihara kucing lagi,” ucap Candra melanjutkan perjalanannya.
Tidak lama kemudian, Candra sampai di studionya. Di depan gedung terparkir motor milik Ifi dan Nisa. Dua orang itu memutuskan untuk berangkat bersama dan pulang bersama selama bekerja di sini.
Di dalam Ifi dan Nisa sudah sibuk dengan aktivitas masing- masing, kemarin dua gadis itu diberi tugas untuk membeli bahan kain guna gaun milik Nayla. Jadi hari ini keduanya sudah bisa mulai membuat pola- pola.
“Kalian udah sarapan?” tanya Candra.
“Belom, lo bawa makanan?” jawab dan tanya Nisa.
“Nih, Nyokap gue bungkusin buat lo berdua,” ucap Candra memberikan lunch bag dengan motif bunga- bunga. “Gue naik dulu, ya?”
“Lo nggak sarapan dulu?” tanya Ifi.
“Nanti aja di atas, gue masih mau kerjain desain buat si Vina.”
__ADS_1
Nisa hanya mengangguk, dia sudah sibuk dengan sarapan buatan Bu Maya yang sangat enak. Candra naik ke lantai dua, sementara Ifi ikut bergabung dengan Nisa.
“Enak?” tanya Ifi.
“Enak banget. Kalo lo nggak mau buat gue aja,” jawab Nisa dengan mulut masih penuh.
“Enak aja lo. Udah di jatah juga. Inget sama badan.”
“Badan gue kenapa? Semok, ya?”
Hampir saja sendok di tangan Ifi melayang ke kepala Nisa. Ifi hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Nisa yang sangat narsis itu.
Di lantai dua, Candra mulai mengerjakan tugasnya. Dia duduk di balik meja kerjanya dan mulai mencoret- coret kertas putih itu. Wanita itu larut dalam pekerjaannya selama beberapa jam. Dering ponsel membuat fokus Candra teralihkan, dia melirik ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya. Candra mendengus kesal mengetahui siapa yang menelponnya. Juno.
“Halo?” sapa Candra ogah- ogahan, tangannya masih sibuk dengan pensil di atas kertas.
“Kok chat sama telponku semalam nggak kamu balas?”
“Udah tidur. Lo ada perlu apa? Maaf, tapi sekarang gue lagi sibuk,” ucap Candra masih dengan suara malas.
“Aku cuma mau tanya sesuatu. Aku kirim lewat chat, ya?”
“Dia pacar kamu? Kalo iya, dia masuk dalam daftar hitam. Nggak akan aku kasih kesempatan untuk hidup dengan tenang.” Begitu tulisan chat berikutnya.
Candra menahan napasnya, masih melihat wajah Teo terpampang di ponselnya. Entah bagaimana bisa Juno mendapat foto Teo. Namun mata Candra menyipit untuk melihat lebih jelas lagi.
“Asyem, Juno semalem kuntit gue?” pekik Candra tertahan.
...👠👠👠...
Sementara di lain tempat, seorang pria yang bertelanjang dada tersenyum puas. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Setelah meletakkan kembali ponselnya, pria itu memakai sarung tangan tinju dan segera naik ke atas ring tinju. Di sana sudah menunggu seseorang dengan penampilan seperti pria itu.
“Mulai!” teriak sang wasit.
Pria itu mulai menyerang dengan seringai yang menakutkan bagi lawannya. Namun lawannya kali ini tidak ingin mengalah begitu saja. Setiap pukulan dari pria itu mampu dihindarinya, hanya sebentar.
“Satu… dua…”
__ADS_1
Lawan pria itu sudah terkapar di arena pertarungan dengan darah keluar dari mulut dan hidungnya. Pria itu tersenyum bangga melihat lawannya sudah terkapar tidak berdaya.
“KO!” teriak wasit.
Mendengar hal itu, pria tadi mengangkat kedua tangannya tinggi- tinggi. Cukup puas dengan pertarungan pada hari ini.
“Thank’s, nanti gue transfer buat ke rumah sakit,” ucap pria itu menepuk pipi sang lawan.
“Lo mau kemana?” tanya seseorang.
“Ketemu mantan imut gue,” jawab pria itu terkekeh. “Dia masih di tempatnya, kan?”
“Iya, belum keluar- keluar sejak pagi tadi.”
“Good job, Yayan.”
Pria itu pun segera menuju ruang ganti untuk mandi dan berganti pakaian sebelum pergi menemui sang pujaan hatinya, sementara Yayan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Tidak berubah sama sekali sejak dulu.
Pria itu sudah sampai di depan sebuah bangunan, dia belum turun dari mobilnya. Masih asyik memperhatikan ke dalam sebuah studio. Semua aktivitas di dalamnya terlihat dari luar. Sebuah senyum simpul nampak di wajah tampan pria itu ketika melihat sosok yang dicarinya sedaritadi muncul. Pria itu pun turun dari mobilnya, berjalan santai menuju studio itu.
Sepertinya semua penghuni di sana belum menyadari kedatangan pria itu, mereka masih fokus pada pekerjaan masing- masing. Hingga ketika tiba- tiba saja salah satu di antara mereka tersandung gulungan kain dan hendak limbung. Pria itu dengan sigap menangkap tubuh ramping itu.
“Teri… Juno?” pekik Candra membulatkan matanya.
Ifi dan Nisa yang tadi berteriak melihat Candra yang hendak jatuh tersungkur pun mendadak terdiam. Candra yang sadar lebih dulu, mencoba melepaskan rengkuhan tangan pria itu dari pinggangnya.
“Ayo ikut aku!” ajak Juno. “Gue pinjem bos lo dulu,” lanjut Juno tersenyum pada Ifi dan Nisa yang masih terpaku.
“Tampol gue, Fi,” gumam Nisa masih bengong.
PLAKK!
“Heh! Kok nampol beneran?” pekik Nisa memegangi pipinya yang di tampar Ifi.
“Lo sendiri yang minta tadi,” jawab Ifi berlalu meninggalkan Nisa.
...🥊🥊🥊...
__ADS_1
Oh ya, untuk yang penasaran dengan wujud Ndut silahkan baca Mantan Rasa Pacar. Di sana ada wujud Ndut. Di Episode berapa? Hmm, Otor juga lupa. Baca aja dari awal siapa tahu nanti ketemu, muehehehe 😗😗😗
Tertanda: Otor masih tidur 😴😴😴