
Candra menatap sebuah rumah di depannya. Lalu pandangannya beralih pada Juno, meminta penjelasan pada pria itu. Namun Juno hanya tersenyum dan meminta Candra untuk segera turun dari mobil.
“Lo ngapain ajak gue ke sini?” tanya Candra.
“Nanti kamu juga tau,” jawab Juno masih mempertahankan senyumannya.
“Nggak, lo jelasin dulu. Please! Jangan buat ulah lagi, Jun.”
Belum sempat Juno membalas ucapan Candra. Seseorang keluar dari rumah itu, mengernyitkan dahi melihat kedatangan Juno dan Candra. Namun perlahan kernyitan itu memudar, digantikan oleh sebuah senyum di wajah wanita paruh baya itu.
“Candra?” tanya Bu Felin memastikan.
“Iya, Tan. Tante apa kabar?” jawab dan tanya Candra menyunggingkan senyum seadanya.
“Baik. Kamu apa kabar? Kenapa jadi jarang main ke sini? Tante kangen tau. Ayo, masuk. Ngobrol- ngobrol di dalem,” ajak Bu Felin tidak memberi kesempatan bagi Candra untuk menjawab. Beliau menuntun Candra untuk masuk, sementara di belakang mereka Juno mengikuti.
“Bagaimana kabar Mama kamu?”
“Baik, Tan.”
“Sebenernya Tante udah sering denger tentang desainer terkenal di Paris itu, eh… ternyata itu kamu. Hebat, ya, sekarang kamu.”
Candra tersenyum mendengar pujian itu. “Nggak juga, Tan.”
Obrolan mereka masih berlanjut, sementara Juno masuk ke dalam untuk mengambil beberapa berkasnya. Setelah menemukan berkas yang dibutuhkannya, pria itu tidak langsung kembali. Dia sengaja memberi waktu bagi dua wanita itu untuk mengobrol setelah sekian lama tidak berjumpa.
Dulu orang tua Juno sangat mendukung hubungan keduanya, karena setelah menjalin hubungan dengan Candra, Juno terlihat lebih terkendali daripada sebelumnya. Tapi ketika mendengar keduanya mengakhiri hubungan mereka, orang tua Juno terlihat sangat terpukul. Bahkan dahulu mereka sampai menemui Candra untuk meminta penjelasan, apa yang menyebabkan hubungan keduanya kandas.
Candra tidak memberitahu yang sebenarnya kepada orang tua Juno, dia tidak mau memperkeruh keadaan dengan melibatkan orang dewasa ketika itu. Akhirnya Candra hanya menjelaskan jika dia ingin lebih fokus pada sekolahnya, walau memang kenyataannya sekolah Candra sama sekali tidak terganggu.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh orang tua Juno, walau kecewa beliau tetap menghormati keputusan Candra. Orang tua Juno sangat sadar, tidak mungkin gadis baik seperti Candra mau menjalin hubungan dengan laki- laki seperti Juno.
Juno memutuskan untuk kembali turun menemui Candra dan Bu Felin. Dilihatnya mereka masih mengobrol. Namun hanya Bu Felin yang terlihat antusias, sementara Candra cenderung lebih pendiam. Wanita itu hanya menanggapi seperlunya saja.
“Andai Tante punya anak lagi, kamu Tante jadiin mantu,” celetuk Bu Felin ketika menyadari kedatangan Juno dengan beberapa file ditangannya.
__ADS_1
Juno yang mendengar hal itu mendengus sebal. Bu Felin sudah mengetahui jika Juno melanjutkan pertunangan dengan Nayla yang beberapa saat lalu tertunda.
“Ma, Juno harus kembali ke kantor,” interupsi Juno.
“Candra ikut?” tanya Bu Felin.
“Iya, Juno mau antar Candra pulang.”
Bu Felin menghembuskan napasnya kecewa, mengapa waktu sangat cepat berlalu? Akhirnya dengan berat hati Bu Felin membiarkan dua orang itu pergi.
“Sering main ke sini, Can. Masih banyak yang mau Tante ceritakan,” ucap Bu Felin. “Ah, ya. Kamu harus kembali ke Paris,” lanjut Bu Felin setelah ingat.
Memang tadi Candra memberitahu jika dia tidak akan lama di Indonesia. Pekerjaannya berada di Paris, jadi mau tidak mau wanita itu harus segera kembali ke sana. Apalagi kini pekerjaannya di Indonesia sudah selesai. Candra, Ifi, dan Nisa sedang mempersiapkan barang- barangnya untuk kembali ke Paris.
Selama perjalanan kali ini hening. Sejak keluar dari rumah Juno tadi, Candra mendadak menjadi sangat pendiam. Sepertinya ada yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Juno pun menepikan mobilnya, berhenti di pinggir jalan yang hendak menuju studio milik Candra. Pria itu menatap Candra yang sepertinya masih asyik melamun, entah memikirkan apa.
“Sayang?” panggil Juno pelan. Entah mengapa walau sudah dilarang berkali- kali oleh Candra, pria itu sangat senang memanggilnya ‘Sayang’.
Candra terkejut ketika tangan besar Juno menggenggam tangannya. Wanita itu mendongak dan pandangannya bertemu dengan mata jernih Juno. Candra segera melepas genggaman tangan itu, lalu pandangannya melihat sekitarnya.
“Kamu lagi lamunin apa?” tanya Juno masih dengan nada lembut. “Apa tadi Mama nyinggung kamu?”
“Hah? Nggak, Nyokap lo nggak nyinggung gue,” jawab Candra menggelengkan kepalanya. “Gue cuma lagi mikirin project gue di Paris,” tambah Candra ketika melihat tatapan curiga dari Juno.
“Kamu bener- bener mau kembali ke Paris lagi?” tanya Juno. Tatapannya terlihat sangat kecewa.
“Iyalah, kerjaan gue di sana.”
Hening.
Suasana kembali hening setelah Candra menjawab pertanyaan Juno tadi. Entah kenapa hari ini Juno terlihat berbeda. Pria itu tidak menunjukkan wajah tengil seperti biasanya. Ekspresinya terlihat lebih melunak. Namun jujur saja, hal itu malah membuat Candra takut.
“Aku mau tanya satu hal ke kamu untuk yang terakhir,” ucap Juno dengan wajah sangat serius.
“Apa?” tanya Candra mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Jika aku mengakhiri semuanya dengan Nayla. Apa kita bisa memulainya dari awal lagi?” tanya Juno penuh harap menatap lurus pada Candra.
Candra menahan napas mendengar pertanyaan tidak terduga itu. Mendadak Candra kehilangan kata- katanya, tidak tahu harus menjawab apa.
“Jawaban kamu kali ini sangat berarti. Aku akan berhenti jika kamu tidak mau memulai dari awal lagi,” ucap Juno. Sebenarnya pria itu juga ketar- ketir, dalam hati dia tidak ingin mengakhirinya dengan Candra. Juno masih ingin terus berjuang, tapi melihat Candra yang sangat tersiksa membuatnya memilih mundur.
“Kenapa lo tanya lagi? Lo udah tau jawabannya. Gue udah move on sejak lama,” ucap Candra.
Juno menggelengkan kepalanya. “Aku yakin kamu belum move on.”
Candra terkekeh mendengar asumsi dari pria di sampingnya itu. “Lo salah, gue udah bener- bener move on.”
Juno memegang bahu Candra, membuat wanita itu terkejut. Juno meminta Candra untuk menatap matanya, pria itu ingin memastikan sendiri lewat mata Candra. Karena mata tidak akan bisa berbohong, tatapan seseorang tidak bisa bohong.
“Jawab sambil tatap mata aku, dengan begitu aku bisa memastikannya sendiri,” ucap Juno.
Candra memejamkan matanya, lalu membuka kembali dengan tatapan lurus pada mata Juno. Jujur saja, saat ini Candra sangat gugup. Jantungnya berdebar begitu kencang. Namun dia juga ingin segera mengakhirinya saat ini juga. Mata keduanya masih saling terkunci.
Juno menatap intens pada Candra yang masih saja bungkam, pria itu sedang mencari sesuatu lewat mata Candra. Sementara Candra menghembuskan napasnya sebelum menjawab pertanyaan Juno tadi.
“Semoga kamu nggak menyesal dengan jawaban kamu nanti,” ucap Juno tersenyum manis pada Candra. Ekspresi wajah Candra berubah setelah melihat senyum manis Juno yang biasanya tidak akan berefek padanya.
‘Ya, semoga gue nggak akan menyesal,” batin Candra.
...👠👠👠...
Tertanda: Otornya Rajin ☺☺☺
Betewe ini cast untuk Candra dan Juno. Ini hanya pandangan Otornya, jika di rasa kurang cocok bisa bayangkan wajah lain 😁😁😁
Dan ini Juno
__ADS_1