Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Perjuangan Candra


__ADS_3

Juno benar- benar langsung meninggalkan hotel tempatnya menginap. Meninggalkan Yayan yang menatapnya dengan seribu tanya. Juno yang sudah mencapai pintu, kembali berbalik. Sementara Yayan masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan kernyitan dahi.


“Gue mau balik Jakarta. Candra mau melahirkan, besok kalian bisa pulang. Nayla tinggalin di sini aja, dia masih harus ngurus beberapa pekerjaan lagi.”


“Lo ngomong apa nge- rap? Cepet banget, gue nggak paham,” kata Yayan masih dengan kernyitan di dahi, dahinya berlipat- lipat saat ini.


“Intinya gue balik Jakarta malam ini,” ucap Juno dan langsung keluar dari kamar hotel dengan terburu- buru.


“Lah? Gila tuh orang. Heh, Jun! Udah tengah malem, woy! Yakin lo mau balik sendirian?” teriak Yayan berusaha menghentikan Juno. Namun terlambat, Juno sudah masuk ke dalam lift.


Yayan hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya yang terasa remuk, karena seharian ini banyak pekerjaan. Sebenarnya Yayan hanya mengikuti Juno saja seharian ini, tapi entah mengapa tubuhnya terasa sangat lelah.


Sementara itu, Juno mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang lengang. Mobilnya beradu dengan bus- bus malam dan truk besar. Pikiran pria itu saat ini hanya terfokus pada Candra, juga dia terus berdoa jika bayinya belum keluar hingga dirinya tiba di rumah sakit. Juno benar- benar melupakan rasa lelahnya. Sejak kegiatannya seharian ini, pria itu belum beristirahat sama sekali.


“Tetep melek, Jun,” gumam Juno menampar pipinya ketika rasa kantuk mulai menyerangnya.


Namun tetap saja tidak memberi efek. Akhirnya Juno mampir terlebih dulu di minimarket untuk membeli segelas kopi. Setelah membeli kopi, Juno melanjutkan kembali perjalanannya. Tadi dia sempat mengirim chat pada Mama mertuanya, menyakan bagaimana kondisi Candra saat ini. Juno bernapas lega ketika Candra sudah tidur, tapi beberapa kali terbangun karena merasakan kontraksi.


...👠👠👠...


Candra membuka matanya melihat sekeliling, di sebelahnya ada Bu Maya yang rupanya tertidur. Candra merasa haus, lalu dengan perlahan dia membangunkan sang Mama. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Bu Maya terbangun dari tidurnya.


“Candra haus, Ma,” kata Candra dengan suara serak.


Bu Maya pun segera mengambilkan Candra air minum. Candra meminum air itu melalui sedotan, setelah tenggorokannya lega matanya kini beralih pada jam di dinding. Jarum jam itu menunjukkan pukul enam pagi. Sudah 24 jam lebih, tapi Candra masih pembukaan kedelapan.


“Kok lama, ya?” tanya Candra.


“Sebentar lagi, Can. Sabar. Oh ya, semalam Juno langsung pulang. Mungkin sebentar lagi sampai.”

__ADS_1


Candra hanya menganguk, kontraksi itu datang lagi. Seorang bidan datang untuk mengecek keadaan Candra saat ini. Bidan itu memeriksa jumlah bukaan dengan memasukkan tangannya ke dalam M*ss V Candra.


“Sebentar lagi pembukaan sempurna, Bu,” ucap bidan itu.


Candra hanya bisa mengangguk, rasa perutnya sudah sangat tidak karuan. Perutnya bertambah sakit, rasa ingin BAB Candra rasakan sejak tadi.


“Jangan mengejan, Bu,” ucap bidan itu memperingatkan Candra.


‘Ckck, banyak amat aturannya,’ batin Candra dongkol dengan wajah meringis kesakitan.


Peluh mengucur di dahi Candra, berkali- kali Bu Maya mengelap peluh di dahi Candra. Para bidan mulai melakukan persiapan, ada juga para perawat yang nantinya akan mengambil alih bayi yang sudah lahir untuk ditimbang, diukur panjang badan, serta membedong bayi tersebut. Seorang bidan mengecek infus Candra. Dokter Nara juga sudah berada di sana.


“Kepalanya udah kelihatan,” kata Dokter Nara.


“Ayo, Bu Candra mulai mengejan.” Bidan itu mulai memberi aba- aba.


“Lagi, Bu. Lebih kuat!” lanjut Dokter Nara.


“Oek… Oek… Oek…”


Suara tangis bayi membuat Candra bernapas lega, dia benar- benar lemas saat ini. Candra memejamkan matanya, berusaha mengontrol napasnya.


“Selamat Bu Candra, bayinya perempuan,” ucap Dokter Nara mengangkat bayi perempuan itu untuk ditunjukkan pada Candra.


Candra tersenyum melihat anaknya lahir dengan selamat. Lalu bayi itu segera diberikan pada perawat untuk dibersihkan, ditimbang, diukur panjang badannya, dan dibedong. Setelah selesai, bayi itu diberikan pada Candra untuk diberi ASI.


Candra menangis terharu, rasa sakit yang terasa seperti nyawanya tercabut hilang entah kemana. Bahkan Dokter Nara yang sedang menjahit dirinya pun tidak Candra rasakan. Candra menyentuh pipi bayinya, air matanya masih terus meleleh. Begitu juga dengan Bu Maya, beliau pun menangis terharu.


“Bayinya untuk sementara kami bawa terlebih dulu ke ruang bayi, jika ingin melihat nanti Ibu bisa ke ruangan bayi,” jelas perawat itu.

__ADS_1


Bu Maya mengangguk dan menatap kepergian perawat itu yang menggendong cucunya. Di depan ruang bersalin, keluarga Candra menunggu. Ada Pak Haris, Bu Felin, Pak Dedi, dan tentunya Juno. Wajah Juno benar- benar tidak enak dipandang saat ini. Tadi Juno ingin menyeruak masuk ke dalam, pria itu ingin menemani sang istri yang berjuang di dalam. Namun seorang bidan tidak mengizinkannya masuk, karena yang di dalam hanya boleh satu orang saja.


“Keluarga Bu Candra?” tanya perawat itu.


Spontan Juno berdiri dan segera menghampiri perawat itu, diikuti dengan kedua orang tuanya dan Papa mertuanya.


“Saya suaminya!” kata Juno spontan bersemangat.


Perawat itu tersenyum simpul. “Bayi Bapak lahir dengan sehat. Dengan jenis kelamin perempuan, berat badannya 3 kilogram, dan panjang badannya 51 sentimeter. Lalu untuk saat ini bayinya akan masuk incubator terlebih dulu. Bapak dan Ibu bisa menjenguknya di ruang bayi yang ada di lantai dua.”


“Keadaan istri saya bagaimana, Mbak?” tanya Juno.


“Keadaan istri Bapak baik, beberapa jam lagi beliau sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat,” jawab perawat itu.


Juno pun hanya mengangguk, lalu tatapannya berpindah pada bayinya. Bayi mungil itu terlihat tenang, padahal tadi suara tangisnya terdengar sampai luar. Perawat itu pun pamit untuk membawa bayi itu. Bu Felin dan Pak Dedi berjalan mengikuti langkah perawat itu, beliau masih ingin melihat cucu mereka. Sementara Juno bersam Pak Haris masih berada di depan ruang bersalin.


“Papa mau beli sarapan untuk kalian dulu. Nanti kabari jika Candra sudah dipindahkan,” ucap Pak Haris.


“Iya, Pa.”


Tidak lama kemudian, Candra keluar dari ruang bersalin itu bersama dengan Bu Maya. Wajah Candra masih terlihat sangat lelah. Juno pun mengikuti mereka hingga sampai di kamar rawat istrinya itu. Juno mendekati bed Candra, tangan pria itu mengusap peluh di dahi istrinya.


“Kamu hebat, Yang. Terima kasih,” bisik Juno dan mencium dahi Candra cukup lama. Sementara Candra hanya tersenyum mendengar bisikan Juno itu.


...🥊🥊🥊...


Betewe, suara bayi nangis bener kek gitu kan?


Terima kasih untuk kalian pembaca novel remahan ini 🥺🥺 juga terima kasih atas dukungan kalian 🥺🥺 Lope kalean sekebon

__ADS_1



__ADS_2