Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Hadiah Tak Terlupakan


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya, Candra sedang berkutat dengan kertas- kertas di mejanya. Namun wajahnya terlihat tidak bersemangat hari ini. Penyebabnya adalah Juno, pria itu yang menyebabkan wajah Candra tidak enak dipandang.


Beberapa minggu belakangan, Juno sangat jarang menelpon bahkan mengabari dirinya. Memang terakhir kali mereka mengobrol di telepon, pria itu mengatakan bahwa beberapa hari ke depan dia akan sangat sibuk. Namun sesibuk apapun Juno, pria itu pasti selalu memberinya kabar.


“Haaah.” Candra membuang napasnya panjang, sejak tadi yang dilakukannya hanya menarik dan membuang napasnya.


Ingin rasanya Candra pergi menemui Juno, tapi sayang niatnya itu harus diurungkannya. Masih ada tanggung jawab yang harus Candra selesaikan di sini.


“Can, lo bisa gantiin gue pemotretan siang ini?” tanya Novi yang tiba- tiba saja masuk ke dalam ruangan milik Candra.


“Lo mau kemana?” tanya Candra mengernyitkan dahinya.


“Gue mau cari bahan sama Ifi.”


“Terus si Nisa kemana?”


“Lo lupa? Dia lagi meeting sama timnya. Bentar lagi dia ada event.”


Candra mengangguk. “Iya, nanti gue gantiin lo. Dimana tempatnya?”


“Nanti gue chat alamatnya. Thank you, Candra.”


Dan disinilah Candra sekarang, berada di sebuah bangunan dengan arsitektur khas Prancis zaman dulu. Wanita itu sedang berkeliling mengamati sekitar. Candra belum pernah datang ke tempat ini. Ponsel Candra berdering, tangannya cepat mengambil ponsel yang berada di dalam tas selempangnya. Namun setelah melihat siapa yang menelponnya, bahu Candra merosot.


“Apa?” tanya Candra ketus.


“Lo kenapa sih? Sensi banget,” jawab suara di seberang sana.


“Kenapa lo telpon gue? Meeting lo udah kelar?”


“Meeting ap… oh iya, udah selesai. Can, lo pulang jam berapa?” tanya Nisa.


“Belum tau gue, nih modelnya Novi daritadi nggak niat banget,” jawab Candra kesal.


“Oh gitu? Nanti kalo lo mau balik kabarin, ya?”

__ADS_1


“Kenapa emang?” tanya Candra mengernyitkan dahinya.


“Gue mau nitip beliin Éclair rasa Yuzu Lemon, Passion Fruit… kalian mau rasa apa?” tanya Nisa pada Ifi dan Novi. “Oh ya, si Ifi juga Yuzu Lemon, terus Novi salted caramel. Beli di L’Éclair de Genie, ya?”


Candra mendengus, tapi dia mengiyakan perminataan Nisa tadi. Sepertinya hari ini dia juga membutuhkan makanan manis untuk mengembalikan mood- nya yang rusak.


Kurang lebih pukul tiga sore, pemotretan itu baru selesai. Candra meregangkan tangan dan lehernya yang terasa kaku. Wanita itu pun berkemas untuk pergi ke toko roti yang tadi diminta oleh Nisa. Setelah berpamitan dengan para tim dan model, Candra bergegas menuju toko yang jaraknya kurang lebih satu jam dari tempatnya sekarang.


Lagi- lagi Candra menghela napasnya, Juno masih belum menghubunginya. Sebenarnya kemana pria itu tanpa ada kabar. Candra bahkan sudah bertanya pada Bu Felin, menanyakan keberadaan Juno.


“Juno memang sedang sibuk, Can. Nanti coba Mama minta dia buat hubungi kamu,” ucap Bu Felin ketika itu.


Candra menyenderkan badannya pada kursi taksi yang ditumpanginya. Matanya memandang pemandangan sepanjang jalan.


“Semoga aja siluman buayanya nggak kumat,” gumam Candra dengan mata masih fokus pada jalanan kota Paris yang selalu ramai.


Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Candra sampai di toko itu. Wanita itu pun segera memasuki toko dan memesan berbagai macam pastry yang tadi dipesan oleh Nisa. Tidak lupa dia juga membeli untuk dirinya sendiri.


Beberapa menit lamanya Candra menunggu pesanannya. Toko ini sangat ramai oleh pengunjung lokal maupun mancanegara. Banyak juga turis yang mengunjungi toko ini untuk mencicipi berbagai macam pastry yang ditawarkan di toko ini. Pesanan Candra sudah siap. Setelah membayar, dia segera kembali ke kantor.


“Cuacanya kontras banget sama mood gue sekarang,” gumam Candra.


Ponsel Candra berdering, membuat wanita itu membuka matanya. Dengusan keras keluar dari hidung Candra. Nisa yang lagi- lagi menelponnya.


“Kenapa? Gue lagi di jalan, bentar lagi sampai,” ucap Candra begitu panggilan itu terjawab.


“Can, lo bisa ke Le Mur des Je T’aime sekarang?” tanya Nisa.


“Ngapain?”


“Tadi ada beberapa foto yang belum perfect, jadi si Novi minta ulang. Tapi tempatnya di sana aja.”


Candra memijit pelipisnya, emosi melingkupinya. “Tapi ini udah kelewat…”


“Novi udah nunggu di sana. Nanti lo sama Novi.”

__ADS_1


Akhirnya Candra berputar kembali menuju tempat yang tadi Nisa beritahukan. Sebenarnya sedikit heran juga dengan temannya itu. Mengapa memilih lokasi pemotretan di sana? Candra sampai di tempat yang tadi Nisa beritahukan. Tembok Cinta atau Le Mur Des Je T’aime ini merupakan dinding berukuran 40 meter persegi.


Dibangun tahun 2000 oleh kaligrafis Federic Baron bersama seniman mural Claire Kito. Berdiri di sebuah taman kecil, tembok ini memuat ungkapan ‘Aku Cinta Kamu’ dalam 250 bahasa berbeda. Candra tengah mencari keberadaan Novi.


“Halo, Nov? Lo dimana?” tanya Candra menelpon Novi.


“Gue di deket tembok paling ujung. Gue udah bisa lihat lo dari sini,” ucap Novi.


Candra pun memandang sekelilingnya untuk mencari keberadaan Novi. Matanya menemukan Novi yang sedang melambaikan tangannya. Dia pun segera menghampiri Novi, ekspresinya sudah siap menyemprot Novi.


Namun begitu sampai di tempat Novi, ekspresi Candra mendadak berubah. Dia terdiam di tempatnya melihat Novi yang ternyata tidak datang sendiri. Disana ada Ifi dan Nisa juga, lalu yang membuat Candra terkejut ada kedua orang tuanya dan bahkan ada orang tua Juno juga.


Candra masih diam, tiba- tiba saja dia nge-lag. Lalu dari belakang dimana orang tua Candra berdiri, seseorang maju dan berdiri tepat di depan Candra dengan membawa sebuah kue.


“Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Juno tersenyum manis.


“Hah? Siapa yang ulang tahun?” tanya Candra masih nge-lag.


Nisa menjitak kepala Candra agar wanita itu segera tersadar. Jitakan maut dari Nisa berhasil membuat Candra tersadar.


“Oh iya, gue ulang tahun hari ini,” gumam Candra. Entah kenapa tiba- tiba matanya memanas, air matanya mendesak ingin keluar. Candra menatap wajah Juno yang masih tersenyum padanya.


PLAK!


Candra menampar pipi Juno, membuat semua orang membulatkan matanya. Bahkan Nisa ternganga melihat Candra yang menampar Juno.


“Nggak mimpi ternyata,” gumam Candra yang langsung memeluk pria itu. “Aku kangen kamu,” bisik Candra di dalam pelukan Juno. Juno memberikan kue yang tadi dipegangnya pada Novi.


“Aku juga,” jawab Juno melepas pelukannya, lalu pria itu berlutut di hadapan Candra. “Will you marry me?” tanya Juno mengulurkan kotak berisi cincin.


Air mata Candra mengalir keluar dan dia mengangguk. “Yes, I will.”


Juno pun memasangkan cincin itu pada jari Candra, lalu suara heboh dari Nisa menambah ramai suasana di sana.


...👠👠👠...

__ADS_1


No Caption 🙂


__ADS_2