
Mobil Juno berbelok menuju sebuah supermarket yang searah dengan jalan pulang. Kemarin Candra memintanya untuk berbelanja kebutuhan sehari- hari. Wanita itu belum bisa keluar rumah karena tidak ada yang menjaga Aurel. Sebagai suami yang baik dan sayang keluarga, Juno pun menawarkan diri untuk berbelanja. Lalu di sinilah sekarang dia, mendorong troli seorang diri dan mengelilingi supermarket.
“Mbak, maaf. Gula pasir dimana, ya?” tanya Juno pada seorang pegawai supermarket itu.
“Di sebelah sana, Pa… Mas. Mau saya antar?” jawab dan tanya perempuan itu memperhatikan Juno dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Nggak perlu, saya bisa sendiri,” tolak Juno dan segera berlalu darisana.
“Saya temani, biar belanjanya cepat dan semuanya terbeli,” ucap perempuan itu masih mencoba menahan Juno.
“Istri saya sudah mencatat semua. Terima kasih atas tawarannya,” ujar Juno mencoba masih terlihat sopan.
Memang benar, semalam istrinya mencatatkan semua barang yang harus dibeli oleh Juno. Candra mencatatnya sangat teliti. Mulai dari nama barang, mereknya, ukuran, serta jumlah yang harus di beli. Juno sampai pada tempat gula pasir, pria itu mencari- cari merek yang Candra inginkan.
“Hmm? Satu kilonya habis,” gumam Juno, dia pun mengeluarkan ponselnya.
Pria itu masih bertahan di depan rak gula pasir hingga sambungan teleponnya terhubung. Beberapa detik kemudian telepon itu terjawab. Juno pun segera melaporkan jika gula pasir yang diminta stoknya habis.
“Kalo gitu beli yang setengah kilo, ada nggak?” tanya Candra dari seberang sana.
“Ada. Beli satu?”
“Yaaa, nggak beli satu juga. Aku tadi tulis gula pasirnya dua kilo, kan? Karena kemasan satu kilo nggak ada berarti beli yang kemasan setengah kilo,” jelas Candra.
“Ah, oke. Gula pasir udah, terus… minyak goreng,” gumam Juno. “Mbak, permisi. Saya mau tanya minyak goreng dimana?”
Sambungan telepon masih terhubung, di seberang sana Candra mengernyitkan dahi mendengar Juno sedang bercakap- cakap dengan seseorang.
“Mas, video call aja,” pinta Candra.
Juno menurut dan mengubah panggilan suara tadi menjadi video call. Terpampanglah wajah Candra dan Aurel yang berada dalam gendongan wanita itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pegawai mendekati Juno.
__ADS_1
“Nggak, Mbak. Tempatnya sudah ketemu,” jawab Juno.
Juno sudah sampai di depan rak minyak goreng dengan berbagai merek. Pria itu pun menyusuri tiap rak untuk menemukan merek dicatatan Candra.
“Kelewatan! Itu di depan kamu persis minyaknya. Nah, itu rak paling atas,” ucap Candra.
“Ini?” tanya Juno menunjukkan minyak goreng itu pada Candra dan segera diangguki oleh wanita itu.
Perjalanan belanja Juno berlanjut pada popok untuk Aurel. Di tempat ini pria itu sedikit kebingungan memilih popok untuk Aurel. Juno harus benar- benar teliti membaca kemasan popok itu, karena hampir semua yang satu merek kemasannya terlihat sama. Namun jika diteliti lebih detail, aka nada yang berbeda terutama ukuran popok itu.
“Permisi, Bu. Saya mau ambil itu,” ucap Juno menunjuk popok yang berada di rak bagian atas.
“Ah iya, silahkan. Saya juga mau ambil ini,” jawab ibu itu, tapi dia tidak mau berpindah tempat.
Juno pun mengernyit dengan tingkah ibu itu. Akhirnya pria itu menunggu hingga ibu- ibu itu selesai mengambil popok yang dibutuhkannya.
“Lho? Nggak jadi ngambil, Mas?” tanya ibu itu menoleh ke belakang.
“Nanti saja, ibu duluan,” jawab Juno.
“Mas? Kok malah bengong? Kamu nggak lihat popoknya? Itu di atas,” kata Candra.
“Iya, Yang. Tunggu sebentar, lagi antre,” jawab Juno.
“Hah? Antre? Tinggal ambil aja, nggak perlu antre segala.”
Juno pun mengarahkan ponselnya pada ibu- ibu yang masih berdiri di depannya. Sementara ibu- ibu itu malah terlihat salah tingkah, dia pikir Juno hendak memotretnya.
“Owalah, Mas- nya mau minta foto? Ngomong dong, Mas,” kata ibu itu tersipu malu. “Tapi saya nggak mau foto sendiri, ayo bareng sama Mas- nya,” lanjutnya.
Candra di seberang sana membulatkan matanya mendengar ibu- ibu itu bicara seperti itu. Sepertinya dia salah menyuruh Juno berkeliaran ke supermarket seorang diri. Sedangkan Juno berusaha menahan tawanya mendengar ocehan ibu- ibu itu yang sudah sangat terlampau percaya diri.
“Aku masih nunggu itu, Yang. Sabar, ya?” ucap Juno sengaja mengeraskan suaranya, dia juga sengaja menunjukkan cincin perkawinannya.
__ADS_1
“Iya, tunggu aja sampai ibunya selesai. Oh ya, beli juga susu buat aku,” jawab Candra.
Ibu itu yang mendengar percakapan Juno dan seseorang di seberang sana pun terkejut, apalagi ketika netranya menangkap cincin yang melingkar di jari manis Juno. Tanpa berkata apa- apa, ibu itu segera pergi darisana dengan tergesa- gesa.
“Udah pergi?” tanya Candra.
“Udah,” jawab Juno terkekeh geli.
Candra pun hanya menggelengkan kepala. Masih banyak barang belanjaan yang harus Juno beli. Candra pun menyuruh suaminya itu untuk cepat berbelanja, di rumah dia merasa tidak tenang. Namun selama mencari barang- barang yang hendak dibelinya, Juno sama sekali tidak memutus sambungan teleponnya.
“Pak, maaf. Tidak boleh membuat konten di sini,” interupsi seorang petugas keamanan menghentikan laju troli milik Juno.
“Saya nggak buat konten, saya sedang VC dengan istri saya,” jelas Juno menunjukkan ponselnya.
Petugas keamanan itu pun meminta maaf dan melanjutkan tugasnya kembali. Begitu juga dengan Juno, pria itu kembali berburu barang belanja.
Semua barang sudah berada di dalam troli, troli itu hampir penuh dengan barang belanjaan. Kini Juno sedang mengantre di kasir. Pria itu mengantre bersama dengan para ibu yang daritadi secara terang- terangan menatapnya. Bahkan beberapa di antara mereka terdengar sedang membicarakannya. Tentu hal itu membuat Juno merasa tidak nyaman, walau kebanyakan dari mereka memujinya.
“Ssst, keren tuh cowok. Belanja buat buat istrinya,” bisik seorang perempuan remaja yang berdiri di belakang Juno.
“Iya kayaknya. Gila, damage- nya kayak di novel- novel yang pernah gue baca.”
“Benerkan? Kayaknya dia Papa muda deh.”
Juno berusaha tidak mendengarkan bisikan- bisikan itu. Lagipula mengapa orang- orang berpikir jika usianya masih muda? Apakah memang wajahnya yang terlihat awet muda? Juno menyetujui pemikiran itu.
‘Iya, gue pasti awet muda,’ batin Juno, dia maju selangkah untuk menuju ke samping meja kasir.
Setelah perjuangan yang tidak mudah, akhirnya Juno berhasil melaksanakan tugas sebagai suami serta Ayah yang baik. Pria itu baru saja sampai rumah, dia masuk ke dalam dengan menenteng semua barang belanjaannya.
“Mas, lain kali aku nggak akan biarin kamu belanja sendiri,” ucap Candra memberi sambutan.
...👠👠👠...
__ADS_1