
Pagi ini Candra sudah rapi dan siap menuju studionya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok Nata yang duduk manis di meja makan seorang diri. Tidak terlihat keberadaan Bu Maya di sana, entah kemana beliau pergi sepagi ini. Nata sedang menyantap sarapannya, dia belum menyadari kedatangan Candra. Sementara Candra hanya melengos menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Can, gue anter ya? Lo mau ke studio lo, kan?” tanya Nata yang sudah berdiri di belakang Candra.
“Nggak perlu, gue bawa motor sendiri,” jawab Candra dan segera pergi dari sana.
Sementara Nata masih belum menyerah, pria itu mengikuti langkah sepupunya itu. Dia tidak akan menyerah sampai Candra memaafkannya. Langkah Nata terhenti ketika melihat ada seseorang berdiri di depan Candra.
“Nggak perlu, gue bisa pergi sendiri,” ucap Candra ketus pada orang itu.
Nata mengernyitkan dahinya dan berjalan mendekat. Melihat siapa orang itu, rahang Nata mengeras.
“Lo!” Tunjuk Nata dengan tatapan tajam.
Candra memutar bola matanya malas melihat dua orang yang sedang adu tatap ini. Namun wanita itu jadi mendapatkan kesempatan untuk kabur. Candra diam- diam menstater motornya dan segera pergi dari sana. Masa bodoh dengan dua orang itu yang mungkin saja sedang adu jotos saat ini. Lagi- lagi di perjalanan Candra bertemu dengan seekor kucing yang sedang mengincar ikan asin yang sedang di jemur di depan sebuah rumah warga.
“Pengen adopsi kochenk,” gumam Candra masih memperhatikan kucing lucu itu.
Beberapa menit kemudian, Candra sudah sampai studionya. Namun baru saja dia memparkir motornya, Teo menghampiri.
“Pagi, Can. Ini buat lo,” sapa Teo, pria itu memberikan sebuah kantong plastik dengan label merek sebuah toko.
“Apa ini?”
“Minuman, itu juga buat temen- temen lo.”
“Makasih, klinik lo jam segini udah buka?”
Teo menggelengkan kepalanya. “Belum, gue sengaja mau temuin lo dulu.”
“Lo ada perlu sama gue?”
“Nggak sih, cuma mau nyapa lo doang,” ungkap Teo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lo mau masuk dulu? Temen gue pasti seneng liat lo.”
“Nggak deh, nanti siang aja. Makan siang bareng gue, ya?”
“Siapa? Gue sama temen- temen?”
“Cuma lo, Can. Ada yang mau gue bahas sama lo. Oke? Nanti gue jemput lo.”
Teo pergi dari sana, menghilang di balik tembok. Candra menatap kantong plastik di tangannya yang berisi beberapa botol minuman bervitamin. Candra segera masuk dan menemui teman- temannya yang sudah sibuk dengan mesin jahit masing- masing. Diletakkannya minuman itu di meja membuat Ifi dan Nisa serempak mengalihkan fokus mereka.
“Apa tuh?” tanya Nisa berjalan meninggalkan mesin jahitnya.
__ADS_1
“Gercep amat liat makanan,” celetuk Candra.
“Dari siapa nih?” tanya Nisa tidak mempedulikan celetukkan Candra.
“Dari Tayo.”
“Pak Dokter itu?” tanya Nisa dengan mata berbinar.
Candra mengangguk dan mengambil satu botol untuk dibawanya ke atas. Sementara Nisa langsung membuka botol itu dan meminum isinya.
“Fi, lo mau nggak? Kalo nggak mau buat gue, ya?”
“Mau lah, bentar nanggung. Gue selesaiin ini dulu. Awas aja tangan lo jelalatan,” ucap Ifi melirik pada Nisa.
Nisa mengerucutkan bibirnya dan kembali duduk di balik mesin jahitnya. Kembali berkutat dengan kain dan benang. Dua orang itu sedang mengerjakan gaun dan jas milik Nayla dan Juno.
Sementara Candra sedang menyelesaikan desain gaun untuk Vina. Memang Vina tidak memesan gaun dari dirinya. Namun Candra ingin memberi hadiah bagi sahabat seperjuangannya itu. Kini sahabatnya itu sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Fokus Candra buyar ketika ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dahi Candra mengernyit mengetahui siapa yang menelponnya.
“Halo, Nay?” sapa Candra pada Nayla di seberang sana. Dia sengaja me-loudspeaker agar tangannya juga bisa sambil bergerak menggambar.
“Nggak ganggu, kok. Ada apa?”
Tangan Candra berhenti bergerak mendengar sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Nayla. Bayangan masa lalu tanpa permisi datang menghampiri Candra.
“Sifat Juno dulu?” gumam Candra pada dirinya sendiri.
Flashback…
“Mau nggak kamu jadi pacar aku?” ucap seorang cowok berlutut di depan seorang gadis.
Semua orang di kelas gadis itu bersorak menggoda, sementara gadis itu membulatkan matanya. Tidak menyangka jika anak paling nakal di sekolah ini menyatakan perasaannya padanya. Tak ada angin tak ada hujan, tiba- tiba saja Juno datang ke kelas Candra dan menggenggam tangan gadis itu.
“Kenapa ribut- ribut? Bubar kalian!” perintah seorang guru mencoba membubarkan kerumunan.
“Apa jawaban kamu, Can?” tanya Juno tidak mempedulikan peringatan guru itu.
Candra masih bungkam, ia bingung karena terlalu tiba- tiba. Candra meringis melihat telinga Juno dijewer oleh guru tersebut.
“Pokoknya aku tunggu jawaban kamu, Can!”
“Heh! Belajar yang bener, bukannya malah pacaran. Ayo ikut bapak!” ucap guru itu masih menjewer telinga Juno. “Kamu lebih tua harusnya bisa kasih contoh ke teman- teman kamu. Mau nggak naik kelas lagi kamu?!” gerutu guru itu.
Candra masih terpaku, dirinya masih belum paham apa yang baru saja terjadi padanya. Seseorang menyeruak masuk ke kelas Candra yang masih ramai. Anak- anak ingin melihat aksi menembak Juno tadi.
“Can! Gue denger tadi lo di tembak Juno?”
__ADS_1
“Hah? Iya, Vin.”
“Lo jawab apa?”
“Huh? Belum gue jawab. Tapi gue nggak lagi mimpi, kan?”
Vina mencubit pipi Candra dan Candra langsung menggeplak tangan Vina. Ia melotot pada Vina, sementara Vina hanya memamerkan giginya.
“Iya, nggak mimpi gue. Tapi kenapa Juno tiba- tiba nembak gue?”
“Entahlah.”
“Kan ada si Niken yang cantik itu.”
“Mana gue tau Candra,” gemas Vina. “Mau lo terima?”
Candra menghembuskan nafas. “Nggak tau, gue malah takut.”
“Iya sama, lo tau Juno kayak gimana kan?”
Candra mengangguk. Siapa yang tidak mengenal Juno? Si hobi tawuran, balap liar, bolos. Si cowok muka lempeng tanpa ekspresi, tapi ganteng. Anak- anak cewek hanya berani mengagumi sosok itu dalam diam, tak terkecuali Candra. Candra tak menampik jika Juno ganteng, tapi sifatnya itu yang membuat Candra berpikir dua kali untuk mendekat.
Namun akhirnya Candra menerima pernyataan cinta Juno, membuat Vina syok. Vina sampai mengguncang bahu sahabatnya itu untuk menyadarkan Candra. Sementara Candra menenangkan Vina yang terlampau lebay. Hari ini mereka kencan di sebuah taman dekat rumah Candra. Sebenarnya bukan hanya kencan, mereka juga belajar bersama.
“Yang ini gimana cara kerjainnya?” tanya Juno.
“Hmm, ini disubstitusikan dulu terus di tambah sama yang ini,” jelas Candra menyelipkan rambut dibelakang telinga karena tertiup angin.
“Hah! Nggak paham,” ucap Juno menidurkan tubuhnya dengan kepala dipangkuan Candra.
Sementara Candra mengalihkan pandangannya kearah lain untuk mengurangi rasa gugupnya. Semenjak berpacaran dengan Juno, banyak hal tak terduga yang dilakukan cowok itu padanya.
“Jangan gitu! Sebentar lagi kan kenaikan kelas. Aku nggak mau punya pacar yang tinggal kelas ya?!” kata Candra galak untuk menutupi kegugupannya.
“Aku kan emang tinggal kelas,” jawab Juno datar bangun dari tidurnya.
“Eh?”
“Huh, udahlah. Ayo ke tempat lain!”
“Kemana?”
“Udah ayo ikut aja.”
...🥊🥊🥊...
__ADS_1
Tertanda: Otornya baru bangun 😗😗😗
Semoga ada yang rindu cerita ini ☺☺☺