
Seharian ini Candra akan menghabiskan waktunya bersama dengan Vina sebelum sahabatnya itu pergi. Setelah mengantar Candra ke rumah Vina tadi, Juno langsung pulang atas permintaan Candra.
“Ayo, jalan- jalan ke Mall. Hari ini pokoknya bakal gue manjain,” ucap Candra.
“Kenapa lo yang manjain gue? Laki gue juga bisa manjain gue,” balas Vina terkekeh.
“Asyem lo, Vin.”
Vina hanya tertawa, sebenarnya dia juga sangat sedih hendak meninggalkan sahabat juga teman- temannya. Namun mau bagaimana lagi? Dafa dipindahtugaskan ke Surabaya dan Vina tidak mungkin LDR dengan sang suami.
“Tunggu, gue siap- siap dulu,” ucap Vina dan berjalan masuk untuk berganti baju.
Sementara Candra menunggu Vina di ruang keluarga dengan beberapa toples cemilan di meja. Mulut Candra asik mengunyah cemilan itu.
“Anggep rumah sendiri, Can.” Begitu kata Vina beberapa saat yang lalu.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Vina kembali dengan baju yang lebih cocok untuk jalan- jalan. Dua wanita itu pun berangkat menuju sebuah Mall dengan Candra yang menyetir mobil Vina.
“Anak lo cewek apa cowok?” tanya Candra melirik pada perut Vina yang mulai sedikit membuncit.
“Kemarin gue periksa, kembar kata dokter. Cowok,” jawab Vina tersenyum mengelus perutnya.
“Eh? Beneran? Pasti lucu banget nanti, ganteng mirip si Faris.”
Vina menatap Candra datar. “Bapaknya Dafa, bukan Faris. Lagian bagian mananya yang menunjukkan Faris itu ganteng?”
“Lubang idung si Faris yang ganteng,” jawab Candra sekenanya. Sementara di lain tempat orang sedang mereka ghibahi bersin seketika.
“Lo sakit, Ris?” tanya teman Faris.
“Nggak, tapi gue ngerasa ada yang lagi ngomongin gue,” jawab Faris menggosok hidungnya yang terasa gatal.
Candra dan Vina sampai di Mall, lalu keduanya segera masuk melihat- lihat toko- toko di sana. Keduanya kembali nostalgia, menikmati kebersamaan seperti ketika masih sekolah dulu. Mereka berhenti di depan sebuah café.
“Sayang banget café Kak Galang udah tutup,” ucap Vina menatap café baru didepannya.
“Iya, padahal tempatnya nyaman. Mana gue sering dapet gratisan,” timpal Candra.
“Yee, lo minta gratisan tapi maksa dulu.”
__ADS_1
Candra tertawa membenarkan ucapan Vina. “Ayo jalan lagi.”
Dari café itu mereka berpindah ke sebuah toko baju. Seperti wanita kebanyakan, Candra dan Vina langsung semangat melihat- lihat koleksi berbagai model pakaian di toko ini.
“Bagus, nggak?” tanya Candra memperlihatkan sebuah baju yang ditemukannya.
“Bagus, lo cobain gih.”
Candra dengan semangat masuk ke dalam kamar pas untuk mencoba pakaian itu, sementara Vina menunggu di depan. Beberapa saat kemudian Candra keluar dengan berlenggak- lenggok.
“Bagus, kan? Bagus, kan?” tanya Candra.
“Cocok di badan lo.”
“Oke, sip. Gue beli ini.”
Setelah berbelanja, Vina mengajak Candra untuk makan terlebih dulu. Kebetulan juga sudah jam makan siang. Tangan dua wanita itu sudah penuh dengan berbagai kantong belanja. Candra memilih tempat duduk yang ada di belakang dan memesan makanan.
“Besok lo nggak mau ke rumah gue dulu? Lihat rumah baru gue?” tanya Candra sembari menunggu pesanan mereka.
“Sorry, Can. Besok penerbangan gue pagi.”
“Iya, pasti gue main ke rumah lo.”
“Ayo, foto yang banyak dulu.”
“Heh, berasa gue nggak bakal balik lagi,” ucap Vina dengan wajah datar.
“Ya nggak gitu. Cuma lo, kan, sekarang lagi tampil cantik. Kalo gue screenshoot pas kita video call, pasti muka lo jadi jelek.”
“Minta ditimpuk, ya?” tanya Vina melotot pada Candra.
“Ehehehe, canda.”
Vina mendengus pada Candra, tapi sebuah senyuman terbit di bibir wanita itu. Obrolan mereka teralihkan setelah pesanan datang.
Hari sudah beranjak sore. Candra sangat puas bisa bersama dengan Vina seharian ini. Dia pun menunggu Juno yang akan menjemputnya. Candra berada di ruang keluarga bersama dengan Vina. Entah mengapa suasana menjadi hening. Candra tidak bisa menyembunyikan kesedihannya akan berpisah dengan sahabat sehidup sematinya.
“Kenapa wajah lo kusem gitu?” tanya Vina terkekeh melihat wajah sedih sahabatnya.
__ADS_1
“Hish, udah sore jadi wajar wajah gue kusem,” jawab Candra.
“Gue seneng sekarang lo udah bahagia, Can. Lo udah berhasil temuin kebahagiaan lo, gue seneng lihatnya dan bisa tenang sekarang. Gue cuma mau denger kabar bahagia dari lo, tapi lo harus ngomong kalo Juno nyakitin lo lagi. Gue bakal jadi yang pertama nampol dia,” ucap Vina terkekeh. “Oh ya. Jangan lupa kasih kabar gue kalo lo udah isi, ya?” pinta Vina tersenyum.
Mata Candra berkaca- kaca mendengar penuturan Vina. “Kenapa lo ngomong gitu sih?”
“Lah? Lo nangis? Astaga kita masih sama- sama di Indonesia. Gimana gue yang waktu itu lo tinggal ke Paris?” tanya Vina mentertawakan ekspresi Candra.
“Asyem lo, Vin. Beda dong. Hish, nggak tau kenapa gue sedih aja.”
“Masih bisa video call, telepon, chat juga bisa. Gue juga pasti masih sering balik ke Jakarta, karena orang tua kita di sini,” ucap Vina menepuk- nepuk punggung Candra.
“Yaahhh, keluar air mata gue,” kata Candra mendongakkan kepala, berusaha agar air matanya tidak keluar.
“Astaga.” Vina menggelengkan kepalanya dan memeluk Candra.
Kedua wanita itu sama- sama menangis akhirnya. Beberapa tahun lamanya Candra dan Vina selalu bersama dan kini harus kembali berpisah dengan jarak. Setelah kurang lebih lima tahun dipisahkan dan bertemu selama beberapa bulan, kini keduanya kembali harus berpisah. Vina melepas pelukan Candra, dia menyeka air mata di pipinya begitu juga dengan Candra.
“Astaga kita ini kenapa sih? Lebay banget,” kata Candra mentertawakan diri sendiri.
“Lo sih yang buat suasana jadi sedih begini.”
“Gue benci kayak gini. Njier, lemah banget gue,” ucap Candra kesal.
Vina hanya menggelengkan kepalanya melihat Candra masih berusaha menghentikan tangisannya.
“Udah berhenti nangis lo. Nggak malu kalo ke gap laki gue? Bentar lagi pulang orangnya.”
Mendengar ucapan Vina, Candra buru- buru mengelap pipinya yang masih ada sisa- sisa air mata. Sementara Vina hanya ngakak melihat tingkah sahabatnya itu. Candra memang selalu bisa menghiburnya, entah nanti siapa yang akan menghibur jika dia merasa sedih. Kesedihan yang kadang- kadang tidak bisa Vina bagi pada sang suami.
Suara bel mengalihkan fokus dua wanita itu. Vina pun segera melihat siapa yang datang diikuti Candra yang mengekori. Ternyata Juno sudah tiba, pria itu menunggu di depan pintu rumah Vina. Lagi- lagi ekspresi sedih yang Candra tunjukkan sebelum berpamitan. Namun kali ini Vina malah ingin ngakak melihat wajah Candra.
“Udah, Can. Lo masih bisa hubungi gue. Gue masih idup, apa sih yang lo khawatirin?”
“Jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Jagain keponakan gue, ya?” ucap Candra kembali memeluk Vina untuk yang terakhir kalinya.
...👠👠👠...
Tertanda: Otor Mengsedih 🥺🥺🥺
__ADS_1