Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Melepas Kepergian Juno


__ADS_3

Hari ini merupakan hari keberangkatan Juno ke Bandung untuk perjalanan bisnis. Sesuai dengan rencana beberapa hari yang lalu, sementara Candra akan tinggal di rumah orang tuanya. Kurang lebih selama satu Minggu Juno akan berada di Bandung. Setelah selesai packing, Juno segera mengantar Candra ke rumah orang tuanya.


“Berarti Sari nggak jadi ikut?” tanya Candra.


“Nggak jadi, dia harus stay di kantor. Aku belum nemu pengganti Bella,” jawab Juno yang masih fokus dengan jalanan.


Mendengar jawaban dari Juno, Candra hanya mengangguk- angguk saja. Kemarin Candra sudah memberi idenya agar kali ini Juno mencari sekretaris berjenis kelamin laki- laki, wanita itu memberi solusi seperti itu karena trauma dengan kejadian Bella tempo hari.


“Sekalian nanti jodohin sama Sari,” ucap Candra usil kala itu.


Beberapa menit kemudian, Candra sudah sampai di rumah Bu Maya. Begitu sampai rumah mereka disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Candra masuk bersama dengan Bu Maya terlebih dulu, sementara Juno sedang sibuk menurunkan koper milik sang istri. Sedangkan Pak Haris sibuk dengan burung yang ada di sangkar. Ternyata koleksi burung milik Papa mertuanya itu makin bertambah.


“Kamu berapa hari di sini?” tanya Bu Maya.


“Seminggu, Ma,” jawab Candra mencicipi kue kering buatan Mamanya.


“Kok lama banget?”


“Ya udah nanti Candra nginep di sini tiga hari, sisanya nginep di rumah Mama Felin.”


Bu Maya menabok paha Candra, membuat wanita itu memekik. “Nggak gitu maksud Mama. Juno kok lama banget ke Bandungnya?”


“Ya nggak tau. Mas Juno memang mau perjalanan bisnis di sana,” jawab Candra mengelus pahanya yang terasa panas.


“Jun, nanti kalo pulang Mama nitip beli daster yang di butik B itu, ya? Itu butiknya baru buka, tapi Mama belum sempet ke sana,” ucap Bu Maya menghentikan langkah Juno yang hendak memasukkan koper Candra ke dalam kamar.


Juno mengernyitkan dahinya, tapi dia hanya mengangguk menyetujui. Sedangkan Candra mencibir Bu Maya.


“Ternyata ada maunya,” gumam Candra lirih dan kembali memasukkan kue kering itu ke dalam mulutnya.


Candra mengantar Juno sampai depan mobil pria itu. Sekarang sudah waktunya Juno berangkat menuju Bandung. Rasa sedih tiba- tiba menghinggapi Candra yang hendak ditinggal sang suami selama satu Minggu. Candra masih belum melepaskan genggaman tangannya di tangan kanan Juno.

__ADS_1


“Kalo kamu gini aku nggak jadi ke Bandung,” ucap Juno tersenyum.


“Sebentar, aku mau rasain genggaman tangan kamu dulu. Nanti selama seminggu aku nggak bisa genggam tangan kamu,” jelas Candra dengan nada merajuk.


“Kenapa cuma genggam tangan aku? Sini peluk juga.”


Juno membawa Candra ke dalam pelukan hangatnya. Candra pun mengeratkan pelukannya pada Juno, wajahnya dia tenggelamkan pada dada bidang pria itu. Lalu Juno memberikan sebuah kecupan di pucuk kepala Candra.


“Jaga Bunda, ya?” ucap Juno setelah melepas pelukan mereka, tangannya mengelus perut Candra. “Jangan nakal sama Bunda. Jagoan Ayah nggak boleh nakal,” lanjutnya.


“Kok jagoan?” tanya Candra protes.


“Walaupun nanti anak kita cewek, dia tetap akan jadi jagoan,” jawab Juno santai.


Candra mendengus mendengar jawaban dari Juno. Namun senyumnya tidak bisa ditahan mendengar suara lembut yang pria itu buat untuk mengobrol dengan calon anaknya. Tangan Candra mengelus kepala Juno yang sedang mencium perut wanita itu. Candra memainkan rambut Juno yang lebat itu.


“Kamu juga jaga diri, jangan sampai sakit. Kalau ada apa- apa kamu bisa telpon aku atau Damian.”


Juno terkekeh mendengar ucapan Candra, begitu juga Candra juga tertawa setelah mengucapkan hal itu. Sebenarnya Candra berusaha untuk tidak menangis saat ini. Entah kenapa hari ini tidak seperti biasanya, Candra sangat cengeng.


CUP!


Seperti biasa, tanpa aba- aba Juno menciumnnya membuat Candra yang belum siap gelagapan. Namun Candra segera menguasai keadaan, dengan mengalungkan tangannya pada leher Juno dan memejamkan matanya. Cukup lama Juno bermain- main di sana, mengabsen deretan gigi Candra. Ciuman yang cukup lama sebelum keberangkatannya. Namun belum puas, Candra sudah mendorongnya. Napas Candra terlihat sangat ngos- ngosan. Juno tersenyum dan mengelap bibir Candra yang basah oleh salivanya.


“Udah sana berangkat, mereka pada nungguin,” ucap Candra setelah berhasil mengontrol napasnya.


“Padahal masih kurang,” kata Juno cemberut.


Candra hanya memutar bola matanya malas. Namun Juno menurut, karena memang dirinya sudah sangat terlambat. Dia sangat yakin jika semua orang akan mengomel, terutama Yayan. Candra melambaikan tangannya pada mobil Juno yang mulai menjauh dari rumah orang tuanya. Candra baru masuk setelah mobil Juno benar- benar hilang dari penglihatannya. Lalu dia pun masuk ke dalam rumah.


“Astaga!” kaget Candra membulatkan matanya.

__ADS_1


Pak Haris dan Bu Maya sedang berdiri di dekat jendela ruang tamu. Candra yakin jika daitadi kedua orang tuanya itu mengintip dirinya dan Juno. Candra mendengus malas melihat ekspresi menggoda kedua orang tuanya.


“Dasar anak muda, cuma ditinggal satu Minggu aja salam perpisahannya lama banget kayak mau ditinggal satu tahun,” sindir Bu Maya.


“Iya, padahal dulu pas Papa mau pergi dinas Mama nggak kayak gitu,” tambah Pak Haris.


Candra yang merasa terpojok pun tidak menghiraukan kedua orang tuanya, dia berjalan masuk menuju ruang keluarga untuk menonton televisi. Sementara Pak Haris dan Bu Maya bertos ria berhasil mengerjai anaknya.


Baru saja Candra meletakkan bokongnya di sofa ruang keluarga. Bu Maya memintanya untuk membantu memasak makan siang. Dengan wajah kesal Candra pun terpaksa bangkit dari duduknya dan melangkah menuju dapur.


“Mau masak apa sih?” tanya Candra.


“Mama mau masak makanan spesial, mumpung kamu di sini,” jawab Bu Maya tersenyum.


“Jangan masak yang ribet- ribet, Ma.”


“Nggak ribet. Cuma masak kayak gini masa’ ribet? Jangan- jangan kamu nggak pernah masakin suami kamu kayak gini, ya?” tanya Bu Maya setengah mengomel. “Terus kamu tiap hari masaknya apa? Kasihan banget suami kamu,” tambah Bu Maya menggelengkan kepalanya dramatis.


“Bukannya nggak mau masak kayak gini, tapi memang Mas Juno nggak terlalu suka masakan yang bersantan,” kata Candra berusaha membela diri.


“Halah alesan kamu. Nyatanya waktu kalian ke sini terus kebetulan Mama masak ini juga Juno mau tuh.”


‘Karena terpaksa dia,’ batin Candra yang tidak berani menyuarakan isi hatinya itu, dia tidak mau omelan Bu Maya akan semakin panjang.


“Oke, nanti Candra bakal masakin Mas Juno kayak gini juga,” kata Candra akhirnya.


“Nah, gitu dong. Sekarang kamu bantuin Mama kupas kentangnya,” pinta Bu Maya.


Candra menampilkan senyum memaksanya dan segera mengambil pisau serta kentang, dia melaksanakan perintah sang Mama segera.


...👠👠👠...

__ADS_1



__ADS_2