
Candra meniup poninya, amarah masih menguasainya. Sementara Juno berusaha menenangkan wanita itu, tadi dia sudah menyuruh Damian untuk pergi dari tempat ini. Juno duduk di sebelah Candra yang napasnya masih terdengar ngos- ngosan.
“Mau apa sih lo bawa gue ke sini?” tanya Candra pada Juno.
“Buat latihan.”
“Ckck, latihan apa?”
“Bela diri.”
Candra spontan mendongak menatap Juno dengan pandangan terkejut. Lalu ekspresi selanjutnya, Candra menunjukkan kernyitan didahinya.
“Gue nggak pernah ngomong mau latihan bela diri.”
“Biar kamu bisa jaga diri kalau ada kejadian kayak kemarin,” jelas Juno.
Candra berdiri. “Nggak perlu. Udah gue mau balik.”
Juno menahan lengan Candra. Mencengkeramnya sedikit kuat membuat wanita itu meringis kesakitan. Senyum miring tercetak di bibir Juno.
“Kalo kamu dalam keadaan kayak gini, gimana?” tanya Juno menampilkan smirk-nya.
Candra melirik Juno. Tangannya hendak meraih rambut Juno untuk menjambaknya. Namun pria itu berhasil menghindar dan mengunci tangan Candra.
“Ahhh, aduh,” pekik Candra berusaha melepaskan diri dari kuncian Juno.
Namun Candra tidak putus asa, kakinya masih bebas. Kakinya yang bebas bermaksud menendang tulang kering Juno, tapi lagi- lagi dia kalah cepat dengan pria itu. Juno dengan gerakan cepat menjegal kaki Candra, hingga wanita itu hilang keseimbangan.
“Aaaa…” Candra memejamkan matanya, karena tubuhnya hilang keseimbangan dan sebentar lagi pasti jatuh. Namun dia tidak merasakan sakit, malah tubuhnya seperti ditahan oleh seseorang.
Candra pun membuka matanya. Juno yang menahan tubuh Candra agar dia tidak terjatuh di lantai. Candra terdiam, netranya menatap netra jernih milik Juno. Sama halnya dengan Candra, pandangan Juno juga terkunci oleh wanita di depannya yang berjarak beberapa senti dari wajahnya. Tanpa sadar wajah Juno mendekat, matanya beralih pada bibir merah muda milik Candra.
“Jun! Lo di sini?” tanya seseorang.
Candra segera tersadar, dia membulatkan matanya dan segera mendorong tubuh Juno sekuat tenaga. Juno berhasil menyingkir, dia mundur beberapa langkah. Menatap pada seseorang yang baru saja mengganggu aktivitasnya. Mata Juno menatap tajam pada Yayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Eh? Gue ganggu, ya?” tanya Yayan dengan tampang tak berdosa.
Akhirnya Candra batal untuk latihan bersama Juno. Tadi wanita itu bersikeras ingin kembali ke studionya. Dalam hati Juno menggerutu, menyalahkan Yayan karena telah menggagalkan niat modusnya pada Candra. Sementara Candra tadi langsung turun dari mobil Juno tanpa mengatakan sepatah kata pun dan berjalan cepat memasuki studionya.
“Darimana aja lo, Can?” tanya Ifi yang melihat kedatangan Candra.
“Makan siang sama Pak Dokter lama amat,” tambah Nisa.
Mendengar ucapan Nisa, membuat langkah Candra spontan terhenti. Wanita itu membalikkan tubuhnya menatap dua temannya.
“Kenapa?” tanya Ifi.
__ADS_1
“Gue lupa. Tayo tadi pingsan di depan resto tempat kita makan siang.”
“Hah? Pak Dokter sakit?” tanya Nisa.
Candra menggelengkan kepalanya. “Dia digebukin Juno tadi.”
Kompak mata Ifi dan Nisa melotot. Sedangkan Candra mencoba untuk menghubungi Teo, ingin menanyakan bagaimana keadaan pria itu.
“Halo?” sapa Candra begitu sambungan telponnya terjawab. “Lo dimana? Di rumah sakit? Parah nggak?”
“Sampai pingsan pasti parahlah,” gumam Nisa melirik pada Candra.
“Lo ke sini aja kalo mau jenguk,” jawab Teo dari seberang sana.
Candra mengakhiri sambungan teleponnya dan tidak lama menerima sebuah chat dari Teo yang berisi nama sebuah rumah sakit.
“Gue mau jenguk Tayo dulu,” ucap Candra berjalan keluar dari studionya.
“Gue mau ik…”
“Diem di sini! Selesaiin kerjaan lo,” ucap Ifi menahan lengan Nisa yang tadi sangat semangat hendak mengikuti langkah Candra.
...👠👠👠...
Candra meringis melihat keadaan Teo. Hidung setengah mancung pria itu ditutup oleh perban. Sudut bibirnya juga terlihat ada luka robek. Pantas saja Teo langsung KO di tempat kejadian perkara.
“Lo nggak apa- apa, Can?” tanya Teo.
“Gue nggak apa- apa. Tapi, tadi itu siapa? Gue ada salah apa sama dia? Kenal juga nggak.”
“Mantan gue,” jawab Candra merasa tidak enak.
Sementara mata Teo langsung membulat. “Mantan?”
“Iya.”
“Lo nggak lapor polisi?” tanya Teo.
“Nggak mempan lapor polisi,” jawab Candra. “Lo di rawat sampai kapan?” tanya Candra mengalihkan topik pembicaraan.
“Besok gue balik. Lukanya bisa di rawat sendiri.”
“Setelah ini, lo jangan terlalu sering temuin gue, Yo.”
“Kenapa? Gara- gara mantan lo?”
“Jangan sampai kejadian kayak gini ke ulang dan jangan sampai lo berurusan sama dia.”
__ADS_1
“Gue udah nggak apa- apa, Can. Lihat, gue masih idup.”
Candra mendengus mendengar penuturan Teo yang terlampau percaya diri. “Terserah lo. Tapi kalo lo kenapa- kenapa bukan tanggung jawab gue.”
Setelah menjenguk Teo tadi, Candra memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Tadi dia sudah mengirim chat pada Ifi, memberitahunya jika Candra tidak ke studio lagi. Candra menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Dua hari lagi acara pertunangan Juno dan Nayla. Dan Candra diundang di acara itu oleh Nayla. Gadis itu masih sering mengirimi chat, menanyakan semua hal tentang Juno.
Candra menghembuskan napasnya, matanya menatap langit- langit kamarnya. Tiba- tiba sekelebat kejadian tadi siang kembali terlintas dalam benak Candra. Kejadian dimana matanya dan mata Juno saling terkunci. Candra memegang dadanya, merasakan jantungnya berdegub kencang. Namun tidak lama wanita itu menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan diri.
“Sadar, Can!” ucap Candra.
“Kenapa pikiran lo jadi kotor gini? Jantung juga nih, apa gue sakit, ya?”
Candra kembali menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang masih berdetak dengan cepat. Dia menepuk- nepuk dadanya.
“Oke, besok gue coba periksa ke dokter jantung.”
Bu Maya meminta Candra untuk turun. Meminta wanita itu untuk makan malam bersama. Setelah membersihkan diri, Candra pun turun ke bawah menuju meja makan. Pandangan Candra jatuh pada seseorang yang sudah duduk manis di sana, sedang mengobrol dengan Pak Haris. Candra mendengus dan duduk di salah satu kursi, bergabung dengan mereka.
“Can, kamu kemarin dibegal?” tanya Pak Haris pada putri semata wayangnya.
“Iya, Pa,” jawab Candra melirik pada sosok yang duduk di hadapannya.
“Tapi kamu nggak apa- apa, kan?” tanya Pak Haris.
“Nggak apa- apa, Pa.”
“Kamu telpon polisi kemarin?”
Candra menggelengkan kepalanya. “Kebetulan ada temen yang lewat, dia tolongin Candra.”
“Siapa?” tanya Bu Maya.
“Ada lah, Papa sama Mama nggak kenal,” jawab Candra. Membuat sosok itu tersenyum samar, puas dengan jawaban Candra.
“Orangnya yang kemarin malam antarin kamu pulang itu?” tanya Bu Maya.
“Iya,” jawab Candra menganggukkan kepalanya.
Setelah makan malam, Candra duduk di gazebo halaman belakang. Menikmati angin malam yang berhembus di wajahnya. Matanya terpejam, tapi seketika Candra segera membuka matanya saat bayangan siang tadi kembali mampir. Lagi- lagi Candra menampar pipinya.
“Aduh.” Candra meringis merasakan pipinya yang berdenyut.
“Lo kenapa, Dek?” tanya sebuah suara.
Candra mendengus melihat Nata berdiri tidak jauh dari sana. “Gue bukan adek lo. Gue adeknya Bang Tian.”
...🥊🥊🥊...
__ADS_1
Tertanda: Otornya Kesiangan 🦥🦥🦥