Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Makan Malam


__ADS_3

Akhir pekan sudah tiba dan Juno sedang bersiap untuk menghadiri undangan makan malam Pak Firman. Sebenarnya pria itu benar- benar malas datang ke rumah Pak Firman jika tidak ada hubungannya dengan bisnis. Namun mau bagaimana lagi, pria paruh baya itu memaksanya dan akan mengancan memutus kerjasama mereka. Alhasil malam ini Juno akan datang dan menjelaskan semua. Dia memaksa Candra untuk ikut serta, walau wanita itu sudah menolak.


“Masih lama, Yang?” tanya Juno melihat Candra masih duduk di depan meja rias.


“Sebentar lagi,” jawab Candra tanpa menoleh.


‘Gue harus tampil cantik. Jangan sampai Juno kepincut sama pelakor itu,’ batin Candra menata rambutnya.


Candra berdiri dan mematut dirinya di depan kaca. Mulut wanita itu mengerucut melihat tubuhnya yang terlihat gemuk.


“Udah selesai? Nanti kita telat lho,” ucap Juno berdiri di belakang Candra yang wajahnya masih ditekuk.


“Aku gendut banget, ya?” tanya Candra berbalik menatap suaminya.


Juno menangkup wajah Candra, lalu dia memperhatikan dengan seksama wajah istrinya itu. Juno tersenyum, tapi wajah Candra masih terlihat kesal.


“Kamu cantik, manis, emm apalagi, ya? Oh ya, seksi juga,” ujar Juno mencium pucuk hidung Candra.


Candra mendengus mendengar perkataan Juno. “Ckck, jangan bohong!”


Mendadak senyuman di wajah Juno memudar. Hal itu membuat Candra mengernyit, kenapa tiba- tiba ekspresi Juno terlihat sangat serius?


CUP!


Juno mencium bibir Candra, cukup lama. Namun hanya sebuah kecupan, tidak ada gerakan di sana. Candra membulatkan matanya mendapat serangan mendadak dari Juno. Wanita itu mendorong sang suami ketika napasnya sudah hampir habis. Menatap datar pada Juno yang sedang cengengesan.


“Lipstik aku berantakan,” geram Candra berbalik melihat cermin.


“Aku jujur, Yang. Kamu cantik, manis, dan seksi. Jadi jangan pernah merasa insecure sama penampilan kamu sekarang. Oke?”


Candra berbalik menatap manik mata hitam Juno. “Oke,” jawab Candra tersenyum.


“Tenang aja, nanti kamu bakal langsing lagi. Setelah anak kita lahir. Eh? Tapi, habis itu aku mau buat kamu gendut lagi.”


Candra mencubit perut Juno, membuat pria itu memekik kesakitan. Dia benar- benar ingin menampol mulut Juno saat ini juga.


“Ayo berangkat sekarang!” ajak Juno merangkul pinggang Candra.


Candra hanya mengangguk dan berjalan di sebelah Juno. Diam- diam Candra merasa gugup, entah mengapa hendak bertemu dengan keluarga Bella membuatnya gugup.

__ADS_1


‘Jangan gugup, Can! Lo harus percaya diri! Tunjukin pada mereka siapa yang berkuasa,’ batin Candra mencoba menyemangati dirinya sendiri.


...👠👠👠...


Jarak rumah mereka dengan rumah Pak Firman cukup jauh. Kurang lebih membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Beruntung jalanan pada malam ini sedikir lengang, mereka dapat tiba tepat waktu. Candra menelan ludahnya melihat rumah megah di depannya. Rumah Pak Firman benar- benar besar dengan berbagai jenis tanaman di depan rumah. Bahkan pintu gerbangnya berdiri kokoh. Candra kembali menciut, rasanya dia akan berkunjung ke rumah mertuanya yang galak.


“Ayo turun!” ajak Juno yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Candra dengan pintu mobil terbuka.


Juno mengulurkan tangannya membantu ibu hamil itu turun dari mobil. Di depan pintu sana terlihat Bella berdiri menyambut kedatangan Juno dengan senyum sumringahnya. Namun senyuman itu hilang ketika melihat ternyata Juno tidak datang sendiri.


‘Untung hari ini gue dandan cantik,’ batin Candra memperhatikan penampilan Bella.


Bella memakai dress tanpa lengan dengan panjang di atas lutut, rambut panjang wanita itu tergerai. Tidak hanya memakai dress kurang bahan, Bella juga memoles wajahnya dengan riasan yang menurut Candra terlihat berlebihan.


“Selamat datang. Ah, ternyata Bu Candra ikut,” kata Bella menyambut keduanya dengan memasang senyum terpaksa.


“Memangnya istri gue nggak boleh ikut?” tanya Juno menaikkan alisnya.


“Ya? Maaf bukan itu maksud saya, Pak. Malah bagus jika Bu Candra juga ikut. Kalau begitu ayo kita masuk, Papi dan Mami sudah menunggu.”


Candra dan Juno berjalan di belakang Bella. Sementara Bella mendengus kesal, wajahnya ditekuk dengan bibir manyun. Pak Firman dan istrinya ternyata sudah berada di ruang makan. Lagi- lagi Candra dibuat terpana oleh rumah ini, tidak, lebih tepatnya berbagai makanan yang terhidang di meja makan.


“Ngawur,” jawab Juno membulatkan matanya.


“Pi, Mi, Pak Juno sudah datang,” ucap Bella.


‘Cih, gue transparan kali, ya?’ batin Candra melirik tajam pada Bella.


Pak Firman berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Juno, begitu juga istrinya. Pak Firman bersalaman hangat dengan Juno, lalu istri Pak Firman menatap Candra.


‘Duh, berasa diliatin mertua galak.’


Kecemasan Candra hilang entah kemana. Prasangka yang terus menghantui Candra sejak tadi sirna. Istri Pak Firman menyambutnya dengan hangat, bahkan wanita cantik itu memuji Candra.


“Ayo- ayo, kita mulai makan malamnya. Sambil ngobrol- ngobrol,” ajak Pak Firman.


Juno dan Candra saling lirik, mereka pun duduk di kursi. Bella duduk di depan Juno, sedaritadi mata perempuan itu tidak pernah lepas dari sosok Juno. Jantungnya berdegub kencang melihat penampilan Juno malam hari ini.


“Ah, Pak. Coba ini, saya sendiri yang masak,” ucap Bella sangat antusias mengambil sepotong daging dan meletakkannya di piring Juno.

__ADS_1


Candra yang melihat hal itu ingin rasanya melempar Bella dengan pisau yang berada di dekat piringnya. Sementara Juno tersenyum kikuk, merasa tidak nyaman.


‘Dagingnya keras. Ini daging apa batu?’ batin Juno yang berusaha memotong daging itu.


Acara makan malam ini terasa menyenangkan. Namun hanya berlaku untuk Pak Firman, sang istri, dan Bella tentunya. Sementara Candra dan Juno merasa benar- benar tidak nyaman. Apalagi tadi Juno berusaha menghabiskan daging yang diberi oleh Bella. Candra mencubit paha Juno ketika pria itu mengoper daging itu ke piringnya.


“Jadi kalian ini sudah berhubungan sejak SMP, ya?” tanya istri Pak Firman.


Tadi memang istri Pak Firman itu bertanya bagaimana Juno dan Candra bertemu dulunya. Akhirnya Juno menceritakan bagaimana awal mula mereka bertemu. Istri Pak Firman terlihat sangat antusias mendengarkan cerita Juno. Sedangkan Bella terlihat sangat malas mendengar kisah itu.


“Wah, ternyata Pak Juno pria yang romantis, ya?” puji istri Pak Firman.


Candra hanya tersenyum, matanya tidak sengaja melirik pada Bella yang sedang menggenggam sendoknya dengan erat. Candra tersenyum miring pada perempuan itu.


“Maaf, boleh saya meminjam toilet?” tanya Candra.


“Ah iya, Tante antar kamu,” jawab istri Pak Firman.


Setelah kepergian Candra, Bella pindah duduk di sebelah Juno. Kursi yang tadi diduduki oleh Candra. Juno melirik pada Bella, sementara perempuan itu menampilkan senyum manisnya.


“Bella, jaga sikap!” peringat Pak Firman.


Bella menoleh pada Pak Firman. “Papi kok gitu? Papi udah janji kemarin.”


Juno yang mendengar hal itu pun mengernyitkan dahinya, tidak paham dengan pembicaraan dua orang itu.


“Sadar Bella. Kamu harus sadar dengan posisi kamu!”


“Nggak! Pokoknya Pak Juno harus menikah dengan Bella!” pekik Bella.


“Bella!” bentak istri Pak Firman.


PLAKK!


...🥊🥊🥊...


Tertanda: Otor Mengcape 🤧🤧🤧


__ADS_1


__ADS_2