Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Bibit Pelakor


__ADS_3

Candra benar- benar marah pada Juno. Setelah melihat pemandangan yang membuat mata sakit itu, Candra melempar salad yang tadi dibelinya pada Juno dan tepat mengenai wajah pria itu. Lalu setelahnya Candra segera pergi dari sana. Sekretaris Juno dan wanita yang tadi ada di ruang pria itu mendadak terdiam melihat sang atasan diperlakukan seperti itu.


“Lo jelasin ke istri gue sekarang juga!” perintah Juno pada wanita yang hanya berdiri kaku.


Tidak ada pergerakan dari wanita itu, membuat Juno melirik tajam pada wanita itu. Sementara sekretaris Juno langsung menyenggol lengan wanita itu agar segera mengejar Candra yang sudah pergi darisana untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi.


“Lo mau gue pecat, hah?” bentak Juno naik pitam.


“Nggak, Pak. Jangan!” ucap wanita itu spontan dan segera keluar dari ruangan milik Juno.


“Lo beresin ini!” perintah Juno pada sekretarisnya dan pria itu pun juga keluar darisana.


“Astaga, ada- ada aja si Bella,” gumam sekretaris Juno itu mulai membersihkan salad yang berserakan di lantai.


Sementara di lain tempat, wanita bernama Bella itu menemukan Candra yang sedang menunggu B-car. Bella mendekati Candra perlahan hingga posisinya berada di samping wanita itu. Mata Bella melirik pada perut Candra yang terlihat membesar, lalu matanya beralih pada wajah datar Candra.


“Maaf, Bu,” ucap Bella menundukkan kepalanya.


Candra melirik ke samping untuk melihat Bella, tapi wajahnya masih terlihat sangat datar. “Apa?”


“Maaf, karena kesalahpahaman tadi. Saya akan menjelaskan semuanya. Sebelumnya perkenalkan, saya Bella sekretaris baru Pak Juno.”


Candra menoleh sepenuhnya dan menatap Bella dengan dahi mengernyit. Juno memiliki sekretaris baru? Kenapa pria itu tidak bercerita padanya?


“Mas Juno punya sekretaris baru?” tanya Candra.


“Lho? Ibu belum tau?” tanya Bella terkejut.


Candra hanya menggelengkan kepalanya. Bella kembali menampilkan raut bersalahnya, kedua tangannya tiba- tiba memegang tangan Candra.


“Maaf, Bu. Saya mohon Ibu jangan salah paham. Saya sudah menolak sebelumnya, tapi Pak Juno memaksa saya. Beliau mengancam akan memecat saya jika tidak menuruti permintaannya,” jelas Bella dengan mata berkaca- kaca.


Mendengar penjelasan Bella itu, entah apa yang dirasakan Candra saat ini. Namun yang pasti dia juga ingin mendengar penjelasan dari Juno langsung.


“Kenapa kamu yang jelasin ke saya? Kenapa bukan Pak Juno langsung?” tanya Candra berusaha menekan emosinya.

__ADS_1


“Saya tidak tau, Bu. Tadi Pak Juno yang menyuruh saya untuk menjelaskan ke Ibu,” jawab Bella.


Candra merasa kecewa saat ini. Bersamaan dengan itu, B-car yang dipesan Candra sudah tiba. Tanpa sepatah kata pun Candra masuk ke dalam mobil. Namun ketika hendak menutup pintu mobil, sebuah tangan menahan pintu itu.


“Sayang, kamu udah dengar penjelasan dia, kan? Kamu hanya salah paham…”


“Aku mau pulang dulu. Capek, mau istirahat,” potong Candra dingin dan menepis tangan Juno.


Sementara Juno mengernyitkan dahinya. Merasa aneh pada istrinya yang terlihat malah makin dingin. Tatapannya beralih pada Bella yang masih berdiri di sana.


“Lo udah jelasin semuanya?” tanya Juno memastikan.


“Sudah, Pak. Sesuai permintaan Pak Juno,” jawab Bella. “Saya juga ingin meminta maaf pada Pak Juno atas kejadian tadi. Tiba- tiba kaki saya tersandung meja…”


“Terus kenapa dia masih kelihatan marah?” gumam Juno tidak mendengarkan ucapan Bella selanjutnya.


“Ah, mungkin karena kejadian di kantin tadi. Saya tidak sengaja menabrak istri Pak Juno dan menyebabkan bajunya kotor,” jelas Bella.


‘Tapi Candra bukan tipe orang yang suka memperbesar masalah,’ batin Juno.


Setelah berganti baju, Candra menidurkan tubuhnya di tempat tidur. Kejadian hari ini benar- benar membuatnya lelah dan merasa sakit. Sakit hati karena mendengar sebuah fakta menyakitkan. Air mata tanpa sadar meleleh membasahi pipinya. Candra memejamkan matanya, berusaha menghentikan tangisnya.


“Sakit, Jun,” gumam Candra. “Lagi- lagi lo nyakitin gue.”


Candra masih menangis hingga tanpa sadar dia tertidur. Dadanya terasa sesak. Entah berapa lama Candra tertidur. Wanita itu terbangun ketika seseorang menghidupkan lampu kamar. Suara langkah itu terdengar mendekat. Namun Candra masih berada di posisinya, terbaring dengan mata terpejam.


“Sayang?” panggil Juno menyentuh pipi Candra.


Air mata Candra sudah mengering, tapi masih ada sisa- sisa di pipinya. Apalagi sejak siang tadi, Candra belum membersihkan wajahnya.


“Aku mau sendiri dulu, Jun,” ucap Candra lirih, matanya masih terpejam.


“Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Juno, tangannya menyentuh dahi Candra. Namun wanita itu menepis tangan itu.


“Iya, sakit. Hati aku sakit,” jawab Candra membuka matanya. Matanya kembali berair, tapi sekuat tenaga Candra menahan air mata itu.

__ADS_1


“Aku pengen denger penjelasan dari mulut kamu sendiri. Tapi, apa? Kamu malah nyuruh sekretaris baru kamu itu buat kejar aku dan jelasin semuanya.”


Juno mengernyit mendengar ucapan sang istri. “Bukannya udah cukup penjelasan dari Bella? Lagipula itu cuma kesalahpahaman. Dia nggak sengaja, karena…”


Candra bangun dari tidurnya dan menatap Juno tajam. Sementara pria itu masih bertahan di posisinya, setengah berjongkok di depan Candra.


“Tadinya aku nggak mau percaya ucapan dia. Tapi karena kamu ngomong kayak gini, mau nggak mau aku jadi percaya. Aku kecewa sama kamu, Jun,” ujar Candra, air matanya keluar membasahi kedua pipinya. “Kamu juga nggak pernah cerita kalau ada sekretaris baru…”


Juno menggelengkan kepala mendengar penuturan Candra. “Kalau kamu permasalahin Bella yang nggak sengaja tumpahin minumannya, kamu nggak perlu semarah ini. Dia udah minta maaf tadi.”


“Aku nggak bahas itu, Jun,” kata Candra, nadanya meninggi.


“Kamu kenapa sih? Kamu nggak kayak biasanya, kenapa masalah sepele kamu besar- besarin?”


Candra mendongak menatap tidak percaya pada Juno. Masalah sepele katanya? Candra terkekeh, lalu tatapannya menjadi dingin.


“Mungkin buat kamu sepele. Tapi buat aku nggak,” tutur Candra tajam.


“Oke, aku minta maaf. Kamu cuma salah paham, kalo yang kamu bahas tentang kejadian di ruanganku tadi. Aku nyuruh Bella buat jelasin, karena dia yang buat kesalahpahaman ini,” jelas Juno. “Jadi, jangan nangis lagi, ya?” pinta Juno, tangannya hendak menyeka air mata Candra.


Namun Candra menepis tangan Juno, wanita itu kembali teringat kata- kata Bella juga pemandangan yang membuat matanya perih.


“Sayang…”


Ucapan Juno terhenti, ponsel pria itu berdering. Candra melirik ponsel yang tergeletak di meja, tertulis nama Bella di layar ponsel itu.


“Sebentar,” ucap Juno segera meraih ponsel itu dan berjalan keluar dari kamar untuk menjawab panggilannya.


Candra pun berjalan menuju pintu, membantingnya kasar dan mengunci pintu itu. Juno yang mendengar pintu dibanting dengan kasar itu terkejut dan spontan menoleh ke belakang.


“Sayang!” panggil Juno mengetuk pintu agar Candra mau membukakannya. “Buka pintunya!”


...🥊🥊🥊...


Hayo lho Mas Juno, Mbak Candranya ngamuk 🤪

__ADS_1


Tertanda: Otor Njengat 🤧🤧🤧


__ADS_2