
Juno baru saja sampai rumah. Pria itu turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Hari ini benar- benar terasa melelahkan baginya, lagi- lagi Pak Firman datang menemuinya, memintanya agar mau dekat dengan Bella.
“Sayang?” panggil Juno.
Langkahnya terhenti ketika melihat Candra duduk manis di meja makan. Wanita itu sedang asyik menikmati makanan. Juno pun duduk di depan Candra dan melihat apa yang sedang di makan istrinya itu. Namun dahi Juno mengernyit melihat makanan yang disantap sang istri.
“Kamu makan apa?” tanya Juno mengernyit.
“Lho? Kamu udah pulang?”
“Saking asyiknya jadi nggak denger aku manggil, ya?”
“Hehehe, maaf.”
“Itu apa? Bubur?” tanya Juno.
“Iya, bubur merah putih. Dikasih Bu Atun tadi,” jawab Candra melahap bubur itu.
“Kok pake kerupuk?”
Candra yang sedang menggigit kerupuk menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Juno dan bubur di piringnya secara bergantian.
“Buburnya kemanisan, jadi aku makan sama kerupuk,” jawab Candra santai dan kembali memakan buburnya.
Juno menggelengkan kepala dengan tingkah ajaib istrinya itu. Dia pun memutuskan untuk mandi terlebih dulu. Sementara Candra masih asyik dengan makanannya. Setelah menghabiskan buburnya itu, Candra pun mulai bersiap untuk memasak makan malam.
“Coba lihat ada apa di kulkas,” gumam Candra melihat isi kulkasnya. “Untung masih ada sisa sayuran.”
Candra pun mulai memasak. Akhir- akhir ini dirinya memang sangat rajin memasak di rumah. Terkadang juga Candra mencoba resep- resep baru yang didapatnya dari internet atau dari Mamanya.
“Duh,” rintih Candra merasakan perutnya.
Candra meninggalkan sayurannya di meja, sementara dia berjalan cepat menuju kamar mandi. Perutnya terasa mules saat ini. Namun beberapa menit kemudian Candra keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung.
“Kok nggak keluar, ya?” gumam Candra mengelap tangannya yang basah. Dia pun kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.
“Kamu mau masak apa?” tanya Juno.
“Tumis buncis, mau?”
Juno mengangguk dan duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Candra. Lalu istrinya itu memberi tugas pada Juno untuk mengupas bawang merah dan putih, sementara Candra memotong sayuran.
“Oh ya, weekend nanti aku di undang makan malam sama Pak Firman,” ucap Juno.
__ADS_1
Gerakan memotong Candra terhenti, dia menoleh dan menatap Juno yang juga menatapnya. Candra sudah tahu siapa Pak Firman, karena memang Juno sudah menceritakan semuanya.
“Terus kamu mau?”
“Aku mau ajak kamu,” jawab Juno kembali melanjutkan aktivitasnya. “Tapi kalo kamu nggak mau, aku nggak bakal datang.”
Candra menghembuskan napasnya, dia tidak langsung menjawab. Sebenarnya Candra tidak melarang Juno untuk datang, setidaknya pria itu sudah izin padanya. Walau dalam hati rasanya sangat berat. Namun, mulai sekarang Candra akan berusaha percaya.
“Pak Firman nggak undang aku,” ucap Candra.
Juno menggeleng. “Nggak, kamu harus ikut. Aku mau jelasin ke Pak Firman, makanya kamu ikut.”
“Nggak perlu, Mas. Aku percaya sama kamu,” ujar Candra tersenyum.
“Kamu nggak takut aku digondol pelakor?” tanya Juno menatap Candra dengan pandangan menyelidik.
“Aku yakin kamu menang lawan pelakor. Kamu jago berantem,” jawab Candra santai.
Juno geleng- geleng kepala mendengar jawaban sang istri itu. Juno meletakkan talenan dan bawang yang sudah diirisnya di atas meja. Setelah mencuci tangan, Juno mengelus perut besar Candra.
“Nanti kalo anak kita lahir, mau aku latih tinju. Biar jadi jagoan dan bisa jaga Mamanya,” ucap Juno tersenyum.
“Tau darimana kalo anak kita jagoan? Orang pas di cek anak kita perempuan.”
“Nggak, aku yakin cowok. Aku nggak percaya sama hasil USG.”
“Bukan gitu. Tapi kalo cowok, kan, nanti bisa lindungin Mamanya. Lagipula aku yakin anak kita cowok, kalo nendang aja kenceng banget.”
Candra mengalah, baginya apapun jenis kelamin anaknya nanti, dia hanya berharap semoga anaknya dapat tumbuh dengan sehat. Acara memasak Candra sudah selesai, kini keduanya menikmati makan malam bersama di halaman belakang sembari menatap langit yang gelap gulita.
“Gimana? Rasanya kurang apa?” tanya Candra pada Juno.
“Enak kok. Masakan kamu yang paling enak,” jawab Juno.
“Gombal,” ucap Candra meninju lengan Juno. “Duh.”
“Kenapa, Yang?” tanya Juno panik melihat raut wajah Candra yang kesakitan.
“Dedeknya nendang- nendang,” jawab Candra mengelus perutnya.
“Dek, jangan nakal sama Mama. Mama kesakitan tuh,” kata Juno mendekatkan kepalanya pada perut Candra.
“Panggilnya jangan Mama dong.”
__ADS_1
“Hmm? Kenapa? Terus nanti anak kita panggilnya apa?”
“Ayah Bunda aja, biar kelihatan kalem,” ujar Candra tersenyum.
“Ayah Bunda?” tanya Juno memastikan, karena menurutnya dia tidak akan cocok jika dipanggil ‘Ayah’ oleh anaknya nanti.
“Aku terinspirasi Bundanya Vina. Biar kalemnya nular ke kita,” jelas Candra.
“Jadi, alasan kamu cuma biar kelihatan kalem gitu?”
Candra mengangguk semangat, lalu dia kembali melanjutkan makannya. Sementara Juno masih memikirkan perkataan Candra barusan.
Setelah makan malam, Candra dan Juno bersantai di halaman belakang. Candra memainkan jemari Juno dengan kepala dia senderkan ke bahu pria itu. Sementara Juno mengelus kepala Candra dan terkadang mencium ubun- ubun istrinya.
“Oh ya, bulan depan aku keluar kota selama seminggu. Kamu sementara ke rumah Mama aja, ya?” ucap Juno.
“Keluar kota? Kemana?”
“Ke Bandung. Rencana persalinan kamu akhir bulan, kan? Jadi aku bisa temenin kamu nanti.”
“Iya. Aku nitip peyeum,” kata Candra. “Oh ya, Vina udah lahiran beberapa minggu yang lalu. Anaknya cowok.”
“Berarti dia punya tiga anak cowok?” tanya Juno.
Candra mengangguk. “Anaknya lucu- lucu deh. Gemes aku lihatnya.”
Juno tersenyum dan mengangguk. “Kamu jaga diri selama aku nggak di sini. Pasti kangen banget nggak ketemu kamu satu minggu.”
“Ke Bandung sama siapa?” tanya Candra menatap wajah Juno.
“Sama Sari, ada Nayla juga, terus ada Pak Jamal.”
“Bella nggak ikut?”
“Kalo dia ikut, nggak ada yang stay di kantor nanti.”
Candra mengangguk- anggukkan kepala. Dia kembali menyenderkan kepalanya di bahu Juno. Candra merasa tenang jika Bella tidak ikut. Perempuan itu benar- benar gigih mengejar Juno dan sangat membanggakan jika dia seorang pelakor. Bahkan beberapa kali mengirim makanan terang- terangan pada Juno. Juga tidak ragu menampakkan batang hidungnya dihadapan Candra.
Dia ingat beberapa hari yang lalu Bella datang ke rumahnya, mencari keberadaan Juno. Hampir saja terjadi pertengkaran di depan rumahnya. Candra benar- benar dibuat emosi oleh perempuan itu. Bahkan jambakan maut Candra tidak membuat Bella kapok datang kemari. Emosi Candra akan kembali jika teringat peristiwa itu.
“Ayo, masuk. Anginnya makin kenceng,” ajak Juno. Candra pun menurut dan berjalan masuk bersama dengan Juno.
...👠👠👠...
__ADS_1
Oh ya, ini bubur merah putih. Barangkali ada yang belum tau wujudnya.