
Candra membulatkan matanya melihat istri Pak Firman menampar pipi Bella. Pak Firman dan Juno juga tampak terkejut, sementara Bella terdiam membeku. Tangannya menyentuh pipi yang baru saja ditampar sang Mami. Bella menatap Maminya tak percaya. Istri Pak Firman menatap tangannya yang bergetar, ada rasa bersalah dalam hatinya telah menampar putrinya itu. Namun amarah lebih mendominasinya, hingga beliau mengesampingkan rasa bersalahnya untuk sementara.
“Kamu sadar sama ucapan kamu tadi?” tanya istri Pak Firman, matanya menatap tajam sang putri.
“Sadar, Mi. Bella sangat sadar dengan ucapan Bella tadi. Mami nggak salah dengar kok. Bella benar- benar mencintai Pak Juno, bahkan Bella rela pindah agama. Semua akan Bella la…”
“Bella! Jangan gila kamu!” bentak Pak Firman.
“Papi udah janji mau bantu Bella. Kenapa sekarang Papi ingkar janji?” tanya Bella pada Pak Firman.
“Papi mau bantu karena kata kamu Pak Juno belum menikah. Tapi berani- beraninya kamu bohong sama Papi!”
Candra dan Juno saling pandang. Candra memberi isyarat pada suaminya itu. Tatapannya seakan bertanya ‘beneran Pak Firman nggak tau?’. Juno mengedikkan bahunya, dia juga heran dengan pria paruh baya itu. Padahal di ruangannya sudah ada figura berukuran besar berisi foto pernikahannya dengan Candra, juga di lorong menuju ruangan Juno ada foto Candra. Sepertinya setelah ini Juno akan memasang lebih banyak fotonya bersama dengan Candra.
Merasa tidak enak, Juno pun memutuskan untuk pamit. Dia merasa jika permasalahan keluarga ini harusnya tidak diketahuinya. Namun Bella masih belum juga menyerah, dia menghalangi Juno yang hendak melangkah keluar dari rumah ini.
“Nggak! Pak Juno jangan pulang! Pak Juno juga cinta sama Bella, iya, kan?” Bella menghadang langkah Juno, tatapannya menatap Juno memohon.
Sedangkan Juno mengernyitkan dahinya, darimana perempuan di depannya ini menyimpulkan jika ia juga mencintai Bella? Juno terkekeh, membuat Candra menoleh menatap pria itu.
“Maaf, tapi gue nggak pernah bilang seperti itu. Lo sendiri yang menyimpulkan dengan semua asumsi yang akhirnya membuat lo terobsesi.”
Bella menggelengkan kepalanya. “Bella nggak terobsesi, aku benar- benar cinta Pak Juno. Pak Juno mau bukti? Agar Pak Juno bisa percaya.”
Tiba- tiba saja Bella maju selangkah, wajahnya mendekat ke arah Juno. Candra yang tahu kemana arah Bella pun langsung mendorong wajah perempuan itu.
“Heh! Mau ngapain lo?” semprot Candra.
“Gue mau buktiin ke Pak Juno! Jangan halangin gue! Lo itu cuma pengganggu!”
Candra tertawa mendengar ucapan Bella. Apa tadi kata pelakor itu? Dia pengganggu? Sepertinya Bella tidak pernah bercermin.
__ADS_1
“Bella! Sudah cukup! Kamu sudah mempermalukan keluarga kita!” bentak Pak Firman.
Namun Bella sama sekali tidak menghiraukan, dia masih berusaha menghalangi Juno dan Candra. Lalu tiba- tiba saja perempuan itu mendorong Candra hingga dia terjatuh di lantai. Beruntung Candra tidak jatuh terlalu keras di lantai. Juno melotot melihat sang istri terjatuh, dia segera membantu Candra untuk berdiri.
“Kamu nggak apa- apa, Yang?” tanya Juno panik.
“Nggak apa- apa, Mas,” jawab Candra yang sudah berhasil berdiri.
“Lo! Sekali lagi gue tegasin, gue nggak pernah sama sekali suka sama lo! Bahkan tebersit dipikiran pun nggak pernah!” ucap Juno tajam menunjuk wajah Bella. “Lo gue pecat! Jangan datang lagi ke perusahaan atau pun ke rumah gue! Sampai lo berani tunjukin batang hidung lo! Gue nggak akan segan- segan kirim lo ke neraka!” lanjut Juno dengan rahang mengeras menahan emosinya.
Pak Firman maju selangkah setelah mendengar ancaman dari Juno. Walau bagaimana pun Bella merupakan putrinya, orang tua mana yang mau anaknya di ancam seperti itu.
“Dan untuk Pak Firman. Maaf, saya tidak akan pernah bekerjasama dengan perusahaan anda lagi. Terima kasih untuk undangan makan malamnya, kami permisi.”
Tanpa menunggu jawaban dari Pak Firman, Juno mengajak Candra untuk keluar dari rumah ini. Candra hanya menurut, sebenarnya tangannya sudah gatal ingin menjambak Bella yang kini terduduk di lantai. Tentu kesempatan itu tidak Candra sia- siakan, ibu hamil itu dengan sengaja menginjak tangan Bella. Membuat perempuan itu memekik kesakitan.
“Eh? Maaf… maaf, gue nggak lihat tangan lo ada di situ,” ucap Candra berusaha menyembunyikan tawanya.
Juno dan Candra berada dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Hari sudah sangat larut dan perjalanan untuk sampai rumah masih jauh. Candra menoleh ke arah Juno yang masih fokus menyetir.
“Kamu nggak apa- apa, Mas?” tanya Candra.
Juno menoleh sebentar dan kembali fokus ke jalanan. “Harusnya aku yang tanya ke kamu. tadi Bella dorong kamu kenceng, ya?”
“Nggak kok. Aku udah nggak apa- apa, cuma kaget tadi. Sekarang aku khawatirin kamu,” kata Candra menyentuh tangan kiri Juno.
“Kenapa?”
Candra mendengus, mengapa suaminya malam ini sangat lemot? Juno menatap Candra sebentar dengan dahi mengernyit, dia masih belum paham maksud Candra.
“Kamu batalin kerjasama sama Pak Firman. Kenapa nggak kamu pikirin matang- matang dulu?”
__ADS_1
“Oh itu, nggak perlu terlalu aku pikirin. Konsumen aku masih banyak, nggak cuma Pak Firman.”
“Kamu nggak menyesal?”
“Buat apa menyesal? Nggak ada yang perlu disesali. Kamu nggak usah khawatir, ya?”
Candra mengangguk, tapi wajahnya masih terlihat cemas. “Gimana kalau Pak Firman laporin kamu ke polisi?”
“Aku kebal sama polisi, kamu tau, kan?”
Candra memutar bola matanya malas, rasa percaya diri seorang Juno sudah mendarah daging rupanya. Sementara Juno terkekeh, tangannya menggenggam tangan Candra.
“Asalkan ada kamu di sisiku, nggak ada yang perlu aku khawatirkan,” ucap Juno tersenyum manis.
Melihat senyum manis Juno, detak jantung Candra spontan berpacu dengan cepat. Beruntung suasana jalanan remang- remang juga di dalam mobil ini gelap. Juno tidak akan melihat pipi Candra yang sudah semerah tomat. Namun tidak lama mata Candra melihat sebuah objek yang menarik perhatiannya.
“Mas, berhenti di depan dong,” pinta Candra.
“Hmm? Kenapa?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.
“Aku mau martabak manis di depan itu,” tunjuk Candra pada sebuah warung di pinggir jalan.
“Astaga, aku kira ada apa. Kamu belum kenyang, Yang?”
“Laper lagi gara- gara tadi berantem,” jawab Candra mengerucutkan bibirnya.
Juno menggelengkan kepalanya dan akhirnya menghentikan mobilnya di depan warung itu. Pria itu menyuruh Candra untuk menunggunya di dalam mobil. Candra hanya menurut, dia memperhatikan Juno yang sedang memesan martabak itu. Candra tertawa melihat Juno melakukan love sign padanya.
“Makin hari cinta gue ke lo bukannya berkurang malah tambah terus. Astaga, gue juga bisa bucin ternyata,” gumam Candra mentertawakan dirinya sendiri, matanya masih memperhatikan sosok Juno di depan sana.
...👠👠👠...
__ADS_1
No Caption 🙂