Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Mama dan Mama Mertua


__ADS_3

Sejak pagi tadi Candra sudah berkutat di dapur. Masih dengan wajah bantalnya, Candra sedang memasak bubur untuk Juno. Suaminya itu mendadak sakit, demam tinggi dengan flu. Setelah bubur itu matang, Candra pun segera membawanya pada Juno yang sedang membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.


“Ini buburnya, dimakan dulu,” ucap Candra meletakkan bubur itu di atas meja.


“Suapin, Yang,” pinta Juno dengan suara manja.


Tanpa protes, Candra pun mneyuapi Juno. Dengan telaten Candra menyuapi sang suami. Baru kali ini Candra benar- benar merawat orang sakit. Hampir saja mangkok di tangan Candra meluncur bebas ketika tiba- tiba saja Mbul naik ke tempat tidur.


“Mbul, jangan naik. Bapakmu lagi sakit,” ucap Candra berusaha menyuruh Mbul untuk turun.


“Nggak apa- apa, biarin aja,” jawab Juno yang malah memeluk Mbul.


“Nanti flu kamu makin parah kena bulunya Mbul.”


“Bulu dia nggak rontok kok.”


“Iya, tapi dia kotor belum mandi. Hari ini sih harusnya Mbul mandi. Tapi kamunya sakit, besok- besok aja kalo udah sembuh.”


“Nggak apa- apa pergi aja, kasihan Mbul mukanya lecek gitu.”


Sepertinya Mbul merasa tersinggung dengan ucapan Juno. Kucing itu langsung meronta minta dilepaskan dan berlari keluar dari kamar setelah berhasil terlepas dari dekapan Juno. Candra yang melihat hal itu menabok Juno pelan.


“Ngamuk tuh si Mbul.”


Setelah Juno selesai sarapan, Candra melanjutkan kembali pekerjaan rumahnya. Hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi ke studio. Juno sakit dan Mbul akan melakukan perawatan hari ini. Selesai berberes, Candra pun bersiap membawa Mbul ke klinik milik Galang.


“Beneran nggak apa- apa aku tinggal?” tanya Candra.


“Iya nggak apa- apa. Aku bukan anak kecil. Tapi kamu jangan pergi lama- lama, juga jangan kelamaan ngobrol sama dokter itu.”


Candra memutar bola matanya malas. “Ya udah aku pergi dulu. Kalau ada apa- apa telpon, ya?”


“Iya, Sayang.”


Candra pun benar- benar pergi dari sana. Dia telah memasukkan Mbul ke dalam box- nya. Sebenarya berat meninggalkan Juno sendiri di rumah, tapi Mbul juga sudah sangat kotor.


“Ayo berangkat, Mbul,” ucap Candra menarik gas motornya.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja Candra dan Mbul sampai di klinik milik Galang. Di klinik itu Candra di sambut oleh Galang yang kebetulan ada di sana.


“Hai, Mbul,” sapa Galang. “Si Mbul kenapa?” tanya Galang yang melihat Mbul cuek saja ketika di sapa.


“Ngamuk, dikatain lecek sama laki gue,” jawab Candra.


“Kalo gitu langsung grooming aja, biar cantik lagi,” ucap Galang. Lalu pria itu menyuruh salah satu karyawannya untuk membawa Mbul mandi.


Candra menyaksikan Mbul yang sedang mandi, kucing itu terlihat tenang ketika air mengguyur tubuhnya. Ketika seperti ini Candra selalu ngakak melihat penampilan Mbul. Kusing itu benar- benar jelek saat terkena air.


“Gimana makanannya?” tanya Galang.


“Mau kok. Kemarin coba gue ganti makanannya, tapi ternyata dia juga suka.”

__ADS_1


“Bagus deh kalo gitu.”


Candra kembali memperhatikan Mbul yang sedang dikeringkan bulunya. Kini Mbul terlihat lebih cantik dan wangi. Setelah diperiksa, Mbul boleh di bawa pulang.


“Makasih, Kak. Gue langsung balik, ya?”


“Tumben? Nggak nongkrong di sini dulu?”


“Nggaklah, laki gue sakit di rumah.”


Galang mengangguk paham. “Hati- hati di jalan.”


“Iya, Kak.”


Sesampainya di rumah, Candra membulatkan matanya melihat bentuk rumah yang tadi rapi kini seperti kapal pecah. Padahal sebelum berangkat tadi Candra sudah merapikan rumah. Wanita itu pun mencari keberadaan Juno.


“Jun!” panggil Candra. “Kamu ngapain?” tanya Candra yang melihat Juno berdiri di dapur.


“Mau masak, aku laper. Sarapan bubur nggak kenyang.”


“Astaga! Kamu mau bakar dapur, hah?”


“Nggak sengaja,” jawab Juno meringis.


Tadi niatnya hendak merebus air, lalu sembari air itu mendidih Juno tinggal mandi. Namun Juno memiliki ritual mandi yang lama melebihi perempuan jika mandi. Apalagi api yang digunakannya adalah api besar. Alhasil panci yang digunakan untuk merebus air bolong.


“Kamu mau makan apa? Biar aku yang masak,” ucap Candra akhirnya.


“Apa aja yang penting ngenyangin,” jawab Juno.


Juno dengan langkah gontai berjalan menuju ruang keluarga dan menidurkan tubuhnya di sofa. Sementara Candra mulai memasak untuk Juno.


Suara bel membuat Juno dengan malas berjalan menuju pintu depan. Pintu terbuka dan di depannya berdiri dua wanita paruh baya dengan senyum mengembang. Juno membulatkan matanya.


“Mama?”


“Lho? Kok kamu di rumah?” tanya Bu Felin mengernyitkan dahinya.


“Aku sakit, Ma,” jawab Juno. Pria itu segera mempersilakan Bu Felin dan Bu Maya untuk masuk ke dalam.


“Terus Candra tetep ke studio? Kamu ditinggal sendiri?” tanya Bu Maya.


“Nggak, Ma. Dia hari ini nggak ke studionya.”


“Bagus, memang harusnya gitu,” ucap Bu Maya mengangguk- angguk. “Dimana dia?”


“Di dapur, lagi masak tadi.”


“Masak apa? Jam segini?” tanya Bu Felin.


“Juno laper, Ma. Tadi cuma sarapan bubur, jadi kurang kenyang.”

__ADS_1


“Bener- bener nih anak. Terus kamu nggak bantuin?”


“Kan, Juno lagi sakit,” jawab Juno.”


“Alasan.”


“Iya, Bu. Juno sakit, jadi biarin istirahat,” bela Bu Maya. Hal itu membuat Juno mesem- mesem.


Bu Felin melotot pada Juno, spontan Juno mengkondisikan raut wajahnya lagi. Lalu dua wanita itu menuju dapur untuk mencari keberadaan Candra.


Candra yang belum menyadari ada tamu masih sibuk memotong- motong sayuran. Lalu sebuah suara mengagetkan wanita itu.


“Masak apa, Can?” tanya Bu Maya.


“Lho? Mama? Kenapa nggak kabarin kalau mau ke sini?” tanya Candra terkejut, dia pun segera mematikan kompor dan menghampiri dua wanita itu.


“Tadi nggak sengaja lewat, kita dari salon tadi. Jadi sekalian mampir aja,” jelas Bu Felin.


“Kamu mau masak apa? Sini Mama bantu,” ucap Bu Maya.


“Nggak usah, Ma. Mama duduk aja. Ini juga hampir selesai.”


“Hampir selesai gimana? Kamu baru potong- potong sayuran,” ujar Bu Felin yang mengintip. Sementara Candra hanya meringis.


“Itu kentangnya terlalu besar kamu potongnya,” komentar Bu Maya.


“Pake wortel nggak biasanya?” tanya Bu Felin melihat isi kulkas Candra untuk mencari wortel.


“Iya, Ma. Sini Candra carikan,” jawab Candra mengambil alih.


“Ini kenapa pancinya bolong?” tanya Bu Maya mengangkat panci yang bolong.


‘Astaga! Rame nih rumah,’ batin Candra.


Benar dugaan Candra. Rumahnya menjadi ramai sejak Bu Felin dan Bu Maya turun ke dapur. Memang pekerjaannya menjadi lebih ringan, tapi Candra mendadak pening. Terkadang Bu Felin dan Bu Maya berbeda pendapat, hingga hampir saja terjadi adu mulut jika Candra tidak menengahi keduanya. Masakan mereka pun matang dan Candra segera menyiapkan meja makan. Kebetulan juga sudah jam makan siang. Mereka pun berkumpul di meja makan dan makan siang bersama.


“Gimana, Jun? Itu Mama yang potong kentangnya,” tanya Bu Maya penuh harap.


“Bagus bentuknya, Ma,” jawab Juno meringis, dia menatap pada Candra dan berbicara dengan tatapannya. ‘Mereka kenapa?’. Candra menipiskan bibirnya dan menggeleng.


“Kamu inget, kan? Bumbu yang tadi Mama kasih tau?” tanya Bu Felin pada Candra.


“Iya, Ma. Candra inget,” jawab Candra.


“Kalo lupa kamu bisa cari di internet,” kata Bu Maya.


“Bakal beda kalo resep dari internet. Mending langsung tanya Mama aja,” balas Bu Felin.


“Ahahaha, iya nanti Candra langsung tanya Mama. Resep kalian enak- enak kok. Resep di internet kalah.”


Bu Felin dan Bu Maya tersenyum puas dengan jawaban Candra. Sedangkan Juno hanya menggelengkan kepalanya, sekarang dia tahu penyebab tingkah sang Mama dan Mama mertuanya.

__ADS_1


...👠👠👠


...


__ADS_2