Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Planning


__ADS_3

Pagi ini Candra di antar Juno menuju studionya guna menyelesaikan sepasang pakaian milik Anton dan Lia. Candra membawa Mbul untuk menemaninya selama di studio nanti. Sesampainya di studio, Candra segera turun dari mobil pria itu. Namun Juno menahan Candra. Tentu hal itu membuat Candra mengernyitkan dahinya.


“Kenapa?” tanya Candra bingung.


“Lanjutin yang semalem,” jawab Juno.


“Lanjutin apa?”


“Ckck. Jangan pura- pura lupa, Yang.”


Candra mendengus. “Ya udah sini cepet.”


Juno pun menghadap pada Candra dengan senyum sumringah. Sementara Candra sedang mengatur napasnya.


CUP!


“Udah. Nanti aku kabarin lagi pas pulang,” ucap Candra buru- buru turun dari mobil Juno setelah tadi dia mencium kilat bibir pria itu.


Sementara Juno hanya bisa mendengus kesal. “Apaan tuh, nggak berasa.”


Juno segera pergi darisana karena hari sudah siang. Sedangkan Candra juga segera masuk ke dalam studionya.


Seharian ini Candra habiskan untuk membuat jas milik Anton yang tidak terlalu ribet. Sesekali matanya beralih pada Mbul yang bermain tidak jauh darinya. Wanita itu tersenyum melihat Mbul.


“Jangan- jangan nanti gue kayak gini kalo udah punya anak. Kerja sambil lihatin anaknya main,” gumam Candra terkekeh.


Ponsel Candra bergetar, ada sebuah chat masuk. Wanita itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melihat siapa yang mengirim chat.


“Aku kirim makan siang buat kamu. Maaf nggak bisa makan siang bareng, aku ada meeting nanti. Love you.”


Ternyata chat dari Juno. Setelah membalas chat itu, Candra pun kembali fokus pada mesin jahit dan kainnya. Namun tidak lama kemudian seseorang masuk ke studionya. Ternyata B-box mengantarkan makanan yang Juno kirim. Setelah kurir itu pergi, Candra pun melapor pada Juno. Dia mengirim gambar makanan itu pada Juno.


“Mungkin udah mulai meeting- nya,” gumam Candra. “Wih, ada makanan buat Mbul juga.”

__ADS_1


Akhirnya Candra pun makan siang bersama dengan Mbul. Sembari makan siang, Candra memutuskan untuk melakukan video call bersama dengan tiga temannya di Paris. Dia ingin tahu bagaimana kabar mereka.


Sambungan telepon terhubung dan wajah pertama yang muncul adalah Nisa yang terlalu dekat dengan kamera. Terdengar di sana suara Novi yang meminta Nisa untuk menjauhkan ponselnya agar wajahnya juga dapat masuk dalam frame kamera.


“Lagi makan lo?” tanya Novi yang matanya sangat jeli.


“Iya. Gue lagi makan siang. Oh ya, gimana kabar kalian?”


“Aman terkendali,” jawab Ifi.


“Lo balik kapan, Can?” tanya Nisa.


“Minggu depan kayaknya, temen gue ada yang nikah. Jadi mungkin gue balik lagi setelah acaranya selesai.”


“Ya udah nggak apa- apa. Lagian bulan ini kita agak santai, deadline udah terpenuhi semua,” ucap Novi.


“Kalau seandainya gue nggak balik lagi di Paris gimana?” tanya Candra tiba- tiba.


Kompak kernyitan dahi tiga orang di seberang sana muncul. “Maksud lo?” tanya Nisa.


“Hmm, gue sih nggak apa- apa. Itung- itung lo buka cabang di Jakarta, istilahnya gitu. Kita bisa kembangin di sana, walau gue sama yang lain nggak bisa full bantu lo,” kata Ifi.


“Iya, gue juga setuju sama ide Ifi. Pasaran di Indonesia juga lumayan,” tambah Novi.


“Gue juga setuju sama usul kalian,” ucap Nisa yang matanya sedang fokus pada layar ponsel.


“Dia kenapa?” tanya Candra.


“Balikan sama mantannya,” jawab Novi melirik pada Nisa yang mesem- mesem sendiri melihat ponselnya.


Candra mengakhiri percakapan bersama teman- temannya. Dia merasa lega mempunyai teman- teman yang pengertian seperti mereka, walau terkadang kelakuan mereka absurd. Namun Candra sangat bersyukur dipertemukan oleh tiga orang itu. Mereka bertiga berjuang bersama di negara orang yang sebelumnya sangat asing bagi empat perempuan itu.


Jatuh bangun merintis usaha mereka jalani bersama, hingga sekarang ini empat srikandi yang sudah sangat mendunia dalam dunia mode. Karya- karya mereka sudah sering dipamerkan dalam beberapa event besar. Kini di sini Candra akan berjuang lebih keras lagi, mengenalkan karya- karya mereka di tanah kelahiran sendiri.

__ADS_1


“Langkah pertama, gue harus urus dulu perizinannya,” gumam Candra.


Kemarin dia belum sempat mengurus karena Candra pikir dia hanya akan sementara membuka studio ini. Setelahnya Candra berniat hendak menjual studionya. Namun ternyata perkiraannya salah dan meleset jauh dari semua rencananya dulu.


...👠👠👠...


Candra meregangkan tangannya yang terasa sangat pegal. Hari sudah malam, tapi dia masih betah berada di sini. Masih mengerjakan jas milik Anton yang sebentar lagi akan selesai. Candra belum menghubungi Juno untuk menjemputnya. Sepertinya malam ini Candra akan lembur sampai larut. Setelah menyelesaikan jas, Candra akan segera beralih pada gaun milik Lia yang memang lebih rumit. Candra akan memberikan yang terbaik untuk teman- temannya, karena hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membalas budi.


“Sayang? Belum selesai?” sapa sebuah suara yang sangat familiar di telinga Candra.


Candra pun mendongak dan mendapati Juno sudah berdiri di hadapannya. Pria itu membawa kantong plastik berisi makanan untuk sang tunangan.


“Makan dulu, ya?” ajak Juno.


Candra mengangguk dan meninggalkan mesin jahitnya. Dia duduk berhadapan dengan Juno, sementara pria itu menata makanan di atas meja. Candra tersenyum melihat wajah Juno yang sangat serius menata makanan itu.


“Kenapa bengong? Ayo makan,” kata Juno menoleh pada Candra.


“Iya. Kamu baru selesai meeting?” tanya Candra mulai menyuap makanannya masuk ke dalam mulut. “Hmm, enak. Beli dimana?”


“Iya, begitu selesai aku langsung ke sini. Enak, ya? Tadi beli di deket kantor,” jawab Juno menyeka saos di ujung bibir Candra. “Pelan- pelan makannya, Yang,” peringat Juno.


Wanita itu hanya mengangguk, tapi Candra masih lahap menikmati makanannya. Juno hanya tersenyum melihat Candra. Pria itu menopang dagunya melihat Candra lahap makan. Juno seperti menemukan wanita langka yang tidak jaim jika berhadapan dengannya, sangat berbeda dengan wanita yang sering ditemuinya. Malah Juno akan merasa muak dengan wanita yang bersikap malu- malu kucing. Maka dari itu Juno tidak akan pernah melepaskan Candra sampai kapan pun. Dia merasa perlu melestarikan spesies langka semacam Candra.


“Oh, iya. Tadi aku video call sama temen…”


Candra mulai bercerita pada Juno. Menceritakan rencana- rencana yang sudah di susunnya sejak siang tadi. Sementara Juno mendengarkan dengan seksama dengan sesekali membersihkan mulut Candra dan meja yang terkena cipratan makanan. Wanita itu masih sangat bersemangat bercerita.


“Minum dulu,” sela Juno menyodorkan minuman pada Candra. Candra menurut dan menyedot minuman itu, lalu dia kembali melanjutkan lagi.


“Nanti aku pasti bantu kamu,” ucap Juno di akhir cerita Candra.


...🥊🥊🥊...

__ADS_1


Tertanda: Otor Cjakep ☺☺☺



__ADS_2