
Hari ini adalah hari keberangkatan Candra dan teman- temannya ke Paris. Setelah melalui peristiwa yang panjang dan melelahkan, akhirnya Candra harus kembali lagi pada rutinitasnya. Candra, Ifi, dan Nisa sudah berada di dalam pesawat. Sebenarnya Ifi sudah melarang Candra untuk ikut bersama mereka. Dia khawatir dengan keadaan Candra yang belum pulih.
Namun Candra tidak ingin melepas tanggung jawabnya, juga dia ingin datang ke acara pagelaran busana milik Novi. Lalu untuk sementara waktu Juno dan Candra akan berpisah. Setelah percakapan di taman malam itu, pria itu sebenarnya langsung ingin menikahi Candra dalam waktu dekat ini. Tapi Candra menolak, bukan tidak mau, tetapi memang masih banyak hal yang harus wanita itu selesaikan. Akhirnya dengan wajah cemberut, Juno mengalah. Namun sebagai gantinya, mereka akan bertunangan terlebih dulu.
“Aku kasih kamu waktu dua minggu lagi,” ucap Juno. “Kamu pulang ke Indonesia dan kita bertunangan,” lanjutnya.
“Tapi…”
“Oh jadi kamu nolak? Ya udah, besok kita langsung nikah,” potong Juno menatap tajam Candra.
PLAK!
Candra menampol punggung Juno dengan sekuat tenaga, membuat pria itu meringis merasakan panas di punggungnya.
“Lo ngelunjak, ya? Udah bagus gue mau nikahin lo!” bentak Candra dengan mata melotot.
“Ckck, aku cuma mau iket kamu. Kalo nggak gitu nanti kamu lari- lari lagi.”
Candra tersenyum mengingat percakapannya bersama Juno beberapa waktu yang lalu. Akhirnya Candra menyetujui pertunangan dilaksanakan dua minggu lagi.
Tiga perempuan itu keluar dari pesawat. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan, Candra memutuskan untuk langsung ke apartemennya. Mereka bertiga pun berpisah. Namun baru saja melangkah, suara ribut di belakang Candra membuatnya penasaran. Ia pun menoleh dan mendapati dua orang yang sepertinya sedang beradu mulut.
Candra mengernyit, di sana ada Nisa yang berdiri berhadapan dengan seorang pria. Ifi juga masih ada di sana, menjadi penonton dua orang yang sedang beradu mulut. Candra pun menghampiri mereka untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Nisa kenapa, Fi?” tanya Candra.
“Nggak tau gue. Tiba- tiba cowok itu nyegat Nisa.”
“Mau culik Nisa?” tanya Candra membulatkan matanya setelah pikiran itu terlintas di otaknya.
“Kayaknya nggak deh,” jawab Ifi masih memperhatikan kedua orang itu.
Tidak lama Nisa kembali dengan wajah ditekuk, tapi dia terkejut setelah melihat Candra juga ada di sana.
__ADS_1
“Kok lo balik lagi,Can?” tanya Nisa.
“Tadi itu siapa?” tanya Candra mengabaikan pertanyaan Nisa.
“Mantan gue. Maaf, Fi, gue nggak jadi pergi sama lo. Gue mau selesaiin masalah gue dulu.”
“Iya, nggak apa- apa. Kalo ada apa- apa telpon gue aja.”
Nisa pun pergi darisana bersama dengan pria yang kata Nisa tadi adalah mantannya. Sementara Candra dan Ifi masih memperhatikan dua orang itu hingga mereka menghilang berbaur dengan kerumunan orang- orang.
“Lo yakin kita nggak perlu ikutin Nisa?” tanya Candra khawatir.
“Udahlah si Nisa udah berumur, dia juga udah tau seluk beluk Paris. Lagian tadi lo denger sendiri dia bakal telepon kalo ada yang terjadi sama dia,” jawab Ifi.
“Ya, tapikan…”
“Sekarang mending lo balik, deh. Besok pagi lo ada janji, kan? Jangan sampai telat kalo nggak mau Novi ngamuk.”
Padahal baru beberapa bulan Candra meninggalkan kota ini, tapi rasa rindunya sudah sangat dalam. Beberapa menit kemudian Candra sudah sampai di apartemennya. Ia segera masuk ke dalam unit apartemennya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurnya.
“Jadi males ngapa- ngapain,” gumam Candra berguling- guling di tempat tidurnya.
“Oh iya, Juno.”
Teringat akan pria itu, membuat Candra langsung terbangun dari tidurannya. Dia segera mencari ponselnya yang sejak tadi masih dalam mode pesawat. Candra menonaktifkan mode itu. Setelahnya banyak sekali chat dan panggilan yang masuk ke ponselnya. Candra mendengus melihat notifikasinya hanya berisi chat dan panggilan tak terjawab dari Juno.
Namun tidak lama Candra di buat terkejut karena ponselnya kembali berdering. Di layar ponselnya tertera wajahnya juga nama Juno. Candra segera menekan layarnya untuk menjawab panggilan dari sang kekasih atau masih mantan? Jujur saja sampai detik ini Juno belum mengatakan apa status mereka. Namun pria itu malah sering menyebut jika Candra adalah calon istrinya.
“Halo?” sapa Candra menempelkan ponselnya di telinga kiri.
“Kok gelap? Kamu lagi dimana?” tanya Juno di seberang sana.
Candra mengernyit. Gelap? Candra pun menjauhkan ponselnya dan benar saja, ternyata mereka sedang melakukan panggilan video.
__ADS_1
‘Go*blok lo, Can,’ umpat Candra dalam hati.
“Sorry, aku nggak tau kalo kamu vidcall,” ucap Candra meringis menahan malu.
“Kamu baru sampai? Harusnya udah dari sejam yang lalu, kan?”
“Jalanan macet tadi. Terus aku lupa ganti mode setelah turun dari pesawat.”
Juno mengangguk- anggukkan kepalanya. “Aku udah rindu kamu. Gimana dong? Apa aku ke sana aja, ya?”
“Jangan ngadi- ngadi, Jun,” ucap Candra membulatkan matanya.
“Dua minggu itu lama banget,” gumam Juno mencebik kesal.
Sementara Candra hanya memutar bola matanya malas. Sepertinya memang bucin Juno sudah sangat akut.
Cukup lama Candra dan Juno melakukan panggilan video. Hingga tanpa sadar Candra tertidur karena kelelahan. Wanita itu bahkan belum berganti baju dan membersihkan diri. Sedangkan Juno tersenyum melihat wajah tertidur Candra dari layar ponselnya.
“Sebentar lagi tiap hari aku akan selalu lihat wajah itu dari dekat,” gumam Juno masih belum melepaskan pandangannya pada wajah Candra.
Namun kesenangan Juno tidak berlangsung lama. Tiba- tiba saja layar ponselnya menjadi gelap. Candra ternyata mengubah posisi tidurnya, ponselnya tidak sengaja terjatuh ke lantai.
“Sleep well, Dear,” ucap Juno sebelum memutus sambungan telepon.
Kurang lebih begitulah gambaran jika buaya sudah menemukan pawang yang cocok untuknya. Buaya itu akan selalu setia mengikuti kemana pun pawangnya pergi, dia tidak akan pernah melepasnya. Walau membutuhkan waktu yang sangat lama bagi Juno untuk membuktikan pada Candra bahwa dia benar- benar tulus mencintai wanita itu, Juno tidak pernah menyerah.
Memang awal mula hubungannya dengan Candra hanya sebuah permainan konyol remaja yang masih labil dan belum mengerti bagaimana cinta yang sesungguhnya. Namun siapa sangka jika permainan itu akhirnya benar- benar membuat Juno jatuh cinta dan Candra telah berhasil masuk ke dalam hatinya. Kisah keduanya tidak berakhir di sini, sebaliknya ini adalah awal kisah Candra dan Juno yang sesungguhnya.
...👠👠👠...
Tertanda: Otor Cangtip ☺☺☺
Oh ya, Ifi harap bersabar. Otornya lagi cariin jodoh buat Ifi, ngoghey?
__ADS_1