
Candra merasa risih diperhatikan oleh Juno sejak tadi. Kini mereka berada di kantin rumah sakit. Sejak semalam Candra belum makan apapun. Rasa laparnya hilang seketika begitu mendengar kabar sang Papa mengalami kecelakaan. Namun tadi Bu Maya menyuruhnya untuk makan dan hal itu dimanfaatkan oleh Juno untuk mencari muka pada calon mertuanya.
“Lo bisa berhenti lihatin gue nggak?” tanya Candra melotot, dia benar- benar sudah jengah.
“Aku mau puas- puasin lihat wajah kamu,” jawab Juno yang kini menopang dagunya dengan senyum mupeng yang membuat Candra bergidik ngeri.
“Ckck, kayaknya lo mau pergi.”
“Iya, besok aku mau pergi ke suatu tempat. Hmm, beberapa hari mungkin. Jadi aku mau puasin lihat wajah kamu dulu.”
Candra mengernyit mendengar ucapan Juno. “Nggak usah lebay, masih bisa video call.”
“Kamu susah dihubungi. Nomerku aja kemarin kamu blokir,” tutur Juno dengan wajah dibuat- buat sedih.
Candra hanya meringis mendengar fakta itu. Lagipula bukan salahnya dia memblokir nomor milik Juno saat itu. Pria itu sendiri yang selalu mengganggunya tiap saat.
“Mau pergi kemana emang?” tanya Candra kembali menyuap makanannya.
Juno tersenyum samar, Candra sudah sedikit berubah. Walau terdengar ketus, tapi sebenarnya wanita itu peduli padanya. Hal inilah yang paling dia rindukan dari sosok Candra. Dulu Candra- lah yang selalu peduli padanya.
“Ada kunjungan bisnis,” jawab Juno mengembangkan senyumannya. “Nanti setelah aku pulang, kamu siap- siap, ya?”
Candra mengernyitkan dahinya. “Siap- siap apa?”
“Siap- siap aku nikahi.” Senyum Juno makin lebar. Sementara Candra membulatkan matanya, benar- benar tidak menyangka dengan ucapan Juno yang ceplas- ceplos.
Setelah makan tadi, Juno langsung pamit untuk kembali ke kantornya. Beberapa menit setelah kepergian Juno, Pak Haris mulai buka suara. Beliau ingin membahas apa yang tadi Juno katakan pada mereka.
“Juno benar- benar mau menikahi kamu?” tanya Pak Haris.
“Candra nggak tau, Pa,” jawab Candra menunduk, tangannya memainkan seprai bed Pak Haris.
“Kok nggak tau?”
“Candra masih ragu.”
“Kenapa? Kamu udah nggak suka Juno lagi?” tanya Bu Maya.
Candra terdiam. Kini dia tidak bisa berbohong jika sudah berhasil move on. Nyatanya Candra belum benar- benar move on dari Juno. Juno merupakan cinta pertamanya dan sosok yang berhasil membuatnya benar- benar jatuh. Sampai sekarang, ia masih belum membuka hatinya untuk pria lain.
__ADS_1
Kepergian Candra ke Paris hanya sebagai pelarian agar dia bisa melupakan sosok Juno. Mencoba sekuat tenaga melepas bayang- bayang Juno dari hidupnya. Sepertinya memang nama Juno sudah sangat dalam terukir di hatinya. Ditambah takdir dari Tuhan yang mempertemukan Candra dengan Juno lagi. Jika sudah begini, haruskah Candra melawan takdir yang sudah Tuhan gariskan?
“Juno benar- benar tulus sama kamu, Can. Papa dan Mama merestui jika kalian akan menikah,” ucap Bu Maya.
“Tulus? Mama tau darimana?” tanya Candra terkekeh. Bagaimana tidak? Bu Maya baru beberapa kali bertemu dengan Juno. Jadi darimana beliau dapat menyimpulkan jika Juno benar- benar tulus padanya.
“Juno nitipin ini ke Mama,” ucap Bu Maya memperlihatkan sebuah kotak.
“Apa itu?”
Bu Maya membuka kotak itu yang ternyata berisi sebuah cincin emas dengan desain yang sangat indah dan tentu saja dengan harga selangit. Candra menganga melihat cincin itu. Pak Haris menggelengkan kepalanya. Seharusnya Bu Maya tidak memberitahukan perihal cincin itu pada Candra. Namun sudah terlanjur. Memang harusnya tadi Juno menitipkannya pada Pak Haris, bukan pada Bu Maya.
...👠👠👠...
Vina merebut gelas berisi minuman keras dari tangan Candra. Kini keduanya sedang berada di sebuah bar. Tadi Candra iseng menelpon Vina, meminta wanita itu untuk menemaninya malam ini. Tidak disangka Vina datang menghampirinya, dimana seharusnya wanita itu sedang honeymoon bersama dengan Dafa.
“Cukup minumnya. Sekarang lo cerita ke gue, lo kenapa?”
“Juno mau kawinin gue.”
PLAK!
“Kok lo nabok gue?” bentak Candra.
“Ya lo ngadi- ngadi. Emang lo hewan? Kawin- kawin. Eh? Tapi serius Juno mau nikahin lo?”
Candra hanya mengangguk. Sebenarnya Vina percaya saja jika Juno ingin menikahi Candra, dilihat dari bagaimana pria itu sangat bucin pada sahabatnya. Namun Vina ragu dengan Candra, sepertinya sahabatnya itu masih ragu dengan Juno.
“Lo terima?” tanya Vina.
“Hiks gue benci sama diri gue sendiri,” jawab Candra menangis. “Usaha gue selama ini sia- sia. Juno bener, gue belum bisa move on dari dia. Hiks, tapi gue takut.”
Vina berpindah tempat di sebelah Candra dan memeluk sahabatnya. Sebenarnya Vina hampir saja muntah mencium bau alkohol dari mulut Candra, tapi dia tetap mendekat demi sahabatnya.
“Kalo dia berani ngomong di depan orang tua lo. Berarti Juno memang serius,” ucap Vina.
Candra terdiam mendengar ucapan Vina. Wanita itu mencoba mencerna ucapan sang sahabat. Candra diam- diam membenarkan, tapi tetap saja ada rasa takut dalam dirinya. Dia takut jika nanti kembali tersakiti.
“Kenapa malah diem? Lo dengerin gue nggak?” tanya Vina melepas pelukannya dan menatap Candra heran.
__ADS_1
“Iya gue denger. Gue lagi cerna kata- kata lo tadi.”
“Kagak usah dicerna. Sekarang pulang deh. Laki gue nungguin di rumah.”
“Sorry, gue ganggu honeymoon kalian.”
Vina menjitak kepala Candra, membuat wanita itu menjerit kesakitan. “Sadar lo kalo ganggu? Makanya cepet ayo pulang.”
“Ckck, masih jam segini. Sejam lagi deh, pasti laki lo juga maklum. Lagian kalian mau apa sih?”
“Kagak usah belagak polos, Maemun.” Lagi- lagi tangan Vina aktif menjitak kepala Candra.
“Astagfirulah, KDRT!” pekik Candra memegangi kepalanya.
“Udah makin lancar aja. Tinggal syahadat lo,” ucap Vina. “Ikutin kata- kata gue, ya?”
“Bege, lo! Ayo dah pulang.” Candra misuh- misuh dan berdiri dari duduknya.
Sementara Vina hanya tersenyum, dia pun mengikuti langkah Candra yang sudah berjalan terlebih dulu.
“Ayo deh, lo mau kemana? Gue temenin,” ujar Vina memeluk lengan Candra.
“Beneran?” tanya Candra memastikan, matanya sudah berbinar menatap Vina. Vina memutar bola matanya malas dan mengangguk pasrah.
“Jangan ke tempat aneh- aneh tapi,” peringat Vina.
“Ckck, kagaklah.”
Candra dan Vina pun menuju ke suatu tempat. Vina tadi terpaksa menghubungi Dafa, memberitahu sang suami jika dia akan pulang terlambat. Candra tersenyum samar. Ya, skenario yang telah Tuhan buat pasti skenario terindah untuk umatnya. Kali ini Candra akan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan sangat sayang pada umatnya. Begitu yang sering Candra dengar ketika beribadah.
‘Ya, gue yakin Tuhan udah denger doa- doa gue selama ini. Semoga kisah gue berakhir bahagia,’ batin Candra mengembangkan senyumnya.
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otor Cangtip 👉😗
Ini Vina dan Mercy ☺☺☺
__ADS_1