
Candra dan Lia hari ini mengunjungi sebuah pusat kebugaran. Keduanya berencana hendak melakukan senam ibu hamil. Mengapa Lia juga ikut? Karena ternyata wanita itu juga sedang mengandung. Usia kandungan Lia dan Candra hanya selisih satu bulan. Tentu mengetahui hal itu Candra sangat senang, karena dua temannya hamil bersamaan. Bahkan Candra membayangkan ketika nanti anak- anak mereka juga dapat berteman bahkan bersahabat seperti orang tuanya.
“Udah siap, Can?” tanya Lia.
“Udah. Tadi harusnya lo nunggu aja di rumah. Biar gue yang jemput,” ucap Candra yang sedang mengunci pagar rumah.
“Lagian tempatnya juga lewatin rumah lo.”
“Terus si Gara sama siapa?” tanya Candra.
“Gara gue titipin di rumah Nyokap.”
Candra hanya mengangguk. Lalu keduanya pun masuk ke dalam B-car yang tadi mengantar Lia. Jarak tempat senam tidak terlalu jauh. Beberapa hari yang lalu Lia menyarankan tempat ini, karena dulu juga dia sudah pernah melakukan senam hamil di sini.
Beberapa menit kemudian, dua ibu hamil itu sampai. Di sana sudah ada beberapa ibu hamil yang sedang bersiap untuk melakukan senam hamil. Seorang instruktur senam juga sedang bersiap di sana.
“Pantes lo balik lagi. Instrukturnya modelan begitu,” ucap Candra melirik pada Lia.
“Sekalian cuci mata. Siapa tau nanti anak kita juga punya tampang kayak gitu.”
“Ngadi- ngadi lo. Mana bisa? Bapaknya siapa malah mirip siapa.”
Candra duduk di sebelah Lia. Matanya fokus mengikuti instruktur senam itu. Dia sudah bertekad mengikuti senam ini dengan bersungguh- sungguh.
“Ibu, buka lagi kakinya lebih lebar,” pinta instruktur itu mencoba membantu Candra.
“Modus, ya?” bisik Lia.
“Sembarangan!” ujar Candra melotot pada Lia.
“Nah, bagus. Tahan, ya. Oke, akan saya hitung sampai delapan. Tahan dalam posisi seperti itu.”
“Duh, perut gue mules,” gumam Lia.
PRETT!
Suara nyaring itu membuat beberapa orang menoleh pada Lia. Sementara Candra pura- pura tidak mengenal orang di sebelahnya itu, dia benar- benar malu.
“Nggak apa- apa, Bu. Malah bisa sampai kentut juga bagus,” puji instruktur senam itu dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Kurang lebih satu jam lamanya mereka melakukan gerakan senam. Keringat bercucuran di dahi Candra. Ternyata melakukan senam semacam ini juga menguras energinya. Candra pun memutuskan untuk berganti baju, dia merasa tidak nyaman karena bajunya basah. Setelah berganti baju, Candra menunggu Lia yang juga sedang ganti baju. Sembari menunggu, Candra memainkan ponselnya.
“Hmm. Minggu depan jadwal gue periksa ternyata,” gumam Candra setelah melihat jadwal di ponselnya. “Mas Juno bisa nganter nggak, ya?”
“Habis ini mau kemana?” tanya Lia.
“Cari makan yuk. Gue laper.”
“Mau makan dimana?”
“Terserah deh. Lo yang cari tempat makannya.”
“Ya udah ayo sambil jalan.”
Candra dan Lia pun berjalan keluar dari tempat itu. Namun langkah mereka terhenti ketika berpapasan dengan instruktur senam itu. Keduanya menyapa sebagai bentuk basa- basi.
“Terima kasih untuk hari ini. Sampai ketemu besok,” ucap Lia.
“Iya, sama- sama. Semoga besok gerakannya sudah nggak kaku lagi.”
Setelah bercakap- cakap sebentar dengan instruktur yang ternyata masih berusia tigapuluhan awal itu, Candra dan Lia pun segera menuju sebuah tempat makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
“Ternyata masih muda, ya?” tanya Candra kembali membahas instruktur tadi.
“Termasuk lo, kan?”
“Nggak juga. Gue nggak suka berondong.”
“Halah, gaya lo. Lo harus tutup mulut. Kalo sampai laki gue tau ternyata instrukturnya cowok, dia nggak bakal izinin gue ikut lagi.”
“Iye- iye. Lagian tuh laki lo bucin banget.”
“Namanya cinta tau. Dia begitu karena cinta sama gue,” jawab Candra percaya diri.
“Iyain aja dah.”
Selesai makan. Candra dan Lia berpisah. Candra ingin ke kantor Juno, sedangkan Lia hendak menjemput Gara di rumah orang tuanya. Candra sedang berada di perjalanan, dia sengaja tidak memberitahu pria itu. Namun dari informasi sekretaris Juno, pria itu saat ini berada di kantornya dan tidak ada jadwal keluar menemui klien.
“Tadi cuma ada Bu Nayla menyerahkan laporan keuangan ke ruang Pak Juno,” lapor sekretaris Juno melalui chat.
__ADS_1
Nayla memang kini bekerja di perusahaan Juno menjadi manajer keuangan. Perempuan itu hendak membayar janjinya. Juno memang meminta Nayla untuk bergabung bersama perusahaannya setelah perempuan itu menyelesaikan semua studinya.
“Makasih, Pak,” ucap Candra pada driver B-car.
Candra pun melangkah hendak ke ruangan Juno. Namun mendadak langkahnya berbelok menuju kantin. Wanita itu ingin makan salad yang ada di kantin. Akhirnya Candra pun membeli salad terlebih dulu sebelum menuju ruangan Juno.
“Bu, beli saladnya dua,” ucap Candra. “Oh, ya. Sama kopi satu, terus jus jeruk satu. Saya tunggu di sana, ya?”
Candra menunggu pesanan di salah satu kursi. Suasana kantin saat ini sedikit sepi, hanya beberapa orang saja berlalu- lalang. Beberapa saat kemudian pesanan Candra selesai, dia pun berniat hendak mengambilnya. Namun tiba- tiba tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang.
“Maaf, saya tidak sengaja. Bajunya kotor, ya? Mari saya bantu bersihkan,” ucap Candra panik dan ingin membantu, tapi tangannya malah ditepis orang itu.
“Nggak usah. Saya bisa bersihkan sendiri. Lagipula lebih kotor baju anda. Permisi.”
Candra menatap kepergian orang itu dengan dahi berkerut. Tiba- tiba seseorang mengagetkan Candra.
“Ini, Bu. Bersihkan bajunya. Sepertinya tadi karyawan baru, mungkin belum mengenal Ibu,” ucap orang itu memberikan beberapa lembar tisu untuk membersihkan baju Candra yang basah.
“Oh iya, terima kasih. Kalau begitu saya permisi.”
Candra pun membawa makanannya menuju ruang Juno. Bajunya masih terlihat basah dengan noda warna merah.
“Lho? Baju Bu Candra kenapa?” tanya sekretaris Juno.
“Ketumpahan minuman. Tapi nggak apa- apa kok. Pak Juno ada di ruangannya, kan?” jawab dan tanya Candra.
“Iya, Bu. Tapi…”
Candra tidak mendengarkan ucapan sekretaris Juno selanjutnya. Wanita itu pun berjalan menuju ruang kerja Juno. Diketuknya pintu yang tertutup rapat itu. Namun Candra mengernyit karena tidak mendengar suara Juno dari dalam. Candra kembali mengetuk pintu untuk yang kedua kali, sedikit lebih keras.
BRAKK!
Suara seperti benda jatuh itu mengangetkan Candra juga sekretaris Juno yang tiba- tiba sudah berdiri di belakangnya. Candra pun segera membuka pintu itu untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Namun spontan mata Candra membulat melihat pemandangan di depannya.
Tidak hanya Candra yang membulatkan matanya, sekretaris Juno yang ikut masuk juga membulatkan matanya. Di depan mereka terlihat seorang wanita dengan rok span di atas lutut menimpa tubuh Juno yang sedang duduk di kursinya. Tentu hal itu akan menimbulkan kesalahpahaman bagi yang melihatnya.
“Mas Juno!” bentak Candra dengan wajah sudah merah padam menahan amarah.
...👠👠👠...
__ADS_1
Tertanda: Otornya Ngantuk 😴😴😴