Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Anak Kedua


__ADS_3

Kini keluarga Juno dan Candra diliputi rasa bahagia juga rasa syukur pada Tuhan. Setelah penantian kurang lebih selama dua tahun setelah Aurel lahir, Candra kembali mengandung anak kedua mereka. Usia kandungan Candra sudah menginjak kurang lebih sembilan bulan dan sebentar lagi wanita itu akan melahirkan putri kedua mereka. Menurut perkiraan dari dokter kandungan Candra, wanita itu akan menjalani prosesi persalinan di akhir bulan ini. Pagi ini, Candra sedang menyiapkan sarapan untuk Juno juga Aurel. Rencananya, Aurel akan dititipkan untuk sementara waktu di rumah orang tua Juno. Bocah itu akan menginap di sana, sampai Candra melahirkan.


“Masak apa, Yang?” tanya Juno yang sudah rapi dan siap pergi ke kantor.


“Aku masak nasi go… Aduh…” Candra tidak melanjutkan perkataannya. Tiba- tiba saja perutnya terasa sangat mulas.


“Kenapa, Yang?” tanya Juno dengan ekspresi panik saat melihat istrinya yang meringis kesakitan.


“Perut aku sakit, Mas,” jawab Candra meringis, keringat dingin membasahi dahi wanita itu


“Lho? Kamu ngompol?”


Spontan Candra menatap kakinya, memang ada air yang mengalir membasahi kedua kakinya. Melihat hal itu membuat Candra panik.


“Air ketubannya pecah,” gumam Candra lirih.


Mendengar gumaman Candra itu menjadi alarm bagi Juno. Pria itu pun segera menyambar kunci mobilnya dan mencari keberadaan Aurel yang belum bangun dari tidurnya. Juno menggendong Aurel dan membawanya ke dalam mobil, mereka tidak mungkin meninggalkannya seorang diri di rumah. Setelah memasukkan bocah itu ke dalam mobil, Juno kembali menemui Candra yang masih meringis menahan sakit.


“Astaga, kamu berat banget,” ucap Juno ketika mencoba untuk menggendong Candra.


“Jalan aja kalo kamu nggak kuat,” kata Candra mendengus sebal.


Namun, Juno tidak menjawab. Pria itu masih berusaha menggendong sang istri dan setelah berhasil, dia dengan susah payah membawanya ke mobil. Mobil Juno berjalan menjauh dari rumah mereka menuju rumah sakit.


“Telpon Mama, Mas,” ucap Candra, suaranya makin terdengar lirih.


Juno mengangguk samar dan segera menghubungi orang tuanya untuk segera menyusul ke rumah sakit. Suasana jalanan yang mulai padat membuat Juno bertambah panik.


“Tahan, Yang. Sebentar lagi sampai.”

__ADS_1


Candra tidak menjawab, wanita itu masih merasa sangat kesakitan. Beberapa menit kemudian, setelah terjebak bersama ribuan kendaraan pengguna jalan, akhirnya Juno dapat bernapas lega. Mereka telah sampai di rumah sakit, Candra langsung dibawa masuk ke dalam UGD. Sementara Juno memparkirkan mobilnya terlebih dulu dan tidak lupa membawa Aurel yang masih nyenyak tidur selama perjalanan tadi.


Juno masih menunggu di luar. Dia tidak bisa masuk untuk menemani sang istri karena ada Aurel dan orang tuanya belum sampai. Tadi Juno sudah mengabari orang tua Candra juga. Sepertinya mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari.


“Pak?” gumam Aurel yang baru bangun dari tidurnya, bocah itu menatap sekelilingnya. Merasa asing dengan tempat ini.


“Udah bangun?” tanya Juno menatap wajah Aurel yang terlihat kebingungan.


“Bun… Bun…” Aurel menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Candra.


Tidak menemukan sang Bunda, ekspresi bocah itu mulai panik. Wajah Aurel sudah ditekuk dan sebentar lagi akan menangis.


“Bunda di dalam, Sayang. Sebentar, kok. Nggak akan lama, Aurel sama Ayah dulu, ya?” ucap Juno mencoba membujuk Aurel.


“Pak…” Aurel memanggil Juno dengan gelengan kepala, dia masih mencari- cari keberadaan Candra.


“Juno masih belum tau, Ma. Belum masuk ke dalam,” jawab Juno.


“Ya udah, sana kamu temenin Candra. Biar Aurel sama Mama,” kata Bu Felin.


Juno mengangguk dan memberikan Aurel untuk di gendong Bu Felin. Sementara pria itu langsung masuk ke dalam.


Juno memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan Candra. Bahkan dia bertanya pada seorang perawat yang kebetulan lewat di depannya. Perawat itu menujuk sebuah bed yang berada di dalam sebuah ruangan. Ruangan OK atau ruang tindakan, Juno pun segera melangkahkan kakinya menuju ruang itu. Baru saja kaki pria itu sampai, suara tangisan bayi terdengar di telinganya.


Mendengar tangisan bayi itu, batin Juno menangis. Sudah dua kali ini dirinya tidak dapat menemani sang istri berjuang melahirkan. Namun, Juno tetap masuk untuk melihat apa yang terjadi. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang dan tentunya Candra yang terlihat sangat lemas tertidur di atas brankar rumah sakit. Melihat kedatangan seseorang, membuat yang ada di sana serempak menatap ke arah Juno.


“Anda siapa?” tanya seorang bidan menghampiri Juno.


“Saya suaminya,” jawab Juno.

__ADS_1


“Ah, ya. Istrinya berhasil melahirkan dengan selamat dan bayinya juga sehat,” ucap bidan itu mempersilakan Juno untuk menghampiri Candra. “Istrinya udah melahirkan baru nongol, Pak,” gumam bidan itu lirih, hanya saja masih dapat terdengar oleh telinga Juno.


Juno yang mendengar hal itu menatap tajam pada bidan itu, sementara bidan tadi yang tidak menyangka Juno akan mendengarnya hanya meringis.


...👠👠👠...


Candra sudah dipindahkan di kamar rawat inap. Di sini semua anggota keluarganya berkumpul. Sementara Candra masih terlihat sangat lemas, matanya terpejam. Keadaan Candra tadi bisa dibilang gawat, karena air ketuban sudah pecah terlebih dulu. Beruntung wanita itu sangat kuat dan mampu bertahan hingga akhir. Aurel belum dipertemukan dengan Candra, mereka takut jika nantinya bocah itu akan menangis melihat keadaan bundanya yang seperti ini.


“Jun, anak kedua kalian Mama yang kasih nama, ya?” pinta Bu Maya penuh harap.


“Mama udah siapin nama?” tanya Juno mengernyitkan dahi.


“Udah dong, Mama udah siapin dari jauh- jauh hari,” jawab Bu Maya yang sangat semangat.


Mendengar jawaban sang mama, Candra membuka matanya. Dia juga penasaran dengan nama yang akan diberikan oleh Bu Maya. Sebenarnya tidak hanya Bu Maya, tapi juga Bu Felin dan Pak Haris yang masih tinggal di sana. Sementara Pak Dedi bersama dengan Aurel entah kemana, tadi beliau pamit hendak mengajak bocah itu jalan- jalan. Raut wajah penasaran dari orang- orang di dalam kamar rawat Candra ini membuat Bu Maya tersenyum misterius, sepertinya beliau juga sangat bangga dengan nama ciptaannya.


“Siapa namanya, Ma?” tanya Pak Haris yang juga penasaran, pasalnya sang istri tidak pernah berdiskusi dengannya perihal nama untuk cucu keduanya itu.


“Andini Delma Levin. Itu nama dari Mama, nanti panggilannya Andin,” jawab Bu Maya tersenyum sumringah.


“Bagus namanya,” ucap Bu Felin mengangguk setuju.


Sementara Candra menatap datar pada sang Mama. Dia bukannya tidak tahu maksud dan tujuan Bu Maya memberi nama itu.


“Bagus dong, semoga nanti Andin bisa tumbuh menjadi anak yang cantik dan baik seperti Mbak Andin istrinya Mas Al,” ujar Bu Maya masih mempertahankan senyumannya.


...🥊🥊🥊...


__ADS_1


__ADS_2