
Sari menghentikan langkah Juno yang hendak masuk ke dalam ruang kerja. Juno mengernyitkan dahi menatap sekretarisnya itu. Setelah memecat Bella kemarin, perempuan itu benar- benar tidak menampakkan batang hidungnya.
“Ada apa?” tanya Juno.
“Ada Pak Firman di ruang Pak Juno,” jawab Sari.
Juno tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Benar apa kata Sari tadi, di dalam ruangannya sudah ada Pak Firman yang sedang memperhatikan foto di dinding ruang kerja Juno.
“Ada perlu apa Pak Firman ada di sini?” tanya Juno.
Pak Firman terkejut, pria paruh baya itu berbalik dan menatap Juno. Mata Juno membulat melihat Pak Firman membungkuk padanya.
“Maaf atas semua kesalahan putri saya. Jujur, saya sangat malu untuk menemui Pak Juno. Namun walau bagaimana pun Bella salah dan sudah sepatutnya saya meminta maaf.”
“Yang seharusnya minta maaf bukan Bapak. Tapi tidak apa- apa, masalah kemarin sudah saya lupakan. Anggap saya tidak pernah mengalaminya dan tidak pernah mengenal kalian,” ucap Juno tatapannya menghunus tajam.
“Ah, begitu? Lalu bagaimana dengan kerjasama kita? Bukankah kita sudah sepakat?”
Juno menggeleng. “Keputusan saya sudah sangat bulat, saya akan membatalkannya. Permisi, saya harus menghadiri rapat lima menit lagi.”
Juno hanya melihat Pak Firman keluar dari ruangannya dengan bahu merosot, tidak seperti biasanya. Pak Firman terlihat sangat menyesal. Juno menghembuskan napasnya, dia tidak mau terlalu memikirkan hal tidak penting dan akan membuang waktunya yang berharga. Pria itu pun mempersiapkan berkas yang dibutuhkan untuk meeting pagi ini.
TING!
“Mas, nanti aku beliin salad buah di kantin kantor, ya?”
Juno menyunggingkan senyumnya setelah membaca chat dari Candra itu. Pria itu membalas chat Candra dan segera meminta Sari untuk memesankan salad buah itu terlebih dulu. Kini Juno berjalan menuju ruang meeting, di sana sudah ada beberapa orang termasuk Nayla.
“Selamat pagi, bisa kita mulai meeting pagi ini?” ucap Juno.
...👠👠👠...
Sementara itu, di studio Candra. Wanita itu sedang sibuk dengan kertas- kertas berisi desain pakaian. Sebenarnya Juno sudah melarang Candra pergi ke studio dan memintanya agar tetap di rumah, tapi wanita itu tidak mau menurut. Candra merasa bosan berada di rumah sendiri, jadi untuk mengatasi rasa bosannya dia akan pergi ke studionya bertemu dengan karyawannya.
Memang saat ini tidak terlalu sibuk, juga tidak ada show dalam waktu dekat ini. Candra sudah dibantu oleh teman- temannya di Paris, jadi dia bisa sedikit lebih santai. Dari sini Candra hanya akan mengirim hasil desain kepada teman- temannya.
__ADS_1
“Bu, sudah waktu makan siang. Kami izin keluar untuk makan siang dulu,” ucap salah seorang karyawan Candra meminta izin.
Candra mendongak melihat karyawannya itu. “Oh udah waktunya, ya? Iya, kalian boleh keluar dulu.”
“Bu Candra mau titip sesuatu?”
“Nggak, nanti suami saya ke sini.”
“Ah, baik, Bu. Kalau begitu kami pergi dulu.”
Candra tersenyum dan mengangguk. Setelah kepergian para karyawannya itu, Candra kembali melanjutkan aktivitasnya. Tangan wanita itu menari- nari di atas kertas, Candra sedang menyelesaikan sebuah desain gaun.
Candra masih asyik dengan dunianya hingga tidak sadar Juno sudah berdiri di depannya. Sedangkan Juno tidak berniat mengganggu istrinya yang sedang benar- benar fokus, pria itu malah asyik menikmati wajah cantik Candra. Hingga sebuah suara membuat tawa Juno pecah seketika. Suara yang berasal dari perut Candra.
“Astaga, kaget! Sejak kapan kamu di situ?” tanya Candra membulatkan matanya menatap Juno.
“Udah daritadi. Kamu udah laper, ya?” jawab dan tanya Juno.
Candra mengangguk, dia pun meletakkan alat tulisnya. Juno sudah menyiapkan meja dan di atasnya sudah ada makan siang mereka. Mata Candra berbinar melihat bungkusan salad buah yang tadi dipesannya.
“Makan ini dulu,” ucap Juno, tangannya segera menjauhkan salad buah itu dari jangkauan Candra.
“Tadi Pak Firman datang ke kantor,” kata Juno.
“Hmm? Ngapain?”
Akhirnya Juno pun menceritakan tujuan Pak Firman menemuinya tadi. Candra mendengarkan cerita Juno sembari sibuk mengunyah makanannya. Sebenarnya dia tidak benar- benar bisa mendengarkan Juno, karena Candra benar- benar fokus pada makanannya.
“Kamu dengerin aku nggak, sih?” tanya Juno dongkol.
“Denger kok,” jawab Candra dan kembali menyuap sesendok penuh nasi beserta lauk.
Juno mendengus, dia pun kembali melanjutkan makannya dengan sesekali memperhatikan Candra. Beberapa kali tangannya pun membersihkan noda makanan yang ada di sudut bibir istrinya itu. Sepertinya memang Candra sengaja makan berantakan seperti itu.
“Padahal istri Pak Firman baik lho. Kenapa bisa anaknya jadi kayak gitu?” tanya Candra.
__ADS_1
“Entahlah, aku juga nggak tau,” jawab Juno mengedikkan bahunya. “Kok kerupuknya nggak kamu makan?” tanya Juno melihat bungkusan kerupuk di meja.
“Nanti mau aku makan bareng salad buahnya,” jawab Candra santai.
“Hmm, terserah kamu aja. Oh ya, tadi Bella nggak datang ke sini, kan?”
“Nggak, buat apa dia datang ke sini?”
“Bisa jadi dia nekat datang ke sini. Kalau sampai itu terjadi kamu telepon aku atau Yayan.”
“Iya, tenang aja. Lagian kalau sampai dia datang ke sini, di sini ada karyawan aku. Juga ada banyak gunting,” jawab Candra melirik pada gunting di atas meja.
“Ah iya, pasti aman kamu di sini.”
Setelah menghabiskan makan siangnya, Candra beralih pada salad buahnya. Juno masih setia menemani Candra di studionya. Para karyawan Candra pun belum kembali dari makan siang, sebenarnya mereka sengaja berlama- lama jika tahu Juno akan datang ke studio. Juno berjengkit kaget saat tiba- tiba saja Candra menyentuh perutnya.
“Kenapa?” tanya Juno.
“Kok perut kamu gendut?” tanya Candra balik, tangannya masih mencubit- cubit perut Juno yang memang agak membuncit.
“Akhir- akhir ini aku nggak sempet olahraga. Lagipula siapa yang suka paksa aku makan makanan yang nggak kamu habisin?”
Candra hanya meringis mendengar ucapan Juno, dia membenarkan apa yang pria itu katakan. Memang tugas Juno akhir- akhir ini adalah menghabiskan makanannya. Namun Candra tidak menyangka jika efeknya akan seperti ini.
“Kamu olahraga lagi, gih. Nge- gym lagi, terus buat **A**BS. Jelek kalo gendut gini,” ucap Candra meledek, tangannya masih menekan- nekan perut Juno.
Juno mendengus. “Iya, hari Minggu besok aku bakal nge- gym. Terus mau lanjut latihan juga.”
“Aku ikut!” Sorak Candra dengan mata berbinar.
“Kalo kamu ikut, aku nggak bisa konsentrasi olahraga,” ujar Juno.
Candra mengerucutkan bibirnya. “Lagian siapa yang mau culik bumil gini?”
“Banyak! Banyak buaya diluar sana yang mau culik kamu. Kamu nggak sadar kalo kamu malah gemesin. Bulet gini kayak bola,” kata Juno, tangannya menangkup wajah Candra.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...