Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Berita Duka


__ADS_3

Semenjak pertengkaran semalam, Candra dan Bu Maya masih belum berbaikan. Namun walau begitu, pagi- pagi sekali Candra tetap membantu Mamanya memasak untuk sarapan mereka. Kali ini suasana dapur sangat hening, keduanya belum membuka suara sedikit pun. Sebenarnya Candra heran dengan Bu Maya yang sangat tergila- gila dengan sinetron itu.


“Mana, biar Candra yang goreng,” ucap Candra mengambil alih daging ayam yang hendak di goreng.


Bu Maya tidak menjawab, tapi beliau memberikan wadah berisi ayam yang sudah dibumbui oleh rempah- rempah racikan Bu Maya sendiri.


Sementara itu Bu Maya mulai memasak sayur. Candra menyalakan kompor dan menuang minyak goreng di dalam wajan yang sudah cukup panas itu, kini dia tinggal menunggu minyak itu panas.


“Mama masih marah?” tanya Candra, dia juga sebenarnya tidak betah berlama- lama mogok bicara dengan sang Mama.


Namun Bu Maya hanya diam saja membuat Candra menghembuskan napasnya. Melihat minyak yang sudah panas, Candra pun memasukkan potongan ayam itu ke dalam minyak panas.


“Nanti Candra temenin nonton Ikatan Cinta deh,” kata Candra lagi.


Bu Maya melirik pada putrinya. “Itu apinya gedein sedikit, biar ayamnya bisa garing.”


Candra mengulum senyumnya mendengar Bu Maya berkata demikian. Artinya Mamanya itu sudah tidak marah padanya lagi. Candra pun menurut dan membesarkan apinya, lalu dia menunggu hingga ayam itu matang kecoklatan.


“Papa belum bangun?” tanya Candra.


“Belum, semalam begadang nonton bola kayaknya,” jawab Bu Maya, tangannya sibuk mengaduk sayur lodeh yang sebentar lagi matang.


Candra hanya mengangguk dan kembali fokus pada masakannya. Beberapa menit kemudian, masakan Candra dan Bu Maya matang. Candra membantu Bu Maya menata masakan itu di atas meja makan.


“Kamu sarapan dulu, Mama mau bangunin Papa,” ucap Bu Maya dan melangkah menuju ruang keluarga.

__ADS_1


Tanpa babibu lagi, Candra segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk yang baru matang itu. Wanita itu sangat menikmati masakan Bu Maya, sudah sangat lama Candra tidak makan masakan sang Mama. Dia rindu rasa masakan Bu Maya. Tidak lama kemudian, Pak Haris dan Bu Maya ikut bergabung di meja makan. Mereka pun sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan dan Candra mencuci peralatan masak beserta peralatan makan, dia kini sedang bersantai di ruang keluarga dengan televisi yang menyala. Pagi tadi Juno belum menelponnya, entah pria itu sudah bangun atau belum. Namun setelah melihat jam di dinding, Candra yakin jika suaminya itu sudah memulai aktivitasnya.


“Paling udah dibangunin si Yayan,” gumam Candra, tangannya meraih remot televisi dan mencari- cari channel acara yang bagus.


Kebanyakan acara pada jam sekarang adalah berita pagi, hampir semua channel televisi menyiarkan berita. Namun tangan Candra berhenti di sebuah channel yang sedang memberitakan korban bunuh diri. Mata Candra membulat begitu membaca nama korban itu juga alamat tempat tinggal beserta riwayat dari korban itu. Seketika tangan Candra gemetar memegang remot televisi, tidak menyangka dengan berita itu.


“Kamu kenapa, Can?” tanya Bu Maya yang melihat putrinya diam mematung dengan mata fokus pada layar televisi.


“Ma, Be… Bella bunuh diri,” jawab Candra terbata, kini dia menatap Bu Maya yang sedang mengernyitkan dahi.


“Bella? Dia siapa? Teman kamu?”


Candra menggelengkan kepalanya, lalu tangannya meraih ponsel. Ia hendak menanyakan kebenaran berita itu dalam hati Candra berdoa jika semoga berita itu tidak benar. Memang setelah insiden itu sudah tidak ada lagi kabar tentang Bella. Perempuan itu bak di telan bumi, tiba- tiba saja menghilang tanpa kabar. Sebelumnya Candra berpikir jika Bella memang sudah menyerah mengejar- ngejar Juno. Namun setelah melihat berita tadi, Candra menjadi ragu. Walaupun dia masih belum tahu penyebab Bella bisa berbuat nekat seperti itu.


Di sinilah Candra sekarang, rumah yang beberapa waktu lalu pernah Candra kunjungi. Kini rumah itu ramai dikunjungi oleh orang- orang berpakaian serba hitam. Berita tentang Bella ternyata benar, Sari juga sudah mengetahui hal itu. Bahkan Juno juga tahu hal itu, pria itu mengaku jika dia sempat di chat oleh Bella sehari sebelum perempuan itu berbuat nekat.


“Nanti aku ceritakan, Yang. Aku nggak mau kamu jadi terbebani.” Tulis Juno melalui chat pagi tadi.


Candra dan Bu Maya berjalan masuk ke dalam rumah. Di dalam sana ada istri Pak Firman dan beberapa saudara Bella, lalu di tengah- tengah mereka terbaring jasad Bella yang sudah terbujur kaku tertutup kain batik. Pak Firman menolak untuk dilakukan outopsi kepada jasad putrinya. Candra menyentuh bahu istri Pak Firman pelan, beliau menangis tersedu- sedu.


“Saya turut berduka, Bu,” ucap Candra.


“Terima kasih. Maafkan perbuatan Bella selama ini, semua ini salah saya dan suami saya. Harusnya kami tidak terlalu mengekang Bella. Akibatnya Bella menjadi tak terkendali dan suka berbuat nekat.”

__ADS_1


“Iya, saya dengar Bella sempat kabur dari rumah dan akhirnya menjadi sekretaris suami saya.”


“Benar dan saya tidak pernah melihat Bella benar- benar depresi setelah Pak Juno menolaknya. Memang setelah kejadian itu suami saya mengurung dia di dalam kamarnya sebagai bentuk hukuman, walau begitu dia tetap mencoba untuk kabur dari rumah ini…”


“Lalu… lalu kemarin saya menemukan Bella sudah gantung diri di dalam kamarnya,” jelas istri Pak Firman, tangisnya kembali pecah.


Candra mencoba menenangkan istri Pak Firman. Berkali- kali istri Pak Firman memintanya agar Candra memaafkan semua kesalahan Bella. Candra memang sudah memaafkan perempuan itu sejak lama, juga kejadian itu sudah berlalu baginya. Dia bukan tipe wanita pendendam.


“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Bu Maya berbisik pada Candra.


“Iya, Ma. Sebentar Candra pamitan sama istri Pak Firman dulu.”


Bu Maya hanya mengangguk, beliau menunggu Candra yang masih berbincang dengan istri Pak Firman. Sebenarnya Bu Maya masih belum paham siapa itu Bella dan apa hubungannya dengan Candra.


“Ayo, Ma,” ajak Candra setelah selesai berbincang dengan istri Pak Firman untuk berpamitan pulang.


Jenazah Bella sudah berangkat menuju pemakaman sejak beberapa menit yang lalu. Istri Pak Firman tidak ikut mengantar jenazah sang putri ke pemakaman. Tadi ketika hendak berangkat, tiba- tiba saja istri Pak Firman jatuh pingsan. Beliau masih merasa sangat bersalah kepada mendiang putrinya itu.


“Jadi Bella itu siapa?” tanya Bu Maya yang masih penasaran, tadi beliau hanya menurut ketika diajak Candra datang kemari.


“Mantan sekretarisnya Mas Juno,” jawab Candra.


Bu Maya hanya mengangguk paham, lalu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Candra juga sengaja tidak menceritakan hubungan mereka secara detail. Kini yang mengganggu pikiran Candra adalah, apa isi chat Bella yang dikirimkan pada Juno?


...🥊🥊🥊...

__ADS_1



__ADS_2