
"Kenapa berhenti?" Tanya Lucas pada Darren yang terlihat menghentikan langkahnya, ketika hendak menuju ke arah mobilnya.
"Ah, itu.. tadi aku seperti melihat orang yang familiar masuk ke restauran ini?" Jawab Darren sedikit tak yakin.
"Siapa? Apa aku juga kenal dia?" Tanya Lucas penasaran.
"Ah, lupakan. Aku juga gak yakin itu dia. Kita pulang saja lha." Ucap Darren yang memilih menghiraukanya.
"Ok." Lucas pun tak memperdebatkan hal itu lagi, dan memilih menyusul Darren yang telah berjalan terlebih dahulu.
Keduanya memilih menjauh dari restauran, tempat acara makan malam mereka yang sempat berantakan karena Darren yang memilih keluar.
"Eh, tumben banget Laura gak menghampirimu, ya? Apa dia sudah menyerah sekarang?" Ucap Lucas disela perjalanan menuju ke arah mobil tempat mereka terparkir.
"Baguslah, aku malah senang mendengarnya." Cuek Darren.
"Yah.. tapi, kayanya itu masih jauh dari harapanmu deh." Tiba-tiba Lucas berhenti karena melihat seseorang yang tengah berjalan ke arahnya dan Darren.
"Maksudnya?" Darren menoleh ke arah Lucas dengan ekspresi bingung.
"Tuh, lihat! Dia lagi datang menghampiri kita." Sambung Lucas sembari mengarahkan pandangannya ke arah depan pada Darren.
Laura, dengan ekspresinya yang terlihat menahan kesal, berjalan dengan langkah cepat menghampiri Darren dan Lucas yang hendak pergi.
"Ah.., sepertinya ini memang hari yang sial, ya?" Gumam Darren begitu melihat wajah Laura. Terlihat ekspresinya yang begitu enggan dan tak suka.
"Kita pergi sajalah. Aku males ketemu sama dia!" Ujarnya memilih melanjutkan jalannya.
"Serius? Yasudah, aku sih oke aja." Balas Lucas yang juga ikut pergi.
"Kalian kan, sudah melihatku, kenapa malah pergi?" Cegat Laura ketika melihat Darren dan Lucas yang justru malah menjauh darinya.
__ADS_1
"Aku gak lihat, tuh." Jawab Darren dengan ekspresi tenang, dan Lucas yang berada disampingnya hanya bisa menganguk kecil.
Laura tersenyum tak percaya mendengar jawaban Darren. "Kita perlu bicara." Ucapnya kemudian pada Darren.
"Yaudah bicara aja." Balas Darren singkat.
"Tapi, aku maunya kita bicara berdua." Tegas Laura.
Lucas yang merasa ada di tengah-tengah keduanya, hanya bisa berekspresi tenang sembari mencoba untuk tersenyum, karena dia yang lagi-lagi berada dalam situasi yang tak menguntungkan baginya.
"Aku gak mau, kalau ingin bicara, silahkan bicara sekarang." Ujar Darren yang tak ingin berduaan dengan Laura.
"Aku mau bicara soal hubungan kita, bagaimana bisa kita bicara disini!" Kekeh Laura mencoba meyakinkan Darren.
Darren menyeringai tak percaya, "Kita tidak pernah ada hubungan, apanya yang perlu dibahas?" Ucapnya menatap dingin Laura.
Laura memasang wajah marah dan juga kesal, ia hanya bisa mengepalkan tanganya untuk meredam emosinya.
"Wah, dia keras kepala juga, ya ternyata?" Kata Lucas seolah tak habis fikir dengan sikap Laura yang keras kepala.
Darren hanya bisa mendecak tak percaya pada kegigihan Laura dalam mempertahankan hubungan denganya.
"Muka badak." Gumam Darren medeskripsikan seorang Laura. Ia dan Lucas, kini memilih pergi dan mengacuhkan segala hal dari ancaman Laura sebelumnya.
...
Namun, tanpa ia sadari dan bayangkan. Hal yang sangat ia tolak dengan keras itu, ternyata begitu melukai harga diri dari keluarga Laura. Hingga membuat mereka menahan amarah dan rasa kesalnya pada sikap Darren.
Karena hal itu, mereka bahkan secara sepihak memikirkan untuk mempublikasikan berita pernikahan antara Laura dan Darren secara langsung tanpa persetujuan keluarga Darren terlebih dahulu.
"Apa ini benar? Bagaimana kalau nanti keluarga mereka marah?" Ucap papa Laura sedikit khawatir dengan usulan dari istrinya.
__ADS_1
"Duh, mau gimana lagi. Habisnya aku kesal banget sama mereka." Jawab mama Laura dengan memasang wajah kesal.
"Nanti kita tinggal bilang saja tidak tau seperti sebelumnya, lagian pernikahan keduanya juga akan tetap dilaksanakan." Ucap mama Laura.
"Tapi, apa kamu yakin soal itu? Kita kan belum mendapatkan jawaban pastinya?" Ujar papa Laura mencoba mencari kepastian dari istrinya.
"Aku yakin, karena ini kan berita dari orang dalamnya langsung. Jadi, gak mungkin ini salah, kan?." Mama Laura terlihat yakin dengan argumenya.
"Yasudah kalau kamu bilang begitu." Papa Laura terlihat manut pada istrinya, dan tak lagi mendebat pada hal yang membuatnya sempat khawatir.
Meski mulutnya berbicara yakin, namun tak bisa dipungkiri bahwa raut wajah dari mama Laura juga menampilkan rasa ke khawatiran, karena jika itu batal dilaksanakan akan membuat malu tersendiri bagi keluarganya. Yang lebih seriusnya lagi akan melukai hati anaknya, Laura.
"Aku bisa mempercayai ucapanya, kan?" Gumamnya.
Sepertinya fikiran mereka sama, mengingat apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuannya, itu juga yang dipikirkan oleh Laura saat ini.
"Aku gak akan melupakan penghinaan ini."Gerutunya kesal mengingat pertemuannya bersama Darren tadi.
"Aku harus bilang sama mama dan papa soal ini." Ucapnya lagi yang tak berhenti menahan kesal.
...
Di samping itu, Darren yang kini dalam perjalanan pulangnya bersama Lucas, terlihat menampakkan ekspresi kelelahan, ia bahkan tak berhenti mengehala nafas karena merasa sesak dan suntuk.
"Kenapa, sih! Menghela nafas mulu!" Ucap Lucas melihat ekspresi Darren yang tak semangat.
"Masih nanya soal itu?" Jawab Darren sembari memberikan tatapan dingin terhadap Lucas.
"Santai dong, ini kan perintah dari papa dan juga kakekmu, aku mana punya kuasa buat menolak mereka." Dengan sedikit mengangkat bahunya, Lucas menjawabnya dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"Sialan, gak ada rasa empatinya sama sekali, nih orang." Kesal Darren.
__ADS_1
"Peace" Senyum Lucas setelah mendapat tatapan tajam dari Darren.